<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408</id><updated>2011-12-28T01:55:25.707-08:00</updated><category term='tentang ibu RT'/><category term='komunikasi pd anak'/><category term='Info parenting'/><category term='anak penakut'/><category term='tips parenting'/><category term='anak hiperaktif'/><category term='hobiku'/><category term='pengaruh TV'/><category term='persaingan kakak-adik'/><category term='masalah RT'/><category term='anak dimarahi'/><category term='meninggalkan anak sendirian'/><category term='dan'/><category term='anak mengamuk'/><category term='ustadz dadakan'/><category term='peraturan anak'/><category term='motivasi menulis'/><category term='kekerasan fisik'/><category term='renungan'/><category term='usia tepat masuk SD'/><category term='pendidikan anak'/><category term='melayani anak'/><category term='memukul anak'/><category term='Multiple Intelligences'/><category term='keluarga &apos;broken home&apos;'/><category term='berdamai dengan kesulitan'/><category term='ibu kelinci'/><category term='pornografi'/><category term='anak &apos;bossy&apos;'/><category term='anak rewel'/><category term='asyiknya bisnis online'/><category term='taman bacaan'/><category term='catatanku'/><category term='anak berbohong'/><category term='anak cengeng'/><category term='anak depresi'/><category term='anak gemar membaca'/><title type='text'>Catatan Bunda</title><subtitle type='html'>......Banyaklah tertawa dalam membesarkan anak......</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>62</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-718726675292658673</id><published>2011-12-28T00:11:00.000-08:00</published><updated>2011-12-28T00:11:54.423-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pornografi'/><title type='text'>13 Tips Menghindarkan Anak Dari Pornografi</title><content type='html'>&lt;a href="http://moeflich.files.wordpress.com/2011/01/famtop.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="alignleft size-full wp-image-3982" src="http://moeflich.files.wordpress.com/2011/01/famtop.jpg?w=450" title="famtop" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: white;"&gt;&lt;/span&gt;Kasus  video porno artis sempat mengguncangkan masyarakat. Tak hanya orang  dewasa, anak-anak kecil pun kerap mendengar mengenai masalah itu, antara  lain lewat tayangan media, teman-teman, atau orang sekitar. Tak heran  jika para orangtua merasa khawatir anaknya terekspos materi pornografi  yang sudah sangat bebas. Di bawah ini adalah beberapa poin yang bisa  Anda terapkan supaya anak terhindar dari pornografi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Tunjukkan wewenang Anda sebagai orangtua.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukan hal ini secara bijaksana dan lembut. Tunjukkan bahwa Anda tetap  orangtuanya walau hubungan Anda dengannya terjalin seperti sahabat.&lt;span id="more-3981"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orangtua, Andalah yang berhak mengambil keputusan akhir  tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan keamanan anak. Anda berhak  mengetahui siapa saja temannya, di mana ia berada, dan apa yang sedang  ia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Berikan contoh yang baik. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangtua adalah yang pertama kali akan dicontoh anak di rumah. Jika  ingin anak berperilaku baik, Anda juga harus melakukan hal yang sama.  Jangan malah ikut-ikutan mengunduh video porno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Pasang pengaman di komputer atau televisi. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini tersedia banyak &lt;em&gt;software &lt;/em&gt;yang bisa digunakan untuk  mencegah dibukanya situs-situs porno di internet atau saluran-saluran  khusus dewasa di televisi. Pasanglah &lt;em&gt;software &lt;/em&gt;itu di rumah sebagai pengamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Kontrol “password” internet. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan berlakukan sistem otomatis pada sambungan internet di rumah,  melainkan terapkan sistem manual. Saat anak masih kecil, yang boleh  mengetahui &lt;em&gt;password&lt;/em&gt; ini hanya Anda dan suami. Ganti &lt;em&gt;password &lt;/em&gt;secara teratur supaya keamanannya terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. Letakkan komputer atau televisi di ruang publik. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya, ruangan yang dipakai bersama-sama anggota keluarga lain,  misalnya ruang keluarga. Dengan demikian, Anda bisa mengawasi apa saja  yang sedang ditonton atau diakses anak.&lt;br /&gt;Hindari memberikan komputer atau televisi pribadi sepanjang anak  belum membutuhkannya. Namun, jika ia memilikinya, Anda harus mengetahui &lt;em&gt;password &lt;/em&gt;komputer atau akun jaringan sosialnya supaya tetap bisa melakukan pengawasan terhadap anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;6. Buat aturan soal internet.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menentukan waktu pemakaian internet, tentukan juga apa yang boleh  dan tidak boleh dilakukan saat menggunakan internet. Poin-poin berikut  ini, dari &lt;em&gt;www.protectyourkids.info&lt;/em&gt;, bisa Anda terapkan padanya:&lt;br /&gt;* Jangan pernah memberikan informasi pribadi di forum umum.&lt;br /&gt;* Jangan membalas &lt;em&gt;e-mail&lt;/em&gt;, obrolan, atau diskusi yang membuatnya merasa tidak nyaman.&lt;br /&gt;* Jangan memberikan informasi atau foto kepada orang tak dikenal.&lt;br /&gt;* Jangan memberikan &lt;em&gt;password &lt;/em&gt;kepada orang lain, kecuali orangtua.&lt;br /&gt;* Jangan klik link apa pun dari orang tak dikenal.&lt;br /&gt;* Jangan langsung memercayai orang yang baru saja dikenal. Mereka bisa saja berbohong. Jadi, ia mesti selalu berhati-hati.&lt;br /&gt;* Jangan mau diajak bertemu secara langsung oleh orang yang dikenal lewat internet.&lt;br /&gt;* Jangan membeli barang apa pun atau memberikan informasi tentang kartu kredit tanpa seizin orangtua.&lt;br /&gt;* Selalu beri tahu orangtua jika ada seseorang atau suatu hal di internet yang membuatnya tidak nyaman.&lt;br /&gt;* Selalu ikuti aturan penggunaan internet dari orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;7. Jangan berikan ponsel canggih. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kalau anak memang membutuhkan pons&lt;br /&gt;el, berikan ponsel yang paling  sederhana, tanpa kamera, video, ataupun internet. Ponsel seperti itulah  yang ia butuhkan saat ini. Katakan padanya bahwa fungsi utama ponsel  adalah untuk berkomunikasi. Jika memerlukan internet, ia bisa gunakan  komputer di rumah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;8&lt;/strong&gt;.&lt;strong&gt; Dampingi saat menonton televisi atau menggunakan internet, terutama untuk yang masih kecil. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya Anda yang memegang &lt;em&gt;remote control&lt;/em&gt;-nya. Setiap kali  muncul adegan yang kurang pantas, segera ganti salurannya dan tunjukkan  ketidaksukaan Anda. Tujuannya agar anak menjadi terbiasa dan tahu bahwa  yang seperti itu memang tidak pantas. Ia pun tak akan tertarik pada  hal-hal semacam itu meskipun sedang tidak berada dalam pengawasan Anda.  Lakukan tindakan yang sama pada media lain. Ketika ia sudah lebih besar,  Anda bisa berdiskusi soal seks dan memberikan penjelasan lebih  mendalam.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;9. Sediakan waktu untuk keluarga.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang mengakses pornografi karena merasa bosan dan tidak memiliki  kegiatan lain. Inilah sebabnya keluarga sebaiknya menghabiskan waktu  bersama-sama, setidaknya sekali seminggu. Ajak anak ke taman, makan di  luar, atau yang lainnya, supaya ia terhibur. Diskusikanlah dengannya  supaya ia terhibur. Diskusikanlah dengannya mengenai kegiatan-kegiatan  yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa bosan. Dengan demikian, ia  tidak berpaling ke televisi atau internet untuk mencari hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;10. Sertakan mereka dalam kegiatan bermanfaat. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftarkan anak dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Pilihan  lain adalah bekerja sama dengan para orangtua di sekolah atau lingkungan  rumah. Anda bisa menyediakan aktivitas kecil-kecilan untuk mereka,  misalnya, mendirikan klub membaca atau melukis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;11. Periksa teman anak. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan tidak mungkin anak mendapatkan materi pornografi dari temannya.  Jadi, tidak ada salahnya jika Anda cermat memilih dengan siapa ia bisa  bergaul. Kalau tahu bahwa teman anak suka dengan hal-hal berbau  pornografi, bicaralah dengan orangtua teman anak tersebut.&lt;br /&gt;Sebagai sesama orangtua, katakan bahwa Anda menginginkan yang terbaik  untuk masa depan kedua anak. Apabila cara ini tidak berhasil, jauhkan  anak dari sang teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;12. Libatkan diri dalam kegiatan akademis anak.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cari tahu apa saja yang diajarkan dan yang sedang terjadi di sekolah.  Anda bisa berbicara dengan wali kelasnya. Utarakan keprihatinan Anda  tentang isu pornografi. Bekerja samalah dengannya beserta orangtua lain  untuk mencegah murid-murid terekspos pada hal itu di sekolah. Contohnya,  dengan memasang sistem pengaman pada komputer-komputer di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;13. Beri penjelasan secara baik-baik dan dengan tenang.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anak ketahuan sedang melihat materi pornografi, jangan langsung  marah. Tanyakan baik-baik alasannya. Berilah penjelasan mengapa hal itu  tidak pantas untuknya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt; (http://female.kompas.com)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-718726675292658673?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/718726675292658673/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/12/13-tips-menghindarkan-anak-dari.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/718726675292658673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/718726675292658673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/12/13-tips-menghindarkan-anak-dari.html' title='13 Tips Menghindarkan Anak Dari Pornografi'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-4761573646073396896</id><published>2011-07-28T23:11:00.000-07:00</published><updated>2011-07-28T23:12:50.016-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='asyiknya bisnis online'/><title type='text'>Asyiknya Berbisnis Online</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-3piYArzTsxI/TixzTE-wqKI/AAAAAAAABZA/zGUU5lVRDJw/s1600/work-at-home-mom.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="147" src="http://1.bp.blogspot.com/-3piYArzTsxI/TixzTE-wqKI/AAAAAAAABZA/zGUU5lVRDJw/s320/work-at-home-mom.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa hari ini aku disibukkan dengan bisnis baruku, bisnis online.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bisnis   yang pada awalnya kulakukan sambil lalu, untuk mengisi kesibukan saat   malam tiba dan aku sulit tidur. Tapi Alhamdulillah, sekarang   perkembangannya semakin memuaskan. Satu per satu pesanan mulai mengalir,   bahkan dari orang-orang yang belum mengenalku secara langsung. Terima   kasih ya Allah, Kau buat mereka percaya padaku...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bisnis  online sangat cocok buat  ibu-ibu rumah tangga. Yap, karena tak terikat  tempat, waktu, bahkan  bisa dilakukan sambil mengasuh anak-anak. Modalnya  pun tak terlalu  besar. Hanya komputer atau laptop plus sambungan  internet. Untuk  barang-barang yang dijual kita bisa bekerja sama dengan  orang lain yang  punya modal, kita tinggal menjualkan dengan meng-upload  gambarnya ke  internet, dan saat barang itu laku kita dapat komisi.  Gampang kaaan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dibandingkan bisnis offline,  bisnis ini  menghemat banyak energi kita. Masih kuingat saat aku masih  berjualan  aneka camilan, bahkan nasi bungkus di kantor. Aku harus  kulakan di pagi  buta, membungkusnya sendiri (belum resiko direcoki  anak-anak), dan  menitipkannya dari warung ke warung. Kuhitung, saat itu  ada 100 warung  langgananku yang kutitipi camilan. Kebayang kan betapa  ‘gempor’ kakiku  berkeliling Jogja? Hasilnya lumayan sih, tapi capeknya  minta ampuuun...   Di samping bisnis online, aku juga asyik kirim  tulisan ke  majalah-majalah. Yah, itung-itung mengeluarkan beban pikiran  agar bisa  tersalurkan. Selain itu, pengen dakwah juga kecil-kecilan.  Kalau banyak  yang baca hasil karyaku dan kemudian terinspirasi, aku  berharap dapat  kucuran pahala dari Allah. Dan dapat tambahan uang  belanja pula :)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masih  kuingat beberapa hari  yang lalu, saat aku terkantuk-kantuk menemani  anak-anak nonton kartun.  Tiba-tiba dapat telpon dari Jakarta. Kaget  juga, karena tak ada  saudaraku yang tinggal disana. Ternyata dari  redaksi majalah UMMI yang  memberitahu tulisanku bakal dimuat.  Horeee...hilang deh kantuknya,  langsung ngacir ke kamar, nyalain laptop  dan siap bikin tulisan lagi.  Hihi...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti bisnis online  lainnya,  menulis pun bisa kita lakukan tanpa mengganggu tugas-tugas  domestik  rumah tangga. Toh kita bisa melakukannya kapan saja, saat  anak-anak  sudah tidur, saat rehat di kantor, saat menemani anak-anak  main, bahkan  saat kita baru bangun tidur dan tiba-tiba ada ide yang  nyangkut, kita  bisa langsung menuliskannya. Sumber tulisan pun banyak  sekali di  sekitar kita. Kalau aku sih dari celetukan-celetukan anakku,  protes  mereka saat aku berbuat salah, atau saat mereka berebut dan  berkelahi  pun bisa jadi ide tulisan yang menarik. Atau saat kita ngobrol  dengan  teman-teman, coba kita tuliskan apa yang sudah kita bicarakan  seharian,  pasti deh langsung dapat berlembar-lembar halaman folio :)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berita-berita  di koran,  majalah, TV, juga bisa menjadi sumber ide yang tak ada  habisnya. Yang  pasti, asal kita mau jeli melihat peluang, sebenarnya ide  bertebaran  dimana-mana. Kita tinggal mengolahnya dengan sedikit  imajinasi,  dibumbui sedikit nasehat dari oom Google, dan menyusun kata  demi kata  menjadi rangkaian kalimat yang menarik, jadilah sebuah tulisan  yang  bisa disulap menjadi uang^^&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;So, berbisnis online...siapa takut?!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-4761573646073396896?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/4761573646073396896/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/07/asyiknya-berbisnis-online.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/4761573646073396896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/4761573646073396896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/07/asyiknya-berbisnis-online.html' title='Asyiknya Berbisnis Online'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-3piYArzTsxI/TixzTE-wqKI/AAAAAAAABZA/zGUU5lVRDJw/s72-c/work-at-home-mom.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-7855288074465260240</id><published>2011-06-12T06:58:00.000-07:00</published><updated>2011-06-12T06:58:03.117-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berdamai dengan kesulitan'/><title type='text'>Berdamai Dengan Kesulitan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-NVT2hIYZTvY/TfTFrR_f_zI/AAAAAAAABYE/3D_pD0GHCsw/s1600/putusa-asa.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-NVT2hIYZTvY/TfTFrR_f_zI/AAAAAAAABYE/3D_pD0GHCsw/s1600/putusa-asa.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penuh semangat kukerjakan tugas-tugas rumah tangga yang beberapa  bulan ini jarang kusentuh. Ya, biasanya ada asisten rumah tangga yang  melakukannya untukku. Tapi sejak ia &lt;em&gt;resign &lt;/em&gt;sebulan yang lalu,  mau tak mau aku harus mengerjakan tugas-tugas domestik itu sendiri.  Mencuci baju, piring-piring kotor, mengepel lantai, setrika, hingga  memasak semua kulakukan tanpa keluhan. Mengapa mesti mengeluh jika  membuatku tak ikhlas menjalani semua tugas itu. Dan ujung-ujungnya,  anak-anak dan suami yang menjadi korban akibat kelelahanku, di samping  usahaku yang sia-sia karena tak mendapat ‘imbalan’ dari-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat  berinteraksi dengan anak-anak pun aku mencoba menerapkan strategi yang  sama, berdamai dengan sepak terjang mereka. Mencoba mengambil sisi  positif atas segala kelakuan mereka membuatku lebih nyaman menjalani  hari-hariku sebagai ibu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Maaf Ummi, aku tak sengaja menumpahkan susunya...” takut-takut si kecil bicara kepadaku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tak apa...,ambil lap saja, dibersihkan sendiri ya”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Si kecil pun dengan wajah ceria mengambil kain pel dan mengelap susunya yang tumpah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Atau ketika sang kakak tak sengaja merusakkan mainannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sudahlah, tak usah disesali. Memang sudah waktunya mainan itu rusak. Besok kalau ada rejeki, kita beli lagi ya?