Thursday, 28 July 2011

Asyiknya Berbisnis Online

Beberapa hari ini aku disibukkan dengan bisnis baruku, bisnis online.
Bisnis yang pada awalnya kulakukan sambil lalu, untuk mengisi kesibukan saat malam tiba dan aku sulit tidur. Tapi Alhamdulillah, sekarang perkembangannya semakin memuaskan. Satu per satu pesanan mulai mengalir, bahkan dari orang-orang yang belum mengenalku secara langsung. Terima kasih ya Allah, Kau buat mereka percaya padaku...

Bisnis online sangat cocok buat ibu-ibu rumah tangga. Yap, karena tak terikat tempat, waktu, bahkan bisa dilakukan sambil mengasuh anak-anak. Modalnya pun tak terlalu besar. Hanya komputer atau laptop plus sambungan internet. Untuk barang-barang yang dijual kita bisa bekerja sama dengan orang lain yang punya modal, kita tinggal menjualkan dengan meng-upload gambarnya ke internet, dan saat barang itu laku kita dapat komisi. Gampang kaaan?

Dibandingkan bisnis offline, bisnis ini menghemat banyak energi kita. Masih kuingat saat aku masih berjualan aneka camilan, bahkan nasi bungkus di kantor. Aku harus kulakan di pagi buta, membungkusnya sendiri (belum resiko direcoki anak-anak), dan menitipkannya dari warung ke warung. Kuhitung, saat itu ada 100 warung langgananku yang kutitipi camilan. Kebayang kan betapa ‘gempor’ kakiku berkeliling Jogja? Hasilnya lumayan sih, tapi capeknya minta ampuuun... Di samping bisnis online, aku juga asyik kirim tulisan ke majalah-majalah. Yah, itung-itung mengeluarkan beban pikiran agar bisa tersalurkan. Selain itu, pengen dakwah juga kecil-kecilan. Kalau banyak yang baca hasil karyaku dan kemudian terinspirasi, aku berharap dapat kucuran pahala dari Allah. Dan dapat tambahan uang belanja pula :)

Masih kuingat beberapa hari yang lalu, saat aku terkantuk-kantuk menemani anak-anak nonton kartun. Tiba-tiba dapat telpon dari Jakarta. Kaget juga, karena tak ada saudaraku yang tinggal disana. Ternyata dari redaksi majalah UMMI yang memberitahu tulisanku bakal dimuat. Horeee...hilang deh kantuknya, langsung ngacir ke kamar, nyalain laptop dan siap bikin tulisan lagi. Hihi...

Seperti bisnis online lainnya, menulis pun bisa kita lakukan tanpa mengganggu tugas-tugas domestik rumah tangga. Toh kita bisa melakukannya kapan saja, saat anak-anak sudah tidur, saat rehat di kantor, saat menemani anak-anak main, bahkan saat kita baru bangun tidur dan tiba-tiba ada ide yang nyangkut, kita bisa langsung menuliskannya. Sumber tulisan pun banyak sekali di sekitar kita. Kalau aku sih dari celetukan-celetukan anakku, protes mereka saat aku berbuat salah, atau saat mereka berebut dan berkelahi pun bisa jadi ide tulisan yang menarik. Atau saat kita ngobrol dengan teman-teman, coba kita tuliskan apa yang sudah kita bicarakan seharian, pasti deh langsung dapat berlembar-lembar halaman folio :)

Berita-berita di koran, majalah, TV, juga bisa menjadi sumber ide yang tak ada habisnya. Yang pasti, asal kita mau jeli melihat peluang, sebenarnya ide bertebaran dimana-mana. Kita tinggal mengolahnya dengan sedikit imajinasi, dibumbui sedikit nasehat dari oom Google, dan menyusun kata demi kata menjadi rangkaian kalimat yang menarik, jadilah sebuah tulisan yang bisa disulap menjadi uang^^

So, berbisnis online...siapa takut?!

Sunday, 12 June 2011

Berdamai Dengan Kesulitan

Penuh semangat kukerjakan tugas-tugas rumah tangga yang beberapa bulan ini jarang kusentuh. Ya, biasanya ada asisten rumah tangga yang melakukannya untukku. Tapi sejak ia resign sebulan yang lalu, mau tak mau aku harus mengerjakan tugas-tugas domestik itu sendiri. Mencuci baju, piring-piring kotor, mengepel lantai, setrika, hingga memasak semua kulakukan tanpa keluhan. Mengapa mesti mengeluh jika membuatku tak ikhlas menjalani semua tugas itu. Dan ujung-ujungnya, anak-anak dan suami yang menjadi korban akibat kelelahanku, di samping usahaku yang sia-sia karena tak mendapat ‘imbalan’ dari-Nya.

Saat berinteraksi dengan anak-anak pun aku mencoba menerapkan strategi yang sama, berdamai dengan sepak terjang mereka. Mencoba mengambil sisi positif atas segala kelakuan mereka membuatku lebih nyaman menjalani hari-hariku sebagai ibu.
“Maaf Ummi, aku tak sengaja menumpahkan susunya...” takut-takut si kecil bicara kepadaku.
“Tak apa...,ambil lap saja, dibersihkan sendiri ya”
Si kecil pun dengan wajah ceria mengambil kain pel dan mengelap susunya yang tumpah.
Atau ketika sang kakak tak sengaja merusakkan mainannya.
“Sudahlah, tak usah disesali. Memang sudah waktunya mainan itu rusak. Besok kalau ada rejeki, kita beli lagi ya?”
Ah, ternyata lebih nikmat menjalani hari bersama anak-anak tanpa disusupi rasa marah.

Pun saat aku harus ‘bersitegang’ dengan suamiku saat kami tak seide menghadapi suatu masalah, aku lebih suka menuruti kemauannya asal tak kehilangan senyumnya yang lebih menentramkan hatiku. Hidup terasa lebih nyaman saat kita mampu menciptakan kebahagiaan orang lain dan berdamai dengan ego kita sendiri.

Dalam berinteraksi dengan orang lain pun, lebih mudah bagi kita memaksakan diri untuk menyesuaikan diri dengan karakter mereka daripada memohon mereka untuk memahami keinginan kita. Menjadi pendengar yang baik saat teman kita punya masalah, menawarkan bantuan saat orang lain butuh pertolongan, atau senantiasa menunjukkan wajah yang ramah dan bersahabat agar orang-orang tak segan berbincang dengan kita.  Ketika kita mampu menyesuaikan diri dan berempati dengan orang lain maka hubungan yang akrab pun akan terjalin, sebagaimana diungkapkan Bonnie Jean Wasmund : "Orang mungkin lupa dengan apa yang Anda katakan, lupa apa yang Anda lakukan, tapi akan selalu terkenang dengan bagaimana Anda memperlakukan mereka."

Maka, di penghujung sujudku, yang kupinta bukan agar Ia mengurangi beban hidupku. Tapi agar Ia senantiasa menguatkan pundakku dan memberiku kekuatan untuk bersikap terbaik terhadap setiap permasalahan yang kuhadapi. Aku yakin, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Bukan masalah itu yang membuat kita putus asa, tetapi bagaimana cara kita menyikapinya yang membuatnya tampak berat.  So, daripada meratapi masalah demi masalah yang senantiasa mendera, mengapa tak kita manfaatkan energi kita untuk mencari solusinya?