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ah, ternyata lebih nikmat menjalani hari bersama anak-anak tanpa disusupi rasa marah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pun  saat aku harus ‘bersitegang’ dengan suamiku saat kami tak seide  menghadapi suatu masalah, aku lebih suka menuruti kemauannya asal tak  kehilangan senyumnya yang lebih menentramkan hatiku. Hidup terasa lebih  nyaman saat kita mampu menciptakan kebahagiaan orang lain dan berdamai  dengan ego kita sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam berinteraksi dengan orang  lain pun, lebih mudah bagi kita memaksakan diri untuk menyesuaikan diri  dengan karakter mereka daripada memohon mereka untuk memahami keinginan  kita. Menjadi pendengar yang baik saat teman kita punya masalah,  menawarkan bantuan saat orang lain butuh pertolongan, atau senantiasa  menunjukkan wajah yang ramah dan bersahabat agar orang-orang tak segan  berbincang dengan kita.&amp;nbsp; Ketika kita mampu menyesuaikan diri dan  berempati dengan orang lain maka hubungan yang akrab pun akan terjalin,  sebagaimana diungkapkan Bonnie Jean Wasmund : "Orang mungkin lupa dengan  apa yang Anda katakan, lupa apa yang Anda lakukan, tapi akan selalu  terkenang dengan bagaimana Anda memperlakukan mereka."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka,  di penghujung sujudku, yang kupinta bukan agar Ia mengurangi beban  hidupku. Tapi agar Ia senantiasa menguatkan pundakku dan memberiku  kekuatan untuk bersikap terbaik terhadap setiap permasalahan yang  kuhadapi. Aku yakin, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Bukan  masalah itu yang membuat kita putus asa, tetapi bagaimana cara kita  menyikapinya yang membuatnya tampak berat.&amp;nbsp; So, daripada meratapi  masalah demi masalah yang senantiasa mendera, mengapa tak kita  manfaatkan energi kita untuk mencari solusinya?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-7855288074465260240?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/7855288074465260240/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/06/berdamai-dengan-kesulitan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/7855288074465260240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/7855288074465260240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/06/berdamai-dengan-kesulitan.html' title='Berdamai Dengan Kesulitan'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-NVT2hIYZTvY/TfTFrR_f_zI/AAAAAAAABYE/3D_pD0GHCsw/s72-c/putusa-asa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-2502947716245406592</id><published>2011-05-30T14:51:00.000-07:00</published><updated>2011-05-30T14:51:21.784-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keluarga &apos;broken home&apos;'/><title type='text'>Kami Keluarga "Broken Home"</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:OfficeDocumentSettings&gt;   &lt;o:RelyOnVML/&gt;   &lt;o:AllowPNG/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-xQOjd1Sw2f0/TeQRM8a3DeI/AAAAAAAABX4/4j63Q5yE-qM/s1600/messy-house-cartoon-rron13l.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-xQOjd1Sw2f0/TeQRM8a3DeI/AAAAAAAABX4/4j63Q5yE-qM/s320/messy-house-cartoon-rron13l.jpg" width="297" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“Sepertinya kita keluarga &lt;i&gt;broke home &lt;/i&gt;ya mi,” Zuhdi, sulungku mengagetkanku dengan pertanyaannya di suatu sore.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Aku sempat terpana beberapa saat, teringat olehku kesibukanku dan suamiku bekerja sehingga tak menyisakan banyak waktu untuk bercengkerama bersama anak-anak. Jangan-jangan ia merasa tak nyaman dengan kebersamaan kami selama ini dan mencari ‘kebahagiaan’ di luar ya? Pikiranku mulai melayang kemana-mana karena satu istilah yang dilontarkannya barusan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“Eh, maksudnya...?” kucoba mengklarifikasi pernyataannya, tentu sambil berdebar-debar menunggu jawabannya selanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“Iya, tuh lihat rumah kita, hampir tiap hari hancur...eh, berantakan kayak kapal pecah” jawabnya sambil terkekeh-kekeh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Oalah...syukurlah, kirain...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam hati, kubenarkan juga ucapan sulungku. Kutatap ruang tengah kami yang kini berubah fungsi menjadi ‘bumi perkemahan’ dadakan. Ada beberapa kursi yang sengaja dibalik, selimut besar yang dihamparkan di atas kursi-kursi sebagai tenda. Bantal, guling, juga aneka buku yang berserakan di sekitarnya (ini yang&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;paling kusuka, dalam hampir setiap permainannya anak-anak selalu melibatkan buku dan membacanya!). Bahkan kadang mereka juga makan dan minum dalam ‘rumah &lt;i&gt;imajiner&lt;/i&gt;’nya tersebut. Sesekali aku bertandang juga ke ‘rumah’ mereka, memastikan mereka merasa nyaman dan tak ada benda- benda berbahaya di dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tak hanya itu, anak-anak kadang juga menjadikan ruang tidurnya medan peperangan dengan bantal dan guling sebagai senjatanya. Beberapa perkakas dapur seperti panci, baskom, dan penggorengan kadang mereka gunakan pula sebagai tameng.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“Pinjam dulu ya mi, ntar kalau menang perang aku kasih bonus deh...” begitu biasanya ia merayuku. Bonusnya unik, kadang ciuman di pipi atau secarik kertas bertuliskan ‘aku sayang ummi’. Tapi, aku sangat menyukai bonus itu!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pernah juga mereka membawa ‘pasukannya’ bermain ke rumah. Empat orang anakku ditambah lima orang temannya membuat rumahku bak tempat penitipan anak! Lalu, sebagai tuan rumah yang baik, anak-anakku akan mengambil makanan dan minuman untuk tamu-tamu mereka. Aku pun terheran-heran saat membuka tudung saji dan menemui lauk pauk dan sayuran yang barusan kumasak hanya tinggal wadahnya saja. Kembali wajah-wajah polos itu mengharap pengampunanku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“Kata ummi, kita kan harus berbagi...Kasihan teman-temanku, mereka lapar, jadi aku kasih makanan yang di meja makan buat mereka.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Haha...lagi-lagi aku ‘takluk’ dengan maklumat mereka yang (selalu saja) menjadikan nasehatku sebagai tamengnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kadang ada juga saat-saat aku sangat lelah dan ingin melihat rumahku rapi serta tak ada suara-suara ribut anakku. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“Bisakah kalian sebentar saja tenang dan tak membuat keributan? Ummi lelah sekali, pengen tidur siang!” ucapku sambil melongokkan kepalaku dari balik jendela kamar, berharap mereka menghentikan keributannya bermain perang-perangan di parit depan rumah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Lalu, wajah-wajah polos yang dicoreti krayon itu bermunculan dari balik parit, menatapku dengan tampang memohon.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“Ayolah, mi...ijinkan kami bermain sebentar saja, kami sudah capek sekolah dari tadi pagi” si sulung mulai berdiplomasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“Iya...katanya ummi senang kalau kami senang. Jangan lupa, ummi juga sudah janji tak akan marah-marah lagi,” adiknya menimpali sambil mengikuti gayaku saat sedang memberi nasehat. Aduuuh...kena deh!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Akhirnya aku mengalah, meneruskan istirahatku dengan menangkupkan bantal di kedua telingaku, berharap suara-suara mereka tak mengganggu tidur siangku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tapi bagaimanapun aku selalu menikmati kekonyolan anak-anakku saat mereka bereksperimen. Membiarkan mereka ‘menghancurkan’ rumahku dengan ide-ide anehnya. Bukan berarti aku tak mengajarkan kerapian dan kebersihan pada anak-anak tapi bagiku kesenangan dan kenyamanan anak-anak saat berada di rumah lebih penting daripada sekedar memiliki rumah yang selalu terlihat rapi. Merapikan rumah bisa dilakukan setelah mereka puas menikmati permainannya. Tentu saja dengan melibatkan mereka untuk melatih rasa tanggung jawab.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Aku sangat setuju dengan pendapat Richard Templar dalam bukunya “&lt;i&gt;The Rules Of Parenting” &lt;/i&gt;yang mengatakan ‘&lt;i&gt;being tidy isn’t as important as you think’.&lt;/i&gt; Menurutnya,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;dalam hal kebersihan dan kerapian rumah, orang tua mempunyai dua opsi pilihan. Yang pertama adalah selalu menjaga rumah senantiasa terlihat rapi, bersih, tak ada bercak atau kotoran di sana sini dengan resiko orang tua merasa letih serta anak-anak tertekan dan tak bisa bersikap natural seperti anak-anak selayaknya. Opsi yang kedua adalah bersikap santai, memaklumi bahwa anak-anak adalah anak-anak, dan memiliki kehidupan yang menyenangkan bersama seluruh anggota keluarga, mampu menikmati kehidupan di rumah walau mungkin situasi rumah agak berantakan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Richard juga menjelaskan bahwa bukan dia mengatakan bahwa anak-anak tak perlu diajari tentang kerapian dan kebersihan. Hanya saja, ujarnya lagi, biarkan mereka menikmati dulu, baru kemudian dibereskan. Tak masalah jika terdapat banyak noda dan bercak di rumah atau noda kotor di pakaian anak-anak, semua itu bisa dibersihkan. Namun merupakan suatu masalah bila anak-anak tak diijinkan untuk bersantai dan bergembira.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;s&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/s&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Aku yakin, masa-masa kecil yang bahagia akan menjadi kenangan manis saat anak-anakku dewasa kelak. Dan aku percaya, anak-anak yang bahagia akan tumbuh menjadi orang dewasa yang berbahagia pula...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-2502947716245406592?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/2502947716245406592/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/05/kami-keluarga-broken-home.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/2502947716245406592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/2502947716245406592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/05/kami-keluarga-broken-home.html' title='Kami Keluarga &quot;Broken Home&quot;'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-xQOjd1Sw2f0/TeQRM8a3DeI/AAAAAAAABX4/4j63Q5yE-qM/s72-c/messy-house-cartoon-rron13l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-5419695720737187905</id><published>2011-05-22T09:31:00.000-07:00</published><updated>2011-05-22T09:31:30.079-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi menulis'/><title type='text'>Menulislah, Maka Kita ‘Ada’... (A Tribute For Nurul F Huda)</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-JvHbFJfD7fo/Tdk5KuMD3JI/AAAAAAAABXw/ZgX4YJzE2z8/s1600/nurul+f+huda.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="228" src="http://4.bp.blogspot.com/-JvHbFJfD7fo/Tdk5KuMD3JI/AAAAAAAABXw/ZgX4YJzE2z8/s320/nurul+f+huda.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Beberapa hari yang lalu aku dikejutkan oleh sebuah kabar duka. Nurul F Huda, salah satu pengarang favoritku telah tiada. Penyakit jantung yang dideritanya sejak belia, tak mengijinkannnya lebih lama lagi hidup di dunia. Meninggalkan dua putranya yang masih berusia belia, sepantaran dengan anak sulungku yang baru duduk di kelas tiga SD. Rasa haru, sedih, dan kehilangan bercampur aduk jadi satu di dadaku. Apalagi selama ini dia harus membesarkan kedua buah hatinya seorang diri, setelah sang suami pergi meninggalkannya demi wanita lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kubayangkan hari-hari sepi yang dilaluinya tanpa pendamping yang menjadi penyejuk jiwa dan pelipur laranya. Tiba-tiba saja aku merasa menjadi ibu yang sungguh tak bersyukur. Aku dikaruniai seorang suami dan lima anak yang membuat hari-hariku senantiasa ceria, namun betapa seringnya aku mengeluh dan merasa terbebani dengan tugasku sebagai seorang istri dan ibu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tengah malam, aku membuka-buka beberapa buku karangannya. Dalam keterbatasannya, ternyata tak membuatnya berhenti berkarya. Hampir 23 buku berhasil ditulisnya, dan rata-rata memberikan berjuta hikmah dan inspirasi bagi pembacanya. Bahkan, menjelang kematiannya ia masih sempat menulis sebuah buku “Hingga Detak Jantungku Berhenti”. Sepertinya ia telah mempunyai firasat bahwa ia tak lama lagi membersamai kedua buah hatinya di dunia, hingga judul itu yang ia pilih untuk buku terakhirnya. Kurasakan hatiku semakin tertaut pada sosok kurus nan ringkih namun murah senyum itu. Butiran bening mengalir dari kedua pipiku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Aku mengenalnya hanya lewat dunia maya, serta dari berbagai tulisan yang ditorehkannya. Aku belum pernah bertemu dengannya secara nyata. Namun mengapa aku begitu kehilangan saat ia tiada? Mengapa air mataku kembali menetes tiap mengingat perjuangannya? Mengapa tiap kali menatap anakku yang sebaya dengan anak yang ditinggalkannya, luka hatiku sembali menganga?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Aku tahu jawabnya. Karena ia menuliskan perjuangannya. Ia menuliskan visi hidupnya dalam setiap buah karyanya. Visi yang sama dengan harapanku hidup di dunia ini. Itulah yang mengikat hati kami sehingga saling terpaut walau kami belum pernah bersua secara fisik. Dari berbagai tulisannya, aku menjadi tahu &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;pribadinya yang sesungguhnya, impian-impiannya, idealismenya, kebahagiaannya membesarkan kedua buah hatinya, perjuangannya dengan penyakit jantung yang dideritanya, bahkan suka dukanya menjadi istri yang harus merelakan sang suami berpaling pada wanita lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dengan menulis, Nurul F Huda telah meninggalkan jejak bahwa ia pernah ada di muka bumi ini. Bahwa idealisme dan cita-citanya tetap abadi dan tidak ikut terkubur bersama jasadnya. Walau ia telah tiada, goresan penanya akan tetap menginspirasi banyak manusia, dan semoga bisa menjadi pahala amalan jariahnya di akhirat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Selamat jalan sahabat...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Beristirahatlah dengan tenang dalam tidurmu yang panjang...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Semoga hasil karyamu menjadi cahaya yang akan senantiasa menerangi kuburmu...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Ijinkan aku mengikuti jejakmu, meninggalkan goresan pena yang akan menginspirasi banyak manusia...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sekecil apapun itu, akan kupahatkan bahwa aku pernah ‘ada’...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-5419695720737187905?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/5419695720737187905/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/05/menulislah-maka-kita-ada-tribute-for.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/5419695720737187905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/5419695720737187905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/05/menulislah-maka-kita-ada-tribute-for.html' title='Menulislah, Maka Kita ‘Ada’... (A Tribute For Nurul F Huda)'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-JvHbFJfD7fo/Tdk5KuMD3JI/AAAAAAAABXw/ZgX4YJzE2z8/s72-c/nurul+f+huda.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-5875715930573240356</id><published>2011-05-17T13:17:00.000-07:00</published><updated>2011-05-17T13:17:35.812-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi menulis'/><title type='text'>Wahai Ibu, Menulislah...</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-GUfii0Uqv3k/TdLXs-ZjXMI/AAAAAAAABXo/zMztVs6Vfcw/s1600/sedang+menulis.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-GUfii0Uqv3k/TdLXs-ZjXMI/AAAAAAAABXo/zMztVs6Vfcw/s320/sedang+menulis.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kabar terbaru, Barat sedang menggalakkan kampanye agar para ibu kembali ke rumah. Hal ini berkebalikan dengan emansipasi yang dulu mereka dengungkan bahwa wanita bebas berkarier di luar rumah. Mungkin kampanye ini berkaitan erat dengan semakin maraknya kenakalan remaja dan kurangnya ‘sentuhan’ kasih sayang orang tua dalam keluarga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Peran ibu dalam keluarga sangatlah strategis, yaitu menjadi pendidik pertama bagi putra-putrinya. Tetapi peran tersebut memerlukan konsekuensi, yang pertama adalah waktu yang memadai untuk mendampingi sang buah hati. Sulit dibayangkan seorang ibu yang berkarir bisa mengoptimalkan waktu yang dimilikinya untuk membesarkan anak-anaknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Yang kedua adalah ilmu yang memadai. Membesarkan anak tak cukup hanya mengandalkan naluri saja, seorang ibu juga harus rajin men’charge’ ilmunya agar mampu menghadapi berbagai problema yang mengiringi tumbuh kembang sang anak. Dengan aktif mencari ilmu, baik dengan cara membaca, &lt;i&gt;searching &lt;/i&gt;di internet, maupun mengikuti berbagai seminar &lt;i&gt;parenting,&lt;/i&gt; ibu akan lebih optimal mendidik anaknya. Apalagi bobot masalah yang dihadapi akan semakin meningkat seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seorang ibu yang rajin ‘belajar’ pasti akan lebih tangkas menghadapi masalah yang dihadapi anak-anaknya dibandingkan ibu yang malas ‘meng-update’ ilmunya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Ketika sang ibu mampu menangani masalah perkembangan anak kemudian ia bagikan pengalamannya tersebut melalui tulisan, maka manfaat yang diperoleh pun akan berlipat ganda. Sebagaimana tulisan Kartini yang mampu menjadi penggerak perubahan sosial bagi kaum wanita. Mungkin bila Kartini hanya menyimpan tulisannya dalam buku harian, kita tak pernah tahu perjuangannya yang telah menginspirasi kaum wanita untuk hidup lebih bermartabat. Dan hebatnya, tulisan tersebut mampu tetap menginspirasi walau sudah ditulis berpuluh tahun yang lalu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kisah Kartini tersebut seharusnya men jadi ‘pemantik’ bagi kita-kaum ibu- untuk bisa meneruskan perjuangannya. Hanya bersenjatakan pena, yakinlah bahwa kita mampu mengubah dunia. Perjuangan yang bahkan bisa dilakukan tanpa kita perlu keluar rumah. Kita hanya perlu mengisi kekayaan khazanah pengetahuan kita dengan banyak membaca, kemudian menuliskannya dan membagikannya agar semakin banyak manusia yang tercerahkan. Yakinlah, bahwa semakin banyak orang yang mengambil manfaat dari ilmu yang kita bagikan, semakin besar tabungan pahala yang kita miliki. Insya Allah...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-5875715930573240356?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/5875715930573240356/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/05/wahai-ibu-menulislah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/5875715930573240356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/5875715930573240356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/05/wahai-ibu-menulislah.html' title='Wahai Ibu, Menulislah...'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-GUfii0Uqv3k/TdLXs-ZjXMI/AAAAAAAABXo/zMztVs6Vfcw/s72-c/sedang+menulis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-2656770578065337567</id><published>2011-05-10T14:55:00.000-07:00</published><updated>2011-05-10T14:57:46.858-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak mengamuk'/><title type='text'>Menghadapi Ledakan Emosi Anak</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-yVCL1iLj150/Tcm0J8-hp7I/AAAAAAAABXQ/gDC2KJzYdFA/s1600/tantrum+cartoon.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-yVCL1iLj150/Tcm0J8-hp7I/AAAAAAAABXQ/gDC2KJzYdFA/s1600/tantrum+cartoon.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Tingkah laku kemarahan  anak Anda yang masih kecil tidak kunjung berhenti juga hari itu.  Terdengar jeritan tingginya begitu memekakkan telinga. Dan banyak barang  telah menjadi sasaran kemarahannya. Semua tindakan orangtua jadi salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara  naluriah, Anda ingin pergi meninggalkan situasi seperti ini bukan??  Namun ini bukanlah pilihan bijaksana. Pastilah ada solusi pemecahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiruk-pikuk  si kecil yang sedang berteriak dan menendang ini dapat membuat kita,  para orangtua, frustasi. Bagaimana menghadapi situasi ini? Alih-alih  melihat kemarahan sebagai suatu bencana, mari kita coba melihat  kemarahan sebagai kesempatan untuk belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kenapa Emosi  Anak-anak Bisa Meledak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ada  berbagai perilaku ledakan emosi, mulai dari menangis dan melolong  hingga menjerit, menendang, memukul, maupun menahan nafas kuat-kuat.  Ledakan emosi biasanya terjadi dari usia 1 hingga 3 tahun, baik anak  laki maupun perempuan. Temperamen anak-anak berubah secara dramatis,  jadi beberapa anak mungkin mengalami ledakan emosi secara berkala,  sedangkan yang lain mungkin hanya jarang-jarang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan  anak kecil yang baik sekalipun terkadang bisa mengalami ledakan emosi  yang sangat kuat. Ini adalah bagian pengembangan diri yang normal dan  tidaklah perlu dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Perlu disadari  bahwa anak-anak belum memiliki kemampuan kontrol diri seperti orang  dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan bagaimana rasanya saat Anda butuh untuk  mengoperasikan sebuah DVD Player dan tidak bisa melakukannya, tidak  peduli betapa kerasnya Anda mencoba. Hal ini disebabkan karena Anda  tidak mengerti cara melakukannya. Sangatlah membuat frustasi, bukan?  Beberapa dari kita mungkin mengomel, melemparkan buku petunjuk  pengoperasian, membanting pintu dan lain sebagainya. Itu adalah luapan  emosi versi orang dewasa. Nah anak-anak juga mencoba menguasai dunia  mereka, dan di saat mereka tidak bisa melakukan sesuatu, sering kali  mereka menggunakan satu cara untuk melampiaskan kejengkelan mereka,  yaitu meluapkan emosinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penyebab dasar dari  ledakan emosi yang sering dikenali adalah kebutuhan akan perhatian,  lelah, lapar, ataupun perasaan tidak nyaman. Sebagai tambahan, ledakan  emosi ini adalah akibat frustasinya si anak karena mereka tidak bisa  mendapatkan sesuatu (misalnya suatu benda ataupun perhatian orangtuanya)  untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Frustasi merupakan suatu  bagian dari hidup mereka yang tidak bisa dihindarkan sembari mereka  mempelajari bagaimana manusia, benda, dan tubuh mereka bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ledakan  emosi juga umum dialami saat usia 2 tahun, saat di mana anak-anak  belajar menguasai bahasa. Mereka mengerti akan sesuatu namun susah untuk  mengatakannya karena keterbatasan bahasa. Bayangkan bila kita tidak  bisa mengkomunikasikan kebutuhan kita kepada seseorang; ini adalah  pengalaman buruk yang bisa memicu emosi. Dengan meningkatnya kemampuan  berkomunikasi, ledakan emosi ini cenderung menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab  lain dari ledakan emosi terjadi saat anak harus melewati suatu masa  dimana kebutuhan akan otonomi meningkat. Di masa ini mereka ingin  mendapatkan suatu kebebasan dan pengendalian. Sebenarnya hal ini adalah  kondisi yang bagus untuk memupuk semangat berjuang, di mana seringkali  anak berpikir “aku bisa mengerjakannya sendiri” atau “aku mau itu,  berikan itu padaku”. Nah, saat mereka merasa bahwa mereka tidak bisa  mengerjakan atau tidak bisa memperoleh apa yang mereka inginkan, maka  ledakan emosi bisa terpicu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Menghindari Ledakan Emosi Kemarahan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara  terbaik untuk mengatasi ledakan emosi adalah dengan menghindarinya  bilamana memungkinkan. Berikut ini adalah strategi yang bisa membantu:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pastikan  anak Anda tidak bersandiwara hanya karena dia tidak mendapatkan  perhatian yang cukup. Bagi seorang anak, perhatian negatif (reaksi  orangtua terhadap ledakan emosi kemarahannya) adalah lebih baik  ketimbang tidak ada perhatian sama sekali. Cobalah untuk membiasakan  diri mengenali perilaku baik sang anak dan memberikan penghargaan atas  perilaku baiknya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cobalah memberi anak-anak tersebut suatu  kontrol atas hal-hal kecil yang mereka sanggup lakukan. Hal ini akan  memenuhi kebutuhan mereka akan kebebasan dan mengurangi ledakan emosi  kemarahan secara drastis. Tawarkan pilihan kecil seperti “Apakah kamu  mau jus jeruk atau jus apel?” atau “Apakah kamu mau menggosok gigi  sebelum atau setelah mandi?”. Dengan cara ini, Anda tidak bertanya  “Apakah kamu mau menggosok gigi sekarang?” yang tanpa bisa dihindari  akan dijawab oleh sang anak dengan “Tidak”.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Simpan dengan baik  benda-benda berbahaya agar di luar jangkauan anak-anak, jauhkan dari  pandangan mata ataupun jangkauan tangan mereka; sehingga mereka tidak  perlu berjuang begitu keras untuk mendapatkan benda-benda tersebut.  Tentu saja hal ini tidaklah mungkin bisa dilakukan setiap waktu,  khususnya di luar rumah di mana lingkungan tersebut tidaklah bisa  dikendalikan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Alihkan perhatian sang anak. Manfaatkan rentang  perhatian anak yang pendek dengan menawarkan barang pengganti ataupun  memulai aktivitas baru untuk menggantikan aktivitas yang berpotensi  membuat frustasi ataupun yang dilarang. Atau bisa juga dengan mengganti  suasana dengan membawa mereka ke ruang lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tatkala anak-anak  bermain atau berusaha menguasai suatu tugas baru, aturlah agar mereka  bisa mengalami keberhasilan setahap demi setahap. Berikan mainan yang  sesuai dengan umurnya. Juga mulailah dengan sesuatu yang sederhana dan  mudah sebelum melanjutkannya dengan tugas yang lebih menantang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pertimbangkan  permintaan anak dengan seksama. Apakah permintaan ini terlalu  berlebihan atau tidak? Pertimbangkan dengan baik, penuhi permintaan  tersebut bilamana tidak berlebihan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ketahui limit/batasan anak  Anda. Jika Anda tahu anak sedang lelah, maka tidaklah tepat untuk  mengajaknya berbelanja ataupun memintanya melakukan satu tugas lagi.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Jika  anak masih mengulangi aktivitas yang dilarang padahal membahayakan,  peganglah sang anak dengan kuat untuk beberapa menit. Tatap matanya dan  katakan Anda tidak mengijinkan tindakannya. Tetaplah konsisten.  Anak-anak harus mengerti bahwa Anda serius untuk masalah yang berkaitan  dengan keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Taktik Menghadapi Ledakan Emosi Kemarahan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal  terpenting yang harus diingat tatkala berhadapan dengan seorang anak  yang sedang marah, tidak peduli apa sebabnya, adalah tetap bersikap  tenang. Jangan memperparah keadaan dengan rasa frustasi Anda. Anak-anak  bisa merasakan saat orangtua mereka menjadi frustasi. Hal ini bisa  membuat frustasi mereka menjadi lebih parah. Tarik nafas dalam-dalam dan  cobalah untuk berpikir lebih jernih. Anak Anda meniru teladan Anda.  Memukul anak tidaklah membantu dalam situasi seperti ini; karena anak  akan menangkap pesan bahwa kita bisa menyelesaikan masalah dengan  pukulan. Milikilah kontrol diri yang cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, coba pahami  apa yang sedang terjadi. Ledakan emosi kemarahan harus ditangani secara  tersendiri tergantung dari penyebabnya. Cobalah untuk mengerti  penyebabnya. Misalnya ketika anak Anda sedang mengalami kekecewaan  besar, Anda perlu berempati dengannya sebelum mengarahkan tindakan dan  sikap selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasinya akan berbeda saat menghadapi ledakan  emosi dari seorang anak yang mengalami penolakan. Sadarilah bahwa anak  kecil belum memiliki kemampuan untuk menjelaskan suatu alasan dengan  baik, sehingga Anda mungkin tidak menerima penjelasan yang memuaskan.  Mengabaikan ledakan amarah mereka adalah satu cara untuk menangani hal  ini dengan catatan ledakan emosi ini tidak membahayakan anak Anda  ataupun orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjutkan saja aktivitas Anda setelah memberikan  perhatian sesaat, biarkan ia berkutat sendiri dengan perasaannya namun  masih dalam jarak pandangan Anda. Jangan tinggalkan anak kecil Anda  sendirian, bila tidak, dia akan merasa ditinggalkan dengan emosi yang  masih belum terkontrol. Ingat cara ini tidak selalu berhasil namun untuk  kasus ringan bisa jadi sangat membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah ceritanya akan sangat  berbeda jika anak-anak yang sedang marah tersebut berada dalam bahaya  karena menyakiti dirinya sendiri atau orang lain. Sebaiknya anak ini  dibawa ke tempat yang tenang dan aman untuk ditenangkan. Hal ini juga  berlaku untuk ledakan emosi yang terjadi di tempat umum.&lt;br /&gt;Anak-anak  yang lebih besar cenderung memanfaatkan ledakan emosi untuk mendapatkan  apa yang mereka inginkan. Apalagi jika mereka telah mengetahui taktik  ini berhasil sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anak-anak tersebut telah bersekolah,  adalah pantas untuk meminta mereka ke kamar mereka untuk menenangkan  diri dan memikirkan perilakunya. Ketimbang menggunakan batasan waktu  tertentu, orangtua bisa meminta mereka tetap berada di kamar hingga  mereka telah bisa mengendalikan diri. Ini adalah pilihan untuk  penguasaan di mana anak belajar untuk mengendalikan diri dengan tindakan  mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Setelah Badai Kemarahan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang  seorang anak mengalami kesulitan menghentikan kemarahannya. Dalam kasus  ini, kita bisa bantu mereka dengan berkata “Saya akan membantu  menenangkanmu sekarang”. Tapi jangan beri penghargaan kepada anak Anda  setelah kemarahannya dengan mengalah. Hal ini hanya akan membuktikan  kepada anak Anda bahwa ledakan emosi adalah efektif untuk memaksakan  kehendaknya. Sebagai gantinya, puji anak Anda atas keberhasilannya  mengendalikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kemarahan, anak juga menjadi peka  ketika mereka mengetahui bahwa mereka tidak lagi berlaku manis. Nah  inilah saat yang tepat untuk memeluk mereka dan meyakinkan bahwa mereka  tetap dicintai tanpa syarat.sumber: &lt;a href="http://www.sekolahorangtua.com/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;www.sekolahorangtua.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-2656770578065337567?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/2656770578065337567/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/05/menghadapi-ledakan-emosi-anak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/2656770578065337567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/2656770578065337567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/05/menghadapi-ledakan-emosi-anak.html' title='Menghadapi Ledakan Emosi Anak'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-yVCL1iLj150/Tcm0J8-hp7I/AAAAAAAABXQ/gDC2KJzYdFA/s72-c/tantrum+cartoon.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-5860727687144963030</id><published>2011-04-17T14:04:00.000-07:00</published><updated>2011-04-17T14:17:09.699-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ustadz dadakan'/><title type='text'>Ustadz Dadakan</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-AxjXS1wePmc/TatU8jjBj0I/AAAAAAAABWQ/RMgOi0l2dH4/s1600/dakwah1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-AxjXS1wePmc/TatU8jjBj0I/AAAAAAAABWQ/RMgOi0l2dH4/s1600/dakwah1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sore tadi, tiba-tiba seorang ibu mengetuk pintu &amp;nbsp;rumahku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“Maaf bu, bisa mengisi pengajian tidak? Hari ini ustadznya sedang berhalangan...”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Gubrak, asli kaget sekali disuruh jadi ustadzah dadakan. Mana aku tak punya persiapan materi lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“Waduh...gimana ya bu, saya malu, lagipula nggak persiapan ini. Gimana ya? Atau ibu saja deh yang ngisi pengajiannya?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Halah, disuruh malah ganti menyuruh!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“Ah, saya mah nggak tahu apa-apa bu. Udah nggak papa bu, saya tunggu di masjid ya?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kemudian si ibu segera beranjak pergi ke masjid yang jaraknya hanya beberapa langkah di depan rumahku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tinggallah aku yang bengong ditodong kayak gini. Duh, musti bongkar-bongkar buku nih. Nyari materi pengajian yang pas untuk ibu-ibu setengah baya peserta pengajian Annisa di masjid depan rumahku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sebetulnya, dulu waktu anakku masih bisa dihitung dengan jari hehe...(sekarang mah masih bisa dihitung juga dengan jari, tapi plus jari kaki) aku juga sudah menjalani menjadi ustadzah rutin di suatu forum pengajian. Tetapi, seiring dengan lahirnya satu demi satu bayi mungilku, akhirnya ‘tugas’ itu menjadi terbengkelai dan terpaksa aku estafetkan kepada temanku yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Ada rasa bersalah juga dalam hati kecilku saat meninggalkan tugas mulia itu, apalagi dengan alasan yang tidak &lt;i&gt;syar’i&lt;/i&gt;,ngurus anak! Andai semua beralasan sama sepertiku, bisa dipastikan roda dakwah akan berjalan tersendat-sendat karena kekurangan sang penyeru kebaikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dan akhirnya, ketika aku sibuk berjibaku mengurus domestik rumah tangga dan pekerjaan saja, ada kegersangan yang pelan-pelan merayap ke jiwaku. Bila dulu, semasa masih aktif berdakwah, aku senantiasa menjaga pikiran, lisan, dan tindakanku (ya iyalah, masak guru ngaji &lt;i&gt;slengekan&lt;/i&gt;), ketika aku tak lagi rutin mengisi kajian aku merasa seolah tanpa beban. Bila dulu aku selalu berusaha menyelaraskan setiap tindakanku dengan materi-materi pengajian yang rutin kukhotbahkan, setelah aku absen kadang kurasakan tindakanku mulai kurang terkontrol. &lt;i&gt;For example&lt;/i&gt;, aku kadang latah ikut ngerumpi membicarakan kejelekan orang lain saat kumpul-kumpul bareng teman, kali lain tertawa terbahak-bahak untuk sebuah lelucon yang tak lucu ( karena obyek yang ditertawakan lagi-lagi kejelekan orang lain. Hiks!), ngobrol &lt;i&gt;ngalor ngidul&lt;/i&gt; untuk sesuatu yang menurutku tak bermanfaat misal tentang artis yang lagi nikahan, trus yang mau cerai, trus yang digossipin selingkuh. Duh, amburadul banget ya kelakuanku. Dan yang lebih parah lagi, hafalan Quranku jalan di tempat, karena aku tak merasa menyuruh orang lain untuk menghafalkannya. So, aku juga tak ‘bertanggung jawab’ untuk menambah hafalanku. Belum lagi ibadah sunnahku yang runtuh satu demi satu karena (lagi-lagi) kesibukanku telah menyita sebagian besar waktuku. Aku jadi ingat satu nasehat, bahwa bila seseorang tak disibukkan oleh kebaikan, maka ia akan disibukkan oleh kelalaian. Oww, &lt;i&gt;how poor I am...&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Itu dari segi kelakuanku. Ada lagi yang hilang dari sisi hatiku saat aku tak melaksanakan warisan jejak para Rasul tersebut. Aku tak lagi merasa &lt;i&gt;peka&lt;/i&gt;. Bila dulu mendengar asma Allah disebut, terasa bergetar hatiku, bahkan pernah aku menangis saat mengisi pengajian karena merasakan betapa besar keagungan-Nya. Kini, aku biasa-biasa saja mendengar nama-Nya disebut berulang kali di depanku ( seperti kubilang tadi, rumahku persis di depan masjid, so sehari minimal lima kali nama-Nya terdengar olehku...), kurang peka akan kebesaran-Nya, bahkan kadang abai dan mengulur-ulur waktu memenuhi panggilan-Nya. Astaghfirullahal'adzim...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Alhamdulillah, melalui undangan dadakan sang ibu sore tadi, Allah mengingatkanku kembali untuk berjuang di jalan-Nya. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menegakkan agama-Nya di muka bumi. Satu hal yang akan selalu kuingat kini, bahwa dakwah tidak membutuhkan kita tetapi kitalah yang membutuhkan dakwah. Dengan atau tanpa kehadiran kita, rodanya akan terus bergulir sepanjang waktu. Dan bila aku masih saja lupa, aku masih punya syair lagu ini sebagai pengingat :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;...Berbekallah untuk hari yang sudah pasti...&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;...Sungguh kematian adalah muara manusia...&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;...Relakah dirimu menyertai segolongan orang...&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;...Mereka membawa bekal sedangkan tanganmu hampa...&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-5860727687144963030?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/5860727687144963030/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/04/ustadz-dadakan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/5860727687144963030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/5860727687144963030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/04/ustadz-dadakan.html' title='Ustadz Dadakan'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-AxjXS1wePmc/TatU8jjBj0I/AAAAAAAABWQ/RMgOi0l2dH4/s72-c/dakwah1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-7181061236588736698</id><published>2011-02-26T17:50:00.000-08:00</published><updated>2011-02-26T17:50:37.863-08:00</updated><title type='text'>Cinta Luar Biasa Dari Orang-Orang Biasa</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-FuX-yCFuetc/TWmt06bWylI/AAAAAAAABC0/Eq7ePofydvw/s1600/tukang%2Bbecak.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-FuX-yCFuetc/TWmt06bWylI/AAAAAAAABC0/Eq7ePofydvw/s200/tukang%2Bbecak.jpg" width="152" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Seorang tukang nasi goreng punya kebiasaan menyisakan dua piring nasi gorengnya untuk diberikan kepada pemulung atau pengemis yang lewat di depan gerobaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirip dengan si tukang nasgor,seorang ibu membuat tujuh nasi bungkus yang selalu diberikan kepada siapa saja yang membutuhkan,setiap hari,selama bertahun-tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kedua orang tadi,seseorang yang hidupnya sangat pas-pasan,menyumbangkan sebagian besar tenaganya untuk mengurusi anak-anak kurang gizi dari kampung-kampung di sekitar rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Klaten, Jawa Tengah, ada seorang tukang becak miskin tapi ahli bersedekah. Meskipun miskin, ia tidak mau kemiskinannya membuatnya terhalang untuk bersedekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedekah yang dilakukannya pun tergolong cukup unik, yaitu dengan menggratiskan penumpangnya setiap hari Jum'at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bai Fang Li berbeda. Ia menjalani hidup sebagai tukang becak. Hidupnya sederhana karena memang hanya tukang becak. Namun semangatnya tinggi. Pergi pagi pulang malam mengayuh becak mencari penumpang yang bersedia menggunakan jasanya. Ia tinggal di gubuk sederhana di Tianjin , China .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia hampir tak pernah beli makanan karena makanan ia dapatkan dengan cara memulung. Begitupun pakaiannya. Apakah hasil membecaknya tak cukup untuk membeli makanan dan pakaian? Pendapatannya cukup memadai dan sebenarnya bisa membuatnya hidup lebih layak. Namun ia lebih memilih menggunakan uang hasil jerih payahnya untuk menyumbang yayasan yatim piatu yang mengasuh 300-an anak tak mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara berbeda-beda,kelima orang tadi memberi cinta tak terbatas pada orang-orang di sekitarnya.Yang mereka lakukan sebetulnya biasa saja,tapi dilakukan dengan cara yang sangat luar biasa,bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaca dari ketiganya,ternyata banyak ya,cara yang bisa dilakukan untuk membuat diri kita berarti.Tak perlulah berencana  melakukan hal-hal besar yang akhirnya malah tidak pernah kita lakukan saking besarnya rencana.Di balik tindakan sederhana itu,ketiga orang tadi telah melakukan hal istimewa bagi kemanusiaan.Mereka telah memberi arti dalam kehidupan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-7181061236588736698?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/7181061236588736698/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/02/cinta-luar-biasa-dari-orang-orang-biasa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/7181061236588736698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/7181061236588736698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/02/cinta-luar-biasa-dari-orang-orang-biasa.html' title='Cinta Luar Biasa Dari Orang-Orang Biasa'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-FuX-yCFuetc/TWmt06bWylI/AAAAAAAABC0/Eq7ePofydvw/s72-c/tukang%2Bbecak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-2965690555167634188</id><published>2011-02-23T22:25:00.001-08:00</published><updated>2011-02-23T22:25:58.443-08:00</updated><title type='text'>Hidup Ini Indah</title><content type='html'>Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Steven Covey mengangkat segelas air dan bertanya pada para siswanya: "Seberapa berat menurut anda kira segelas air ini? "Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya. " kata Covey. "Jika saya memegangnya selama 1 menit,&lt;br /&gt;tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan&lt;br /&gt;saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat. Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey. "Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Apapun beban yang ada di pundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa, setelah istirahat nanti dapat diambil lagi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HIDUP INI SINGKAT, jadi cobalah menikmati dan manfaatkan. Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di relung hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARENANYA JANGAN MUDAH BERPIKIRAN BURUK&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-2965690555167634188?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/2965690555167634188/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/02/hidup-ini-indah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/2965690555167634188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/2965690555167634188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/02/hidup-ini-indah.html' title='Hidup Ini Indah'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-1732100560230480197</id><published>2011-01-21T08:13:00.001-08:00</published><updated>2011-01-21T08:13:22.164-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan'/><title type='text'>Dan,dan,dan...</title><content type='html'>&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Caxioo%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Caxioo%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Caxioo%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0cm;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;	mso-fareast-language:EN-US;}p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph	{mso-style-priority:34;	mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:36.0pt;	mso-add-space:auto;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;	mso-fareast-language:EN-US;}p.MsoListParagraphCxSpFirst, li.MsoListParagraphCxSpFirst, div.MsoListParagraphCxSpFirst	{mso-style-priority:34;	mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-type:export-only;	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:0cm;	margin-left:36.0pt;	margin-bottom:.0001pt;	mso-add-space:auto;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;	mso-fareast-language:EN-US;}p.MsoListParagraphCxSpMiddle, li.MsoListParagraphCxSpMiddle, div.MsoListParagraphCxSpMiddle	{mso-style-priority:34;	mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-type:export-only;	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:0cm;	margin-left:36.0pt;	margin-bottom:.0001pt;	mso-add-space:auto;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;	mso-fareast-language:EN-US;}p.MsoListParagraphCxSpLast, li.MsoListParagraphCxSpLast, div.MsoListParagraphCxSpLast	{mso-style-priority:34;	mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-type:export-only;	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:36.0pt;	mso-add-space:auto;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;	mso-fareast-language:EN-US;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;	mso-fareast-language:EN-US;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	margin-bottom:10.0pt;	line-height:115%;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/TTmwbZjs7fI/AAAAAAAAA88/GPHfccpGzcE/s1600/child+sweeping_opt.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/TTmwbZjs7fI/AAAAAAAAA88/GPHfccpGzcE/s1600/child+sweeping_opt.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 54pt;"&gt;Sambil berlari-lari kecil,sulungku menyodorkan sebuah buku padaku.Matanya tapak berbinar gembira saat ia berkata,”Lihat ummi aku dapat nilai 9 untuk pelajaran matematika!”Kualihkan pandanganku dari novel yang sedang kubaca.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;“Hmm.....bagus,kamu pintar nak,tapi harusnya kamu bisa dapat nilai sepuluh kalau saja tidak ada yang salah.”Senyum yang sempat terlihat di wajahnya samar-samar menghilang.”Yaah,aku kan sudah mengerjakan seperti yang diajarkan ummi,tapi kenapa bisa salah ya?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;Lain hari,Zaidan,anak ketigaku ‘membantuku’ memasak di dapur.Ia mencoba mengupas bawang putih.Dalam waktu lima menit,tiga siung bawang putih sudah berhasil dikupasnya.”Aku pintar ya,bisa membantu ummi memasak,”teriaknya ceria.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;“Iya sih....tapi lihat,kulit bawang putihnya kamu sebar kemana-mana.Dapurnya jadi kotor kan?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;Suatu ketika si kecil Muthia merebut sapu dari tanganku.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;“Tia bica capu-capu kayak ummi!” teriaknya sambil menggoyang-goyangkan sapu ke kanan dan ke kiri.Alih-alih tambah bersih,sampah justru bertebaran kemana-mana.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;“Terima kasih ya,Muthia sudah bantu ummi....tapi lain kali nyapunya pelan-pelan saja ya.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;Betapa seringnya aku mengucapkan kata ‘tapi,tapi,dan tapi’.Awalnya aku memang memuji kelebihan anakku,tapi seringkali tanpa sadar aku menyertakan kata ‘tapi’ di belakangnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;“Hebat,kamu sudah bisa gosok gigi sendiri,tapi lain kali busanya jangan sampai mengotori kamar mandi ya.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;“Wah,kereeen,gambarmu bagus sekali,tapi menurut ummi hidungnya terlalu besar tuh.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;“Terima kasih ya sudah membelikan ummi garam,tapi besok lagi kembaliannya jangan buat jajan ya!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;Dan tapi-tapi yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;Hingga suatu hari aku membaca sebuah artikel dalam Chicken Soup yang menceritakan bagaimana kata’ tapi’ bisa membuat seorang anak kehilangan semangat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;Jika sungguh ingin cinta kita mengalir pada anak-anak ,mulailah berpikir dengan ‘dan,dan,dan.’&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;“Kamu pintar nak,dan ummi yakin kamu bisa lebih hebat lagi dengan semakin rajin belajar!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;“Terima kasih sudah membantu ummi,dan ummi akan sangat senang bila kau mau membersihkan sampah yang bertebaran itu.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;“Hebat,kamu sudah bisa gosok gigi sendiri,dan pasti lebih hebat bila busanya juga kau bersihkan!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;Kita perlu sadar bahwa kata ‘tetapi’ membuat orang merasa buruk-sedangkan ‘dan’ membuat orang merasa baik.Dalam kaitannya dengan anak-anak,membuat mereka merasa baik jelas merupakan tujuan kita.Apabila mereka merasa baik tentang dirinya dan tentang pekerjaannya,mereka bersedia mengerjakan lagi hal yang sama,percaya diri mereka terbangun,dalam membuat keputusan dan dalam membina hubungan yang harmonis dengan orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;Sebaliknya,apabila segala yang mereka pikirkan,ucapkan,atau perbuat dicela atau direndahkan dengan cara apapun,kegembiraan mereka berkurang sementara kemarahan mereka bertumpuk.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 54pt;"&gt;Yakinlah,bila harapan anak-anak terus diasah secara positif dan kemudian mereka diajari,diberi teladan,dan diberi kesempatan berekspresi,hal-hal yang menakjubkan akan terjadi!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-1732100560230480197?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/1732100560230480197/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/01/dandandan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/1732100560230480197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/1732100560230480197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/01/dandandan.html' title='Dan,dan,dan...'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/TTmwbZjs7fI/AAAAAAAAA88/GPHfccpGzcE/s72-c/child+sweeping_opt.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-4284437109417432543</id><published>2011-01-11T01:35:00.000-08:00</published><updated>2011-01-11T01:35:18.849-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memukul anak'/><title type='text'>Latih Disiplin Anak Tanpa Memukul</title><content type='html'>Setiap keluarga mempunyai cara sendiri-sendiri untuk menanamkan  kedisiplinan pada anak.Walau berbeda,tetapi tujuannya sama yaitu  menangani anak bandel atau yang bertingkah nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika  kita melihat si kecil berbuat kenakalan,entah itu saat di rumah,waktu  jalan-jalan di mall,atau ketika berkunjung ke rumah tetangga,mungkin  secara refleks kita akan berteriak,”Berhenti!”.Atau bisa jadi kita akan  memukul si kecil agar tidak melanjutkan perbuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah  Anda,menurut pakar psikologi anak,menangani anak nakal dengan cara  berteriak atau memukul dapat menimbulkan efek negatif pada emosi si  kecil.Agar disiplin bisa dilatih sejak dini,kenali cara lain yang lebih  efektif untuk buah hati Anda seperti yang dikutip dari Modern Mom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Beda usia,beda cara&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertimbangkan  usia anak kita.Cara menanamkan disiplin pada anak tidak sama di tiap  usia.Misalnya,untuk anak berusia 15 bulan kita bisa menggunakan cara  pengalihan perhatian untuk membuatnya disiplin.Berbeda dengan anak yang  usianya lebih muda atau lebih tua dari itu,kita mungkin bisa mengabaikan  mereka jika merengek-rengek atau bertindak yang tidak tepat untuk  mendapatkan perhatian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Beri contoh&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohkan  perilaku yang baik agar si kecil menirunya.Menurut penelitian,teknik  itu teknik itu selalu direspon baik oleh anak-anak.Beri si kecil contoh  apa yang harus dilakukan,bukan apa yang tidak boleh dilakukan.Anak-anak  lebih mudah meniru orang dewasa.Mereka lebih mudah menerima pendekatan  itu daripada diberi tahu tentang apa yang tidak boleh mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berpegang pada aturan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetaplah  berpegang pada aturan yang telah kita tetapkan pada sang buah  hati.Setelah memberi tahu harapan kita pada si kecil,hal itu akan  memperkuat perilaku yang ingin kita lihat pada si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Beri penghargaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita  harus selalu mengingat untuk memberi penghargaan pada&amp;nbsp; setiap  tindakannya yang baik.Lontarkan pujian kepada si kecil tidak hanya  melalui kata-kata,tapi juga menawarkan hadiah favoritnya.Si kecil tentu  akan merasa benar-benar bangga pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ungkapkan ketidaksetujuan kita&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu  ungkapkan pendapat kita bila tindakannya tidak tepat.Jelaskan kepadanya  tentang perilaku yang tidak baik.Mengekspresikan pendapat kita  merupakan pendidikan keluarga yang bagus.Ini akan efektif mengubah  perilaku si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Konsekuensi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika  anak tidak disiplin atau melakukan kesalahan untuk pertama  kalinya,segera ungkapkan kalau ia bersalah.Hal ini untuk menghindari  agar ia tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.Katakan  juga padanya bahwa setiap kesalahan memiliki konsekuensi,misalnya tidak  diijinkan menonton TV selama beberapa hari atau tidak mendapat uang  saku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan memberikan hukuman fisik seperti memukul,hal  itu hanya akan menimbulkan trauma dan merenggangkan hubungan kita dengan  si buah hati.Memberikan konsekuensi atas setiap kesalahan anak juga  akan melatih perkembangan psikologisnya.Mereka menjadi lebih peka dan  berpikir panjang sebelum melakukan suatu tindakan.(YahooNews)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-4284437109417432543?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/4284437109417432543/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/01/latih-disiplin-anak-tanpa-memukul.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/4284437109417432543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/4284437109417432543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2011/01/latih-disiplin-anak-tanpa-memukul.html' title='Latih Disiplin Anak Tanpa Memukul'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-514243315261648720</id><published>2010-12-14T16:49:00.000-08:00</published><updated>2010-12-14T16:49:22.119-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Indah Pada Waktunya</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults v:ext="edit" spidmax="1026"/&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapelayout v:ext="edit"&gt;   &lt;o:idmap v:ext="edit" data="1"/&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Seorang anak memberitahu ibunya bahwa segala sesuatunya tidak berjalan seperti yang ia harapkan.Ia mendapat nilai jelek di sekolahnya,teman-temannya menjauhinya,san sahabat terbaiknya pindah keluar kota.Saat itu ibunya sedang membuat kue dan menawarkan sang anak untuk mencicipinya.Dengan senang hati si anak memakannya,”Hmm.....kue yang lezat,”gumamnya.Kemudian sang ibu menawarinya untuk mencicipi mentega.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Uuh,nggak enak ma.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ibunya berkata lagi,”Kamu mau mencoba telur mentah nggak?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ih,mama bercanda deh!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Atau mau mencoba terigu dan baking soda mungkin?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Si anak kemudian berkata,”Sudah ah ma,jangan bercanda.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemudian ibunya menjawab,”Semua memang kelihatannya tidak enak jika dilihat satu per satu.Tapi jika dicampur menjadi satu melalui proses yang benar,maka bahan-bahan itu akan menjelma menjadi kue yang lezat.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ternyata Allah bekerja dengan cara yang sama.Seringkali kita mempertanyakan keadilan-Nya ketika kita melalui masa yang sulit dan tidak menyenangkan.Tapi Allah Maha Tahu,jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dengan rancangan-Nya,segala sesuatunya akan menjadi sempurna tepat pada waktunya.Kita hanya perlu percaya bahwa proses ini diperlukan untuk menyempurnakan hidup kita.Jadi,tak perlu berkecil hati bila kita seringkali mengalami kesulitan dalam hidup ini.Suatu saat kita akan mengetahui hikmah dibalik semua cobaan-Nya.(artikel-motivasi.blogspot.com)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-514243315261648720?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/514243315261648720/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/12/indah-pada-waktunya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/514243315261648720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/514243315261648720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/12/indah-pada-waktunya.html' title='Indah Pada Waktunya'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-1349201785233083298</id><published>2010-11-30T17:11:00.000-08:00</published><updated>2010-11-30T17:11:22.170-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masalah RT'/><title type='text'>Interaksi dan Komunikasi Penuh Cinta</title><content type='html'>Di antara hal yang sangat vital perannya  dalam menjaga keharmonisan kehidupan rumah tangga adalah interaksi dan  komunikasi yang sehat antara seluruh anggotanya. Suami dan isteri harus  mampu membangun komunikasi yang indah dan melegakan, demikian pula orang  tua dengan anak, serta sesama anak dalam rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak permasalahan kerumahtanggaan muncul akibat tidak adanya  komunikasi yang aktif dan intensif antara suami dengan isteri. Banyak  hal yang didiamkan tidak dibicarakan, sehingga menggumpal menjadi  permasalahan yang semakin membesar dan sulit diselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Allah  Ta’ala telah memerintahkan kepada para suami agar berkomunikasi dan  berinteraksi secara bijak kepada isterinya:&lt;span id="more-142"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Dan bergaullah dengan mereka secara makruf. Kemudian bila kamu  tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak  menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak&lt;/em&gt;” (An Nisa’: 19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Abduh menjelaskan, “Artinya wajib bagi kalian wahai  orang-orang mukmin untuk mempergauli isteri-isteri kalian dengan bijak,  yaitu menemani dan mempergauli mereka dengan cara yang makruf yang  mereka kenal dan disukai hati mereka, serta tidak dianggap mungkar oleh&amp;nbsp;  syara’, tradisi dan kesopanan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka mempersempit nafkah dan menyakitinya dengan perkataan atau  perbuatan, banyak cemberut dan bermuka masam ketika bertemu mereka,  semua itu menafikan pergaulan secara makruf. Diriwayatkan dari salah  seorang salaf bahwa dia memasukkan ke dalam hal ini perihal laki-laki  berhias untuk isteri dengan sesuatu yang layak baginya, sebagaimana  isteri berhias untuknya”, tulis Abduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk dalam kategori ini adalah ketrampilan berbicara,  mendengarkan, bergurau atau bercanda, tertawa, respon dan empati, juga  ketrampilan berlaku romantis. Demikian pula ketrampilan mengungkapkan  perasaan, menyatakan kecintaan dan kasih sayang, memahami perasaan  pasangan. Tidak pula boleh diremehkan, ketrampilan praktis untuk  memuaskan pasangan dalam kebutuhan biologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang dijumpai suasana rumah tangga yang kaku tanpa canda dan penuh  suasana ketegangan. Masing-masing anggota keluarga melakukan sendiri apa  yang ingin dilakukan, menyimpan sendiri segala permasalahan dan  berusaha menyelesaikannya sendiri-sendiri. Mereka berkomunikasi dalam  sepi kepada diri sendiri dan tidak membuka diri terhadap yang lain.  Suami merasa diri telah cukup berbuat hanya dengan memberikan kecukupan  uang kepada isteri dan anak-anaknya. Isteri merasa diri cukup berbuat  hanya dengan menyiapkan keperluan suami dan anak-anak, serta melayani  suami di tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana seperti itu amat jauh dari harapan sebuah keluarga yang  sakinah, karena diwarnai oleh suasana individualistis yang tinggi.  Permasalahan akan semakin menumpuk dan menjadi gunung yang siap meledak  apabila ada simpul-simpul pemicunya. Mereka berbincang di dalam rumah  tangga ala kadarnya sekedar untuk berbasa-basi, selebihnya masing-masing  disibukkan oleh urusan sendiri. Rumah sebagai tempat kembali yang  nyaman tidak mereka dapatkan suasananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;“Tidak boleh lelaki mukmin membenci perempuan mukminah, jika ia tidak  menyukai suatu perbuatan, maka ia akan menyukai perbuatan lainnya”  (Riwayat Muslim).&lt;br /&gt;Suami tidak boleh berlaku kasar, apalagi sampai ke tingkat memukul  dan menendang isteri. Pukulan yang mendidik hanya boleh dilakukan dalam  kasus nusyuz. Rasulullah memberikan penghargaan kepada para suami yang  berlaku baik terhadap isteri mereka:&lt;br /&gt;“Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik di antara kamu dalam  bergaul dengan isterinya, dan aku adalah yang paling baik di antara kamu  dalam bergaul dengan isteri” (Riwayat Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak suami yang memiliki kelemahan dalam mendengarkan isi hati  isteri. Pada kondisi dimana isteri merasa memerlukan perhatian, ia  sangat ingin mencurahkan perasaan hatinya kepada suami. Ia ingin  mengobrol dan menyampaikan keinginan dan harapan-harapan yang selama ini  terpendam belum terungkapkan. Apabila suami tidak merespon, bahkan  bersikap menutup diri terhadap keinginan itu, akan cenderung melahirkan  ketertekanan batin pada isteri. Pada kondisi yang telah memuncak,  keinginan curhat isteri yang tidak ditampung suami tersebut akan  menimbulkan ledakan emosional yang dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteri akan cenderung lari kepada orang lain, mungkin teman dekat,  atau tetangga, mungkin orang tua atau bahkan ke psikolog atau kepada  seorang ustadz yang dipercaya, untuk menumpahkan semua permasalahan  hatinya. Ia hanya ingin mendapatkan suasana kelegaan hati, dengan  menceritakan semua permasalahan yang dihadapi. Isteri akan sangat  bergembira apabila bertemu dengan seseorang yang bersedia mendengarkan  dan menampung curahan hatinya. Bisa jadi seseorang tersebut tidak  memberikan solusi apapun dari permasalahan yang diutarakan, akan tetapi  kesediaannya mendengar dan merespon secara positif itu telah amat  menenteramkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, suami harus menjadi seseorang yang paling enak dan nyaman  bagi isteri untuk mencurahkan perasaan hatinya. Jangan dibiarkan isteri  tidak mendapatkan kesempatan untuk curhat kepada suami di rumah yang  berakibat ia mencari orang lain untuk tempat curhat. Kadang hal seperti  ini menimbulkan masalah baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila orang yang menjadi tempat curhat  tersebut adalah teman lelaki sekantornya, atau seorang lelaki yang  menjadi teman lamanya semasa kuliah atau sekolah dahulu, lalu ternyata  ia mendapatkan kecocokan untuk mencurahkan permasalahannya, akan bisa  berkembang menjadi hubungan yang lebih intim dan khusus.&lt;br /&gt;Tentu&amp;nbsp; hal ini menuntut kemampuan suami untuk bisa mendengarkan,  menampung dan merespon secara positif perasaan hati isteri. Jangan  biarkan permasalahan menumpuk di hati isteri sehingga menjadi gumpalan  permasalahan yang tidak terselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami semestinya mengawali suasana keterbukaan dalam komunikasi  sehingga permasalahan sekecil apapun bisa segera direspon dan  diselesaikan. Pengakuan Nyonya Noni yang dimuat dalam majalah Ayahbunda  edisi 6 – 9 April 1996 berikut hendaknya menjadi pelajaran bagi yang  lain, bahwa keterbukaan dalam komunikasi amatlah penting untuk  mempertahankan cinta dalam keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dunia pekerjaan saya mengharuskan saya bergaul dengan banyak orang  dari berbagai lapisan, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan boleh  dibilang model pergaulannya pun bebas, meskipun saya pikir itu  tergantung dari orang yang bersangkutan. Selama ini suami tidak pernah  berkomentar negatif terhadap kegiatan saya, tetapi belakangan saya  ketahui kalau suami berselingkuh dengan wanita yang sangat belia”,  demikian penuturan Nyonya Noni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika saya tanyakan, bukan saja dia mengakui tetapi juga mengatakan  bahwa hal itu dilakukan karena sebenarnya dia tidak menyukai kegiatan  saya. Selama ini saya tidak tahu hal itu karena suami tidak pernah  mengatakan terus terang. Akhirnya semenjak delapan bulan yang lalu saya  pisah rumah sementara dengan suami”, tambah Nyonya Noni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak dalam pengakuan di atas, keluarga Nyonya Noni tidak terbiasa  melakukan komunikasi secara terbuka. Suami Nyonya Noni tidak pernah  mengekspresikan perasaan ketidaksukaannya terhadap pekerjaan dan pola  pergaulan Nyonya Noni. Karena tidak pernah berkomunikasi dengan hangat  dan terbuka kepada pasangannya, ditambah dengan kesibukan masing-masing  menyebabkan rumah tangga Nyonya Noni dilanda kemelut. Suami Noni memilih  mengekspresikan ketidaksenangannya dengan melakukan selingkuh, bukan  dengan terbuka mengungkapkan keinginan dan harapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah semestinya interaksi dan komunikasi penuh cinta  dilakukan dalam rumah tangga, hingga tidak ada ganjalan yang tidak  tersampaikan kepada pasangannya.(cahyadi-takariawan.web.id)&lt;br /&gt;&lt;div class="entry-utility"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-1349201785233083298?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/1349201785233083298/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/11/interaksi-dan-komunikasi-penuh-cinta.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/1349201785233083298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/1349201785233083298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/11/interaksi-dan-komunikasi-penuh-cinta.html' title='Interaksi dan Komunikasi Penuh Cinta'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-7019843296032650264</id><published>2010-11-28T17:12:00.000-08:00</published><updated>2010-12-02T17:13:30.146-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibu kelinci'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatanku'/><title type='text'>Ibu Kelinci</title><content type='html'>Alhamdulillah....akhirnya selesai sudah tugasku hilir mudik mengurus tiga jagoanku.Lihat,mereka sudah tersenyum riang sambil memasuki gerbang sekolahnya.Aku pun tertawa bahagia bisa 'berbagi' tugas dengan para guru mereka,setidaknya hingga jam 2 siang nanti ^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saatnya 'me time'.Memanjakan diri dengan jalan-jalan ke dunia maya,say hello dengan teman-teman fbku atau sekedar browsing mencari ilmu baru.Hmm....seorang ibu memang seharusnya menyisakan sedikit waktu untuk melepaskan diri dari hiruk pikuk mengurus RT dan anak-anak.Agar tak bete terjebak rutinitas yang sama dari hari ke hari.Betul?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap kali pagi menjelang,selalu saja rumahku heboh bak pasar kaget.Aku menjadi ibu kelinci yang hilir mudik kesana kemari.Pun anak-anak tak mau kalah mewarnai suasana pagi dengan teriakan dan tangisnya.Ada yang dibangunkan sulitnya minta ampun.Ada yang mau bangun dengan syarat digendong sampai ke kamar mandi.Ada yang cari alasan kepalanya pusing agar terbebas dari tugasnya bersekolah hari itu.Ada pula yang nurut langsung lari ke kamar mandi,tapi disana ia bersemedi hingga berjam-jam,belum keluar kamar mandi sebelum pintunya digedor-gedor adik-adiknya yang antri sampai pipis di celana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah urusan MCK selesai,masalah belum berhenti sampai disitu.Pasukan telanjang berjajar di depan TV sambil ngerecokin adik bayinya yang baru bangun tidur.Gantian sekarang si bungsu melolong-lolong ketakutan dikerubutin para raksasa tak berbaju.Dengan sigap bak tentara kesiangan,aku harus menyisihkan para jagoan pengganggu itu dan menyelamatkan sang bayi sebelum ia mengamuk.Tentu mulutku sambil tak henti mengomel menyuruh mereka segera berpakaian dan makan pagi karena hari telah beranjak siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara aku menyiapkan perlengkapan sekolah anak dan perlengkapan kantorku, kubiarkan anak-anak asyik menonton TV.Aku bahkan tak sempat memperhatikan apakah tontonan yang mereka lihat layak dilihat atau tidak.Yang penting,mereka diam dan tak merecoki aktivitas pagiku yang diburu waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi beberapa hari ini aku kembali 'mempertanyakan' aktivitas pagiku yang sepertinya tak sehat.Aku sibuk sendiri,anak-anak sibuk sendiri.Aku mengomel,anak-anak berteriak.Aku marah,mereka malah mengamuk.Wah,kalau dibiarkan berlama-lama,kami bisa sama-sama stress nih....&lt;br /&gt;Mungkin beberapa tips di bawah ini bisa aku lakukan agar si ibu kelinci dan anak-anaknya bisa sehat lahir batin :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Saat membangunkan anak,beri mereka sedikit waktu untuk beradaptasi.Kita sendiri kadang butuh sedikit waktu saat bangun tidur sebelum beraktivitas.Bila perlu sebelumnya putar musik atau lagu anak-anak yang riang agar mereka termotivasi untuk bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Daripada membiarkan anak-anak menonton TV sementara kita bersibuk ria,sebaiknya kita sediakan mainan edukatif untuk mengasah kecerdasan mereka dan mengalihkan perhatian mereka dari televisi.Puzzle misalnya,atau crayon dan kertas kosong untuk menggambar,atau buku cerita baru yang biasanya membuat mereka tertarik untuk segera membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Libatkan sang ayah untuk berperan serta mengatasi keributan di pagi hari. Sementara kita memasak dan menyiapkan bekal anak-anak,ayah bisa mengajak mereka lari pagi dulu atau berjalan-jalan melihat pemandangan. Biasanya anak-anak akan pulang dalam keadaan segar dan riang,serta ribut berceloteh tentang perjalanannya bersama sang ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Racik sayuran dan lauk pauk pada malam hari sehingga di pagi hari kita tinggal mengolahnya.Sebagian besar waktu memasak tersita untuk meracik sayuran dan bumbu-bumbu dapur,sehingga bila kita sudah menyiapkannya sejak malam hari,di pagi hari kita tak terburu-buru untuk memasak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Buat papan bintang untuk anak-anak yang berprestasi.Beri satu bintang pada anak yang bangunnya paling awal,beri lagi bintang pada anak yang mau berpakaian sendiri,juga bintang-bintang yang lain bila mereka tidak bertengkar,menghabiskan sarapannya,dan lain-lain.Beri hadiah bila mereka sudah mengumpulkan banyak bintang,misalnya buku cerita baru bila mereka berhasil mengumpulkan bintang 50 buah dalam satu minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Selalu ingat : buat anak merasa senang dan bahagia,terutama saat mereka hendak berangkat tidur dan hendak pergi bersekolah.Usahakan untuk selalu tertawa,sekonyol apapun tindakan mereka (kecuali bila tindakannya sudah mengarah pada hal-hal yang tidak baik,kita harus tegas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK,mungkin itu dulu yang bisa saya bagikan pada teman-teman.Ada yang punya tips lain?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-7019843296032650264?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/7019843296032650264/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/11/ibu-kelinci.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/7019843296032650264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/7019843296032650264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/11/ibu-kelinci.html' title='Ibu Kelinci'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-8812587354188045957</id><published>2010-11-27T20:02:00.000-08:00</published><updated>2010-11-27T20:02:21.569-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatanku'/><title type='text'>Jadi penulis,mengapa tidak?</title><content type='html'>Wah.....nggak berasa lama banget gak bikin postingan baru. Maafin aku ya,blog.... *sambil bersihin sarang laba-laba*. Sebenarnya banyak sekali ide yang ingin kutuangkan disini,apalah daya tiap malam tak sempat jalan ke dunia maya,kecapekan setelah seharian banting tulang. Apalagi tiga bulan ini jadi 'single parents' coz suami lagi dinas luar.Jadilah semua ide itu beterbangan dan tak satupun yang sempat dipublikasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini lagi semangat bikin artikel. Sebenarnya sudah lama banget bercita-cita jadi penulis tapi selalu saja ada kendala yang membuatku tak sempat (atau tak menyempatkan diri?) untuk menulis secara serius..Kemarin-kemarin sibuk jualan pulsa plus jualan aneka jajanan di kantor. Berhubung kemarin gunung merapi meletus dan kantorku mau tak mau harus eksodus ke lokasi yang lebih aman,jadilah bisnisku vakum. Nah...mumpung sekarang banyak waktu terluang,kucoba untuk menekuni dunia tulis menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang,tujuan utamaku menulis untuk mencari &lt;i&gt;side income.&lt;/i&gt; Hihi....penulis kelas teri banget yak,gak idealis. Habis mau gimana lagi,harga-harga barang tiap hari kian mencekik leher. Kalau cuma mengandalkan gaji, palingan cuma cukup sampai tengah bulan. Mana anakku banyak pula.Ups,bukannya aku menyesali anugerah-Nya lho....cuma aku kudu berjuang lebih keras lagi agar semua kebutuhan keluargaku terpenuhi,gitu aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu,jadi penulis tuh sepertinya enak banget.Tak harus punya kantor,bisa sambil mengasuh anak, tak terikat jam kerja,bahkan bebas menulis apapun yang disukainya.Bahkan aku pernah baca seorang penulis yang rela meninggalkan pekerjaan utamanya sebagai PNS hingga ia bisa total sepenuhnya bekerja sebagai penulis. Dan hasilnya?Beratus-ratus cerpen telah dibuatnya plus buku-buku yang tak kalah banyaknya,dan semua laris manis di pasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma kadang yang bikin aku kesulitan adalah saat memulai tulisan kali pertama. Kalau kata teman yang lebih senior sih,dianalogikan seperti ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp; Taruh seseorang di atas pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculkan sebuah keadaan yang harus dihadapi oleh tokoh utama cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp; Lempari dia dengan batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembangkan suatu masalah yang harus diselesaikan oleh sang tokoh  utama.&amp;nbsp; Konflik.&amp;nbsp; Misalnya&amp;nbsp; :&amp;nbsp; kesalahpahaman, kesempatan yang hilang,  kesalahan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp; Buat dia turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunjukkan dalam cerpen, bagaimana sang tokoh utama akhirnya mengatasi  konflik atau masalah yang ia hadapi.&amp;nbsp; Pada beberapa cerpen, pada bagian  penyelesaian konflik inilah biasanya penulis cerpen menyisipkan pesan  yang ingin disampaikan kepada para pembaca.&amp;nbsp; Contoh pesan yang ingin  disampaikan misalnya tentang kekuatan kejujuran, kesabaran, dan  sebagainya. &amp;nbsp;Walau pada beberapa cerpen yang lain, pesan ini bisa saja  disampaikan di awal, tengah, atau bahkan keseluruhan cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu,kita juga harus jeli menangkap ide. Arswendo misalnya,dia biasa mendapat ilham saat jalan-jalan.Atau Agatha Christie yang sering mendapat ide saat berendam di bak mandi. Ada pula penulis yang memperoleh banyak ide justru di tengah keramaian pasar.Kalau aku sih,biasanya mendapat ide menulis saat mendengar celoteh anak-anakku. Kadang sempat kaget juga saat mereka menanyakan sesuatu yang tak terpikirkan olehku. Tapi justru melalui pertanyaan-pertanyaan 'aneh' mereka aku jadi tergoda untuk mencari jawabannya. Dan jadilah sebuah artikel yang bisa aku &lt;i&gt;share &lt;/i&gt;ke teman-teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya menulis itu tak sesulit yang kita bayangkan. Hampir sama seperti saat kita bicara.Toh,kita tiap hari selalu bercerita kan?Entah kepada pasangan,teman,atau anak-anak. Bedanya hanya menyalin dari bahasa lisan ke bahasa tulisan. Kita bisa ungkapkan pengalaman yang pernah kita alami,baik itu pengalaman yang menyenangkan,menyedihkan,menegangkan,atau justru kejadian lucu yang pernah kita alami. Atau kita bisa merekam dengan HP atau alat perekam lain saat kita bercerita pada orang lain. Nah,saat di depan komputer,kita bisa putar ulang rekaman pembicaraan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana,sudah siap jadi penulis?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-8812587354188045957?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/8812587354188045957/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/11/jadi-penulismengapa-tidak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/8812587354188045957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/8812587354188045957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/11/jadi-penulismengapa-tidak.html' title='Jadi penulis,mengapa tidak?'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-2036746615726091671</id><published>2010-08-24T23:21:00.000-07:00</published><updated>2010-08-24T23:21:07.588-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='peraturan anak'/><title type='text'>11 Aturan Dasar Membesarkan Anak Ala Nanny Stella</title><content type='html'>&lt;!--header.php end--&gt; &lt;!--single.php--&gt;     &lt;!--loop--&gt;        &lt;!--post title--&gt;  &lt;br /&gt;Penonton setia acara Nanny 911 pasti tak asing dengan nama Nanny Stella. Acara ini memiliki banyak penonton karena para nanny yang terlibat harus membantu keluarga tersebut mencapai kerja sama dan mengubah kekacauan menjadi ketenangan hanya dalam waktu 7 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu, Nanny Stella mengunjungi Jakarta untuk berbagi 11 aturan dasar (11 Commandments) dalam membesarkan anak. Aturan-aturan ini ia buat bersama salah seorang sahabatnya, Nanny Deb, yang juga ikut dalam acara tersebut. Pengalamannya selama kurang lebih 15 tahun dalam mengasuh anak, ditambah pendidikannya selama 2 tahun di National Nursery Education Board membuatnya percaya diri untuk menerbitkan 11 aturan dasar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, aturan dasar ini lintas usia, lintas negara, tidak situasional, tidak emosional, absolut, dan dibuat untuk menghindari tindakan-tindakan buruk yang bisa saja terjadi di masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah 11 aturan tersebut, yang disampaikan Nanny Stella dalam seminarnya di JITEC, Mangga Dua Square, Jakarta, Sabtu (7/12/09) lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bersikap konsisten&lt;br /&gt;Tidak artinya tidak. Ya, artinya ya. Jika Anda ingin memberlakukan “timeout” kepada anak Anda, lakukanlah. Jangan berhenti atau membatalkan hal tersebut hanya karena ada gangguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Setiap tindakan punya konsekuensi&lt;br /&gt;Tingkah laku yang baik mendapat imbalan. Tingkah laku buruk mendapat hukuman. Berikan penjelasan jika memang ada imbalan untuk sesuatu yang baik yang ia lakukan, atau hukuman jika ia melakukan kesalahan. Misal, Anda sekeluarga akan berlibur ke tempat liburan yang menyenangkan jika anak bisa meraih angka bagus di rapor. Atau, jika malas belajar, ia akan tinggal kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Katakan seperti apa yang Anda inginkan&lt;br /&gt;Berpikirlah sebelum bicara, atau rasakan akibatnya. Jika si anak pernah melanggar perintah Anda, maka hukumannya pun harus jelas, dan Anda harus melakukan hukuman tersebut. Jika Anda melanggar sistem ganjaran Anda sendiri, maka si anak akan terbiasa mengabaikan hukuman yang Anda tetapkan untuk hal-hal lain. Bersiaplah, karena hal ini akan berujung pada pembangkangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Orangtua bekerja sama sebagai satu tim&lt;br /&gt;Kalau Anda dan pasangan tidak saling setuju dalam satu hal, anak Anda tidak akan tahu siapa yang harus ia dengarkan. Hasilnya, ia tak akan mendengarkan siapa pun. Ini tak hanya berlaku untuk Anda dan pasangan saja, tetapi juga untuk semua orang yang berada di tempat Anda membesarkan si anak. Entah itu pengasuh, ibu-ayah, kakek-nenek, paman-bibi, semua yang terlibat dengan si anak. Jangan sampai ada yang memiliki kata-kata yang saling bertolak belakang, karena anak bisa bingung dan malah berakibat buruk baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jangan berjanji jika tak bisa ditepati&lt;br /&gt;Kalau Anda menjanjikan sesuatu kepada si anak, pastikan janji tersebut terpenuhi. Jika Anda tak pasti bisa memberikan janji tersebut kepada anak, lebih baik jangan dikatakan. Karena ingkar janji bisa jadi hal yang sangat menyakitkan untuk anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dengarkan anak-anak Anda&lt;br /&gt;Akui perasaan mereka. Katakan, “Ibu mengerti”, tapi ucapkan dengan sungguh-sungguh, lalu luangkan waktu untuk benar-benar mendengarkan Anda. Karena mereka butuh orang yang bisa dan mau mendengarkan keluh-kesah mereka. Jika mereka bersandar kepada orang yang salah, hasilnya bisa menjadi hal yang tak benar untuknya. Cobalah untuk menjadi sahabat mereka dan dengarkan apa yang mereka rasakan. Rasakan nikmatnya menjadi orang terdekat yang mengerti mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Tentukan rutinitas&lt;br /&gt;Rutinitas membuat anak Anda merasa aman dan memberi struktur terhadap waktu yang mereka miliki. Namun tak selalu berarti harus mengikuti jadwal sesuai jam. “Rutinitas itu penting, agar anak-anak jadi tahu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Tak perlu berdasarkan jam, berdasarkan rutinitas juga bisa. Dengan demikian mereka belajar keteraturan. Misalnya, usai bermain di sore hari, mereka mandi, makan malam, sikat gigi, cuci kaki, lalu tidur,” ujar Nanny Stella.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Rasa hormat berlaku dua arah&lt;br /&gt;Kalau Anda tidak menghormati anak Anda, mereka tidak akan menghormati Anda. Hukumnya “perlakukan orang lain seperti Anda ingin diperlakukan”. Menghormati mereka dengan memberikan apa yang menjadi hak mereka tanpa menunda, juga mendengarkan apa yang mereka ingin katakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.Penguatan positif lebih baik dari penguatan negatif&lt;br /&gt;Sanjungan, pujian, dan kebanggaan jauh lebih bermanfaat daripada bersikap nyinyir, negatif, dan mengacuhkan. Lebih baik mengucapkan penguatan positif kepadanya untuk menyampaikan maksud Anda, bukan menunjuk ke suatu kata sifat yang melabeli. Misalnya, “Mama senang sekali melihat usaha kamu meningkatkan nilai Matematika kamu” lebih baik ketimbang, “Kamu pintar. Nilai Matematika kamu sudah naik 1 angka di rapor”. Ketika Anda melabeli suatu titik, ia akan berhenti di sana dan tidak berusaha untuk berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Tingkah laku adalah hal yang universal&lt;br /&gt;Tingkah laku yang baik diterima oleh siapa pun. Contohkan padanya untuk mengucapkan “terima kasih, tolong, atau maaf” kepada orang-orang yang bersinggungan. Di mana pun, sopan-santun selalu diperlukan. Ajarkan tata krama kepadanya lewat tindakan Anda. Anak seperti kaset kosong yang merekam apa pun yang mereka lihat dari orang-orang, atau apa yang ia saksikan. Maka, berikan contoh terbaik kepadanya&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;11. Definisikan peran Anda sebagai orangtua&lt;br /&gt;Bukan tugas Anda untuk membuat anak menempel pada Anda. Tugas Anda adalah mempersiapkan anak untuk menghadapi dunia luar, dan membiarkannya menjadi diri sendiri. Jangan selalu menempel dan membantunya mengerjakan segala hal. Sesekali ia pun harus belajar menghadapi rasa sakit hati, rasa gagal, juga rasa tak mampu. Ini penting agar ia bisa mencari jalan untuk mengatasi keterbatasannya.(kompas.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-2036746615726091671?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/2036746615726091671/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/08/11-aturan-dasar-membesarkan-anak-ala.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/2036746615726091671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/2036746615726091671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/08/11-aturan-dasar-membesarkan-anak-ala.html' title='11 Aturan Dasar Membesarkan Anak Ala Nanny Stella'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-4956093294846085419</id><published>2010-08-24T01:09:00.000-07:00</published><updated>2010-08-24T01:09:18.878-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='melayani anak'/><title type='text'>Pengaruh Pelayanan Terbaik Bagi Anak</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/THN-HR4qZ7I/AAAAAAAAA54/WbEpuNM83Yo/s1600/images.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/THN-HR4qZ7I/AAAAAAAAA54/WbEpuNM83Yo/s320/images.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Memiliki anak berarti sudah harus siap menjadi 'pelayan'. Orangtua akanmemberikan layanan kepada anak sejak kecil hingga dewasa, atau bahkanmungkin sepanjang hidupnya. Bentuk pelayanan itu akan berubah sesuai kebutuhannya. Ketika masih bayi, orangtua melayani anak dengan cara banyak hal. Misalnya, menggantikan popok, membuatkan susu, memberikan makan, memandikan, dan banyak hal lainnya. Ketika anak menginjak usia remaja, orangtua memberikan pelayanan dengan cara membantu hal-hal yang ia belum mampu melakukannya. Misalnya, memperbaiki sepeda, mengantar anak ke toko buku, atau membantu menyelesaikan masalah-masalah pribadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan melayani di atas terkadang tidak jarang membuat ibu atau ayahmerasa kesal atau enggan untuk melakukannya. Apalagi ketika mereka sedang banyak urusan atau merasa sudah sangat letih dengan pekerjaan dan masalah lainnya. Perasaan seperti itu hendaknya dapat ditepis,sebab bagaimanapun segala bentuk pelayanan yang diberikan orangtua kepada anak merupakan hal yang dapat terekam kuat di pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayanan yang diberikan orangtua akan menjadi kenangan indah yang sulit untuk dilupakan oleh anak, bahkan sebaliknya. Suatu saat nanti ketika ia dewasa dan memiliki anak, ia akan dengan senang hati menceritakan kenangannya tersebut dan bahkan melakukan hal yang sama (contoh membantu dan berempaty) terhadap buah hatinya atau bahkan kepada orang-orang yang ada di dekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya, akan sangat bahagia jika buah hati kita masih mengingat masa indah mendapat pelayanan yang tulus dari orangtuanya. Oleh karena itu,jadikanlah segala bentuk pelayanan yang orangtua berikan kepada anak tersebut sebagai bentuk kasih sayang. Hindari bentuk pelayanan tersebut dengan diikuti sebuah syarat. Tindakan tersebut akan mengurangi bentuk kasih sayang orangtua terhadap anak. Misalnya 'Mama atau Ayah akan membantumu mengerjakan PR, asal kamu juara kelas, asal kamu mengambilkan koran setiap hari, asal kamu mau....' dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang diungkapkan oleh Garry Chapman (2007) bahwa memberikan pelayanan yang terbaik kepada anak mempunyai pengaruh jangka panjang bagi anak. Ia akan menjadi seseorang yang bahagia dan memiliki kebiasaan baik dalam menjalani hidupnya. Selain itu, kebaikannya tersebut suatu saat nanti akan dapat dirasakan oleh orang-orang yangada di sekelilingnya.(perkembangananak.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-4956093294846085419?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/4956093294846085419/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/08/pengaruh-pelayanan-terbaik-bagi-anak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/4956093294846085419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/4956093294846085419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/08/pengaruh-pelayanan-terbaik-bagi-anak.html' title='Pengaruh Pelayanan Terbaik Bagi Anak'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/THN-HR4qZ7I/AAAAAAAAA54/WbEpuNM83Yo/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-7377113848339399497</id><published>2010-08-21T17:34:00.000-07:00</published><updated>2010-08-21T17:34:34.503-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak depresi'/><title type='text'>Anak Depresi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/THBwgK3CPJI/AAAAAAAAA5w/vKCtx6k8Mqw/s1600/images.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/THBwgK3CPJI/AAAAAAAAA5w/vKCtx6k8Mqw/s320/images.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://www.perkembangananak.com/2010/05/remaja-depresi.html"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;&lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;Karier, jabatan, pangkat merupakan sesuatu yang sering dikejar oleh banyak orang. Bukan saja merupakan dambaan kaum laki-laki sebagai seorang kepala rumah tangga, tetapi&amp;nbsp;juga banyak kaum wanita (ibu) yang mendambakan untuk mencapai karir sesuai yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu konsekuensi pencapaian karir tersebut, dibutuhkan waktu dan energi yang tidak sedikit.&amp;nbsp;&amp;nbsp;Hal demikian sering&amp;nbsp;membuat kesempatan untuk 'lebih dekat' dengan anak menjadi semakin berkurang.&amp;nbsp; Kurangnya komunikasi dan memberikan perhatian kepada anak membuat anak menjadi merasa sepi dan hampa.&amp;nbsp;&amp;nbsp;Antara orangtua dan anak tidak terjalin ikatan batin.&amp;nbsp; Tidak ada waktu untuk saling berbagi perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kondisi seperti di atas dibiarkan berlarut-larut, khawatir&amp;nbsp;akan terjadi sebuah penyakit yang dinakan depresi pada anak. Frederic Luskin (2004) menyatakan bahwa depresi merupakan suatu penyakit yang menyebabkan perasaah sedih, hampa, dan putus asa dalam kurun waktu yang lama sehingga mengganggu fungsi kemampuan anak-anak atau remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa ciri yang dapat kita lihat pada anak yang mengalami depresi diantaranya adalah: &lt;br /&gt;1. Acapkali sedih dan menangis&lt;br /&gt;2. Keputusasaan&lt;br /&gt;3. Tidak mampu menikmati aktivitas yang sebelumnya menjadi favoritnya&lt;br /&gt;4. Terus menerus merasa bosan dan kurang energi&lt;br /&gt;5. Kurang menghargai diri dan merasa bersalah&lt;br /&gt;6. Sensitif yang berlebihan, melakukan penolakan atau merasa gagal&lt;br /&gt;7. Cepat marah atau adanya rasa permusuhan&lt;br /&gt;8. Sulit dalam bertaman &lt;br /&gt;9. Sering absent dan sering tidak masuk sekolah&lt;br /&gt;10. Sering mengeluh penyakit-penyakit fisik, seperti sakit kepala dan sakit perut&lt;br /&gt;11. Kurang konsentrasi&lt;br /&gt;12. Berpikir untuk melakukan bunuh diri atau perilaku yang merugikan diri sendiri&lt;br /&gt;13. Alkohol dan drug&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang menderita depresi sangat membutuhkan pertolongan dan dukungan yang serius, baik dari orangtua, dirinya sendiri, dan juga teman atau lingkungannya. Pada kondisi anak sedang depresi, perhatian dan keterlibatan orangtua dan orang-orang yang ada didekatnya sangatlah berarti baginya. Sangatlah penting bagi orangtua untuk segera menyadari bahayanya membiarkan anak dalam kondisi depresi. Orangtua harus mampu memberikan perhatian secara serius sebab jika tidak, risikonya akan lebih besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum terjadi penyesalan yang mendalam, berikanlah yang terbaik untuk buah hati kita. Mulailah memperhatikan anak-anak kita, apakah ada salah satu atau beberapa tanda di atas terjadi pada anak kita?. Jika ya, segeralah orangtua bertindak dan memperbaiki pola pengasuhan pada anak. Bukankah apa yang dikerjakan orangtua selama ini adalah untuk membuat buah hati tercinta bahagia?. (yer)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-7377113848339399497?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/7377113848339399497/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/08/anak-depresi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/7377113848339399497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/7377113848339399497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/08/anak-depresi.html' title='Anak Depresi'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/THBwgK3CPJI/AAAAAAAAA5w/vKCtx6k8Mqw/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-6399470223417207745</id><published>2010-07-31T23:48:00.000-07:00</published><updated>2010-07-31T23:50:20.309-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak rewel'/><title type='text'>Mengatasi Kerewelan Anak Dengan Hati</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/TFUZH1VSOFI/AAAAAAAAA5Y/rhSo2TuEUtY/s1600/index.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/TFUZH1VSOFI/AAAAAAAAA5Y/rhSo2TuEUtY/s320/index.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Malam ini,seperti malam-malam sebelumnya,selalu kuamati wajah polos anak-anakku yg tertidur pulas sambil tak henti bersyukur atas keceriaan yg mereka bagikan setiap saat. Ada kepuasan yg teramat saat seharian mampu mengatasi kerewelan mereka dengan bijak dan tak terpancing emosi. Tapi sering pula penyesalan meraja kala hari-hari bersama mereka terlewati dengan bentakan,cacian,bahkan cubitan, dan diakhiri dengan tangisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm....kesalahan yang berulangkali dilakukan orang tua (terutama saya ^_^) adalah bertindak kasar pada anak dan sesudahnya menyesal setengah mati,tapi toh esok hari diulangi lagi. Pantas saja kalau anakku pernah berkomentar seperti ini saat aku minta maaf padanya suatu hari,"Paling-paling besok ummi marah-marah lagi,terus minta maaf lagi!".Huaaa....malunya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucoba lagi menelusuri, kondisi apa saja yg seringkali membuatku 'bertanduk' di depan anak-anak. &lt;br /&gt;Biasanya saat aku diburu waktu dan anakku rewel,aku akan mengeluarkan kata-kata ajaib untuk membuatnya diam.Alih-alih diam,dia malah semakin merajuk.Jadilah pagi yg sibuk menjadi arena argumentasi yg tak searah,yg satu marah-marah krn keburu telat,satunya lagi senewen karena keinginannya tak dikabulkan. Tinggallah para tetangga melongo menyaksikan pertarungan tak seimbang antara ibu dan para balitanya ;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali lain, aku biasanya mudah terpancing untuk marah saat 'bad mood'. Saat kondisi hati tak stabil, anak yang penurut pun bisa tiba-tiba dimarahi.Apalagi kalau anak bikin ulah, jadilah diriku bak penyiar radio yg siaran non stop 24 jam 'menceramahi' anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau saat kondisi badanku lelah sepulang kerja, berharap dapat istirahat sejenak dan melihat rumah dalam keadaan rapi. Ternyata yang terjadi justru sebaliknya...belum lagi sempat duduk,sudah dihadang tangisan dan rumah yang bak kapal pecah.Lagi-lagi emosi yang bicara....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya aku harus selalu menata hatiku terlebih dahulu sebelum berinteraksi dg anak-anak. Saat kita marah, seharusnya emosi kita yg hrs kita lawan,bukan anak-anak....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-6399470223417207745?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/6399470223417207745/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/07/mengatasi-kerewelan-anak-dengan-hati.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/6399470223417207745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/6399470223417207745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/07/mengatasi-kerewelan-anak-dengan-hati.html' title='Mengatasi Kerewelan Anak Dengan Hati'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/TFUZH1VSOFI/AAAAAAAAA5Y/rhSo2TuEUtY/s72-c/index.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-7235848417182779733</id><published>2010-07-24T01:17:00.000-07:00</published><updated>2010-07-24T01:18:40.155-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='meninggalkan anak sendirian'/><title type='text'>Meninggalkan anak sendirian di rumah</title><content type='html'>&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Banyak  orangtua yang merasa anak usia ini sudah bisa ditinggal sendirian di  rumah. Misalnya orangtua pergi kondangan selama beberapa jam. Ada pun  pertanyaan yang ingin saya ajukan adalah:&lt;br /&gt;1. Benarkah anak usia ini  sudah bisa ditinggal sendirian di rumah?&lt;br /&gt;2. Kalau anak belum berani,  bagaimana mengajarkannya?&lt;br /&gt;3. Sebaliknya kalau anak terlalu berani,  bagaimana menyikapinya?&lt;br /&gt;4. Apa saja yang harus diajarkan pada anak  saat ditinggal sendirian di rumah?&lt;br /&gt;5. Bolehkah sekaligus “dititipi”  untuk menjaga adik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;/span&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal kemandirian,  anak usia sekolah (7 – 12) thn memang dituntut untuk mengembangkan dan  memiliki kemandirian dasar dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini,  diharapkan dengan bertambahnya usia, anak mampu mengurus diri nya  sendiri dan bahkan bisa bertanggung jawab terhadap tugas-tugas rumah  tangga yang diberikan oleh orangtua.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa dipungkiri bahwa  aspek kemandirian anak, sangat tergantung pada pola asuh serta disiplin  yang diterapkan oleh orangtua. Jadi, kita bisa lihat mengapa ada anak  yang ketika masuk di kelas 1 SD sudah bisa ”enjoy” sendirian tanpa  ditemani orangtuanya, tetapi ada juga anak yang masih harus ditunggui  bahkan ditemani oleh orangtuanya sampai di dalam kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait  dengan pertanyaan di atas, maka untuk meninggalkan anak sendirian di  rumah, banyak hal yang harus kita ”persiapkan” sejak dini. Keberanian  untuk berpisah dengan orgtua, kemandirian dalam memenuhi kebutuhan dasar  (seperti : Makan, minum, buang air kecil dan besar), penguasaan  terhadap seluk beluk rumah (bisa membuka dan mengunci pintu, mengetahui  tempat penyimpanan kotak P3K, bisa mematikan kompor, mematikan kran  air), bagaimana bersikap kepada orang asing yang mungkin datang ke rumah  saat orgtua tidak ada, serta mengetahui apa yang harus dilakukan bila  terjadi emergency (misalnya : kebakaran, ada yg terluka).&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari  keterangan di atas, meski faktor keberanian anak merupakan hal mendasar  dalam kemandirian, namun hal tsb tidak lah cukup bila kita ingin  meninggalkan anak sendirian di rumah tanpa ada org dewasa yg menemani.  Faktor keberanian, haruslah ditunjang dengan faktor2 lain yg sudah saya  sebutkan di atas. Mengapa? Karena kita tidak akan pernah tahu hal2 apa  saja yang bisa terjadi saat kita pergi sementara tidak ada orang dewasa  yang bisa membimbing anak atau membuat keputusan saat terjadi peristiwa  yg sifatnya emergency.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, latihlah anak-anak sejak dini untuk  berani, mandiri, juga percaya diri, yang kemudian orgtua dapat memberi  bekalan pengetahuan dan tips seputar P3K, savety, bagaimana menghadapi  orang asing, dan apa yang harus dilakukan bila terjadi hal2 yg sifatnya  emergency. Orgtua juga harus memberitahu dan menempel nomor2 telp  penting di tempat yg mudah terlihat oleh semua orang di rumah, termasuk  anak2. Dengan demikian, diharapkan, saat anak berusia 8 atau 9 tahun,  orgtua sudah bisa meninggalkannya sendiri di rumah.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, untuk  melatihnya, harus dilakukan secara bertahap. Orgtua jangan langsung  meninggalkan anak2 sendiri dalam jangka waktu yang lama. Mulailah dari  0.5 jam dahulu untuk jarak yang tidak terlalu jauh (misalnya untuk  berbelanja di toko yg masih terletak di dalam lingkungan rumah).&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah  itu barulah ditambah lagi durasi waktunya menjadi 1 jam, lalu bisa 2  jam, lalu 3 jam. Jangan lupa sebelum pergi, orgtua harus me-ngecek  dahulu keadaan rumah (matikan kompor, kran air, menyiapkan lampu  emergency bila listrik padam), dan buatlah perjanjian dgn anak kapan  saja/berapa kali orgtua harus menelpon ke rumah sehingga anak tetap  merasa aman meski orgtua tidak ada di rumah.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai ”dititipi”  adik, kita sebagai orgtua harus benar2 cermat dalam mengambil keputusan,  karena itu artinya kita menyerahkan pengasuhan adik kepada kakak yang  juga harus bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Dalam hal ini, faktor  usia si kakak, juga si adik, perlu dipertimbangkan.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya  adalah dalam hal ini si adik pun sudah memiliki keberanian dan  kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya sendiri (minimal sudah bisa  makan dan minum sendiri, buang air sendiri), sehingga si kakak bisa kita  ”bebankan” hanya untuk mengawasi dan mengajak adik bermain sambil tetap  waspada dengan keadaan di rumah. Ingat!, meski si kakak lebih dewasa  dan matang, tetap saja secara usia (7 – 12thn) bukan lah usia yg tepat  untuk menyerahkan sepenuhnya tanggungjwab pengasuhan si adik kepada  kakak.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, orgtua harus ingat waktu dan tidak terlalu lama  meninggalkan anak2 sendirian di rumah tanpa ada yang mengawasi.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;(Fajriati Maesyaroh,Psi)&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-7235848417182779733?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/7235848417182779733/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/07/meninggalkan-anak-sendirian-di-rumah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/7235848417182779733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/7235848417182779733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/07/meninggalkan-anak-sendirian-di-rumah.html' title='Meninggalkan anak sendirian di rumah'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-3174483488931289733</id><published>2010-07-24T01:08:00.000-07:00</published><updated>2010-07-24T01:08:41.265-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan anak'/><title type='text'>BALADA SEORANG ROIHAN  - Potret buram pendidikan</title><content type='html'>&lt;span bindpoint="branchLinkWrapper" class="GBThreadMessageRow_BranchLink"&gt;&lt;/span&gt;       &lt;span bindpoint="reportLinkWrapper" class="GBThreadMessageRow_ReportLink"&gt;&lt;/span&gt;          &lt;br /&gt;&lt;div class="GBThreadMessageRow_Body"&gt;       &lt;div class="GBThreadMessageRow_Body_Content"&gt;        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  sebuah seminar beberapa minggu yang lalu di ITB Bandung, saya duet  dengan mas Hernowo, sangat terkesan sekali dengan pernyataan mas Hernowo  bahwa hentikanlah dan jangan lagi yang ‘diobok-obok’ adalah siswa dalam  proses pembelajaran. Jika ada kelambanan siswa menangkap materi  belajar, maka sisi siswa yang selalu disalahkan. Lamban, nakal, punya  hambatan, dan sampai pada pernyataan kasar yaitu ‘bodoh’, ‘goblok’ atau  ‘bahlul’. Mas Hernowo menantang, apa mau, kita sebagai guru yang harus  introspeksi. Kenapa siswaku lamban? Apa yang salah dengan cara  mengajarku? Apa aku harus ganti pendekatan yang lain? Bagaimana sih  sebenarnya kondisi siswaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sepakat dengan mas Hernowo,  mestinya jika terjadi kesulitan mengajar, maka langkah pertama adalah  guru harus introspeksi dengan cara:&lt;br /&gt;Pertama, jelajahi siapa sosok  siswa anda yang lemah tersebut. Bagaimana gaya belajar dia? Apakah dia  mempunyai hambatan-hambatan tertentu? Selidiki dan cari tahu hambatan  itu. Lalu identifikasikan bagaimana sosok siswa anda tersebut.&lt;br /&gt;Kedua,  rancang perencanaan mengajar sesuai dengan identifikasi siswa tersebut.  Apakah kita sebagai guru salah strrategi dalam megnajar sebelumnya,  ataukah siswa kita memang mempunyai hambatan. Maka solusi yang tepat  harus dilakukan oleh guru.&lt;br /&gt;Ketiga, terus jaga motivasi siswa kita  untuk selalu medukung dan mengatakan kepada dia bahwa dia adalah mampu  mengikuti dan menyelesaikan materi ini. Terus munculkan kaki-kaki  positif, agar siswa kita terus mempunyai kepercayaan diri yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat  juga pelajaran dari dosen saya di Universitas Negeri Jakarta yang luar  biasa yaitu ibu Lara Fridani yang sekarang sedang menempuh S3 di  Australia. Beliau seorang psikolog yang pernah terjebak dalam pekerjaan  memberikan tes kematangan sekolah kepada anak-anak TK untuk masuk ke SD.  Hasil tesnya adalah sebagian anak belum matang untuk bersekolah dan  sebagian dinyatakan sudah matang. Tentunya yang belum matang, tidak  boleh masuk SD. Dan harus menunggu tahun depan, tentunya jika tahun  depan anak tersebut ‘sudah matang’ untuk bersekolah. Lalu beliau  mengatakan, bahwa saat ini beliau sadar bahwa mestinya yang ‘belum  matang’ dalam hal ini adalah sekolahnya untuk menerima anak-anak  tersebut. Sesungguhnya bukan anak-anak tersebut yang belum matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  sepakat dengan kedua sahabat saya tersebut, dan sedihnya adalah datang  sahabat saya yang ketiga ke kantor, sepasang suami istri menumpahkannya  keluhan-keluhan yang berkaitan dengan pendidikan dan sekolahnya anaknya.  Sebut saja Roihan, putranya yang dinyatakan tidak naik ke kelas 5 SD  oleh gurunya. Buat saya bukan ‘tidak naik’nya yang menjadi perhatian,  namun proses sampai Roihan tidak naik-lah yang perlu kita semua cermati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roihan,  saya sempat bertemu dengan dia. Roihan menurut saya adalah anak yang  cerdas, mempunyai kecerdasan kinestetis dan interpersonal. Bahkan dia  sampai hafal merk-merk mobil keluaran baru beserta harganya pula. Roihan  punya banyak teman di kelasnya. Namun dia kurang perhatian untuk  menerima materi dari para gurunya.&lt;br /&gt;Sayang sekali para gurunya tidak  memahami gaya belajar Roihan. Mereka kewalahan menghadapi Roihan,  apalagi tuntutan nilai ketuntasan dari sekolah membuat para guru ambil  jalan pintas, yaitu Roihan adalah anak ‘bodoh’ dan tidak akan pernah  berhasil sekolah.&lt;br /&gt;Jalan pintas itu kemudian dimunculkan menjadi  ‘peruntuhan kepercayaan diri’ Roihan. Sampai-sampai ada seorang guru  yang mengatakan bahwa Roihan tidak akan pernah naik ke kelas 5 nanti.  Pasti tidak naik. Jika mau naik, harus keluar dari sekolah ini dan harus  sekolah di pinggir kali (sungai). Dan banyak lagi pernyataan-pernyataan  yang ‘menjatuhkan’ mental Roihan.&lt;br /&gt;Akhirnya Roihan menjadi sosok  murid yang selalu dalam posisi salah dan disalahkan. Roihan berontak  terhadap keadaan yang dia rasa tidak adil ini. Namun pemberontakan  Roihan dianggap sebagai perilaku ‘nakal’ yang tak termaafkan lagi.&lt;br /&gt;Orangtuanya  juga pernah dipanggil dan datang ke sekolah untuk ‘complain’. Namun  guru-guru yang terlibat tidak mau berterus terang. Mereka tambah  membenci Roihan.&lt;br /&gt;Anda dapat membayangkan kondisi psikologis Roihan di  sekolah tersebut. Sangat menderita. Apalagi ‘peruntuhan kepercayaan  diri’ tersebut terus dilakukan oleh guru-guru yang tidak bertanggung  jawab secara terbuka di depan siswa-siswa yang lain. Roihan akhirnya  tidak mau sekolah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangtuanya bingung dan stres. Dan saya  sempat terpana mendengar cerita orangtuanya tentang Roihan. Wow .. saya  langsung ingat mas Hernowo dan bu Lara, yaitu penyakit mengobok-obok  siswa. Ternyata masih ada saja potret buram pendidikan di negeri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips  saya kepada orangtuanya sebagai berikut:&lt;br /&gt;Selamatkan Roihan dari  ‘sekolah robot’ tersebut. Pindahkan Roihan ke ‘sekolahnya manusia’. Saya  ceritakan bagaimana kisah Totto Chan juga pindah dari sekolah robot ke  sekolah Tomoe Gakuen, sekolahnya manusia. Totto Chan diselamatkan oleh  sekolah ini dan sekarang Totto Chan, nama aslinya Tetsuko Kuroyanagi  berhasil menjadi duta UNICEF untuk program pendidikan bagi negara-negara  yang terbelakang. Dan alhamdulilah Roihan pada tahun ajaran ini sudah  dipindahkan ke sekolahnya manusia. Semoga Roihan akan menjadi seperti  Totto Chan dan sukses dalam kehidupannya di dunia dan di akherat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu  masukan saya kepada masyarakat konsumen pendidikan, bahwa kita semua  harus hati-hati dan cermat memilih sekolah untuk anak kita. Terkadang  ada bungkus cantik yang memperdaya kita. Bungkus itu seperti embel-embel  sekolah favorit, sekolah unggul, padahal di dalamnya adalah ‘penjara’  buat anak kita. Kita orangtua tidak bisa merasakan, namun anak kita  bisa. Sekolah robot adalah sekolah yang para gurunya juga robot. Guru  robot adalah guru yang ingin ambil gampangnya saja. Mereka ingin  mengajar anak yang pinter-pinter dan baik-baik. Mereka sangat membenci  anak yang kurang pandai dan nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membedakannya dengan  sekolahnya manusia, dengarlah munajat doa yang dilantunkan oleh seorang  guru di sekolahnya manusia. Dialah gurunya manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulillah  ya Allah, tahun ini aku mendapat karunia dengan masuknya anak-anak yang  luar biasa, yang mana dengan anak-anak ini aku akan tertantang menjadi  agent of change buat diri mereka dan diriku sendiri. Terima kasih ya  Allah ... tahun ini aku belajar dari siswaku yang ‘tidak bisa diam’, aku  belajar dari siswaku yang sulit untuk memahami materi, aku belajar dari  siswaku yang nakal, yang setiap hari terus menggodaku.&lt;br /&gt;Aku  benar-benar bersyukur ya Allah, Engkau hadirkan mereka untuk aku. Bagiku  mereka adalah rizki. Bagaimana tidak, ilmuku bisa bertambah dengan  kehadiran mereka. Kesabaran ku bisa berlipat-lipat dengan kehadiran  mereka.&lt;br /&gt;Dan yang paling aku nikmati adalah ketika mereka tersenyum  dan membisikkan sebuah kalimat di telingaku ..’guru ... ternyata aku  bisa!’&lt;br /&gt;Bagaimana aku tidak berterima kasih kepadaMu Ya Allah, jika  kenikmatan hati ini terus setiap hari muncul di kelasku.&lt;br /&gt;Ya Allah  ...berikan kekuatan kepada ku, untuk terus berjuang menjadikan mereka  insan-insan yang nanti akan mempunyai manfaat, baik bagi dirinya  sendiri, keluarnya, masyarakatnya, bangsanya dan bagi agamanya. Amien ya  robbal alamien (Munif Chatib)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-3174483488931289733?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/3174483488931289733/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/07/balada-seorang-roihan-potret-buram.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/3174483488931289733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/3174483488931289733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/07/balada-seorang-roihan-potret-buram.html' title='BALADA SEORANG ROIHAN  - Potret buram pendidikan'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-5812040310326996815</id><published>2010-06-28T01:10:00.000-07:00</published><updated>2010-06-28T01:10:46.381-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='persaingan kakak-adik'/><title type='text'>Persaingan Si Kakak dan Si Adik</title><content type='html'>&lt;div class="post-2617 post type-post hentry category-sibling-rivalry tag-sibling-rivalry entry" id="post-2617"&gt;    &lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/TChY6xg8ieI/AAAAAAAAA5Q/x1MmNT75ZW0/s1600/sibling.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" src="http://2.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/TChY6xg8ieI/AAAAAAAAA5Q/x1MmNT75ZW0/s200/sibling.jpeg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3&gt;&amp;nbsp;&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Waspadalah. Tanpa intervensi, sibling rivalry bisa berlanjut hingga  dewasa. &lt;/h3&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt; Mitha (13 tahun) merasa kesal karena selalu disuruh mengalah pada  adiknya,&lt;br /&gt;Viera (10). ”Kenapa sih dari dulu saya disuruh mengalah terus,” teriak  gadis&lt;br /&gt;cilik yang menginjak remaja itu. &lt;br /&gt;Bila Mitha sedang bermain sesuatu, adiknya sering merebutnya.  Demikian pula&lt;br /&gt;sebaliknya, Mitha juga sering mengganggu adiknya, sehingga hampir setiap  hari&lt;br /&gt;dia rumahnya terjadi keributan di antara kakak beradik ini. Bila sudah&lt;br /&gt;demikian, ayah atau ibunya selalu menyuruh Mitha mengalah. Sebab, Mitha  kan&lt;br /&gt;‘lebih besar’. Hal seperti itu terjadi sejak mereka masih kecil.  Perselisihan&lt;br /&gt;model Mitha dan adiknya, menurut psikolog dari RS Dr Sardjito/Fakultas&lt;br /&gt;Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwi Susilowati SPsi, merupakan&lt;br /&gt;sibling rivalry alias persaingan antarsaudara kandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus perhatian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sibling rivalry adalah hal yang wajar pada anak menyesuaikan dengan  kondisi&lt;br /&gt;yang baru. Biasanya muncul jika ada kelahiran anak kedua, dan anak  pertama&lt;br /&gt;belum dipersiapkan lebih dulu bahwa dia akan mempunyai adik. ”Orang tua  yang&lt;br /&gt;tadinya fokus perhatiannya hanya pada anak pertama (ketika belum punya  adik),&lt;br /&gt;namun sejak kehadiran anak kedua, orang tua secara tidak sadar akan  lebih fokus&lt;br /&gt;ke anak kedua,” tutur Kiki, panggilan akrab Dwi Susilowati.&lt;br /&gt;Karena itu bila orang tua berniat untuk mempunyai anak lagi, saran  dia, si&lt;br /&gt;kakak harus dipersiapkan sejak si adik masih dalam kandungan. Misalnya,  si&lt;br /&gt;kakak diberi tahu bahwa dia akan mempunyai adik dan bila ada adik,  mainnya&lt;br /&gt;lebih enak daripada main sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kemudian kita yakinkan bahwa dengan kehadiran adik, adik masih  lemah,&lt;br /&gt;sehingga apa-apa harus dibantu, kakak kan sudah bisa main sendiri,  mengambil&lt;br /&gt;sendiri,” kata Kiki, ”Dengan demikian anak akan memahami bila si ibu  atau&lt;br /&gt;ayah akan lebih mendahulukan adiknya.” &lt;br /&gt;Kadang-kadang si kakak akan mengalami kecemburuan dengan adanya adik  baru.&lt;br /&gt;Tetapi, dengan bertambahnya usia, justru adik yang mengalami  kecemburuan.&lt;br /&gt;Misalnya, kakak usia lima tahun sudah bisa naik sepeda, sedangkan adik  usia 2-3&lt;br /&gt;tahun belum bisa naik sepeda dan ia iri pada kemampuan si kakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cari penyebabnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan sibling rivalry dialami oleh anak-anak sesuai tahapan  perkembangan.&lt;br /&gt;Misalnya, pada usia 2-3 tahun anak sedang berkembang keakuannya, ingin&lt;br /&gt;dihargai, ingin diakui bahwa mereka nomor satu dan paling disayangi  orang tua.&lt;br /&gt;Sehingga orang tua penting mengatur trik-triknya. Misalnya: kakak pintar  dan&lt;br /&gt;bagus dalam hal merapikan pakaian, adik pintar bila bertemu orang  langsung&lt;br /&gt;bersalaman, sehingga tidak ada pembedaan. ”Kita memperlakukan adik dan  kakak&lt;br /&gt;sama, tetapi tidak membandingkan atau membedakan,” kata Kiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kadang sibling rivalry itu tidak terjadi saat anak masih  balita,&lt;br /&gt;melainkan ketika sudah usia SD. Misalnya, anak ingin nomor satu, ingin  mendapat&lt;br /&gt;perhatian lebih dari orang tua, dan sebagainya. Sibling rivalry juga  bisa&lt;br /&gt;muncul antar sepupu. Misalnya, ketika pascagempa di Yogyakarta, orang  tuanya&lt;br /&gt;menampung keluarga kakak/adik yang rumahnya hancur. Dulu ketika berbeda  rumah,&lt;br /&gt;si anak mau berbagi dengan sepupunya. Tetapi ketika saudara sepupunya  tinggal&lt;br /&gt;serumah, si anak tidak mau lagi berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kiki, sebetulnya yang penting adalah bagaimana orang tua  menyikapi&lt;br /&gt;lebih dari satu anak, bagaimana membagi perhatian kepada anak-anak dan&lt;br /&gt;menyikapi terjadinya persaingan/kecemburuan tersebut. Namun, sering kali  sikap&lt;br /&gt;orang tua dengan sadar atau tidak menyuruh si kakak mengalah dengan  adik,&lt;br /&gt;menyuruh menjaga si adik, karena si kakak sudah besar. &lt;br /&gt;”Sikap itu justru akan menjadikan sikap kecemburuan yang besar si  kakak&lt;br /&gt;terhadap si adik,” katanya. Menurut alumni Fakultas Psikologi UGM ini,  adalah&lt;br /&gt;tidak bijak jika kakak disuruh selalu mengalah. ”Kita harus melihat  latar&lt;br /&gt;belakangnya penyebab kenapa ramai antara kakak dan adik? Untuk itu harus  ada&lt;br /&gt;pendekatan lain.” Apabila kakak dan adik selalu bertengkar, dua-duanya  harus&lt;br /&gt;salah dan menanggung akibat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Introspeksi dulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Psikolog dari RS Dr Sardjito/FK UGM Dra Yemima Triwuryani  Psi,&lt;br /&gt;lebih mengartikan sibling rivalry sebagai emosi iri yang terjadi  antarorang&lt;br /&gt;yang mempunyai hubungan dekat. Emosi iri atau iri hati itu harus  dikendalikan,&lt;br /&gt;karena tidak sehat. Bagaimanapun iri hati itu buruk, kalau dia sampai  bersikap&lt;br /&gt;positif itu karena dia justru bisa mengendalikan iri hati. Sibling  rivalry yang&lt;br /&gt;terjadi sejak usia anak-anak, jika tidak diintervensi dengan baik itu  akan&lt;br /&gt;berlanjut sampai dewasa. Emosi iri itu sulit menyelesaikannya, karena&lt;br /&gt;percampuran dari marah, benci, dan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyelesaikan masalah sibling rivalry yang terjadi antara  kakak-beradik,&lt;br /&gt;orang tua harus menganalisis dulu, kira-kira apa penyebabnya? ”Itu  pertanyaan&lt;br /&gt;yang tidak mudah untuk dijawab dan harus betul-betul ada kesungguhan dan&lt;br /&gt;pengertian orang tua untuk mengerti anaknya, baik yang diirikan maupun  yang&lt;br /&gt;tidak,” tutur Yemima. Banyak kasus penyebabnya secara fisik, misalnya:  satunya&lt;br /&gt;cantik dan satunya tidak, satunya kulit hitam dan putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua di bawah sadar kerap membedakan hal itu. Sebab, orang tua  mempunyai&lt;br /&gt;pandangan hidup, filsafat hidup mengenai orang, misalnya orang itu  bahagia&lt;br /&gt;kalau pandai, cantik, putih kulitnya, dan itu terekspresi ketika punya  anak.&lt;br /&gt;Berbeda halnya bila pandangan orang bahwa bahagia itu adalah orang yang&lt;br /&gt;jalannya lurus dan baik. Soal orangnya pendek, hitam, tidak terlalu  pandai, itu&lt;br /&gt;tidak masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kata Yemima, bila mau memanage atau mengintervensi anak yang  sibling&lt;br /&gt;rivalry, orang tuanya harus melakukan introspeksi diri lebih dulu.  Sesungguhnya&lt;br /&gt;setiap orang itu ada emosi iri, tetapi ada yang mampu mengendalikan. &lt;br /&gt;Anak-anak yang tidak bisa mengendalikan emosi iri akan berperilaku  negatif.&lt;br /&gt;Anak akan berperilaku buruk supaya orang tua marah, dia akan ‘menghukum’  orang&lt;br /&gt;tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak iri hati itu adalah anak banyak menuntut secara materi. Dan,  orang&lt;br /&gt;tua bertugas bagaimana agar sang anak tidak dikuasai emosi iri. Yemima&lt;br /&gt;menyarankan agar orang tua memberi dukungan dan perhatian kepada anak  yang&lt;br /&gt;dalam posisi ‘kurang’ dari saudaranya. Yang sering banyak terjadi justru  yang&lt;br /&gt;banyak kekurangan itu yang sering disalahkan. Jika tidak bisa mengatasi  sibling&lt;br /&gt;rivalry yang terjadi, Yemima menyarankan orang tua agar tak segan  meminta&lt;br /&gt;bantuan orang yang profesional.(republika.co.id)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-5812040310326996815?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/5812040310326996815/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/06/persaingan-si-kakak-dan-si-adik.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/5812040310326996815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/5812040310326996815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/06/persaingan-si-kakak-dan-si-adik.html' title='Persaingan Si Kakak dan Si Adik'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/TChY6xg8ieI/AAAAAAAAA5Q/x1MmNT75ZW0/s72-c/sibling.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-213390583177809621</id><published>2010-06-26T22:32:00.003-07:00</published><updated>2010-06-26T22:32:44.229-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-213390583177809621?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/213390583177809621/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/06/blog-post.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/213390583177809621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/213390583177809621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/06/blog-post.html' title=''/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-4628344449746542461</id><published>2010-06-26T07:01:00.001-07:00</published><updated>2010-06-26T07:09:26.536-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak cengeng'/><title type='text'>Agar Anak Tak Cengeng</title><content type='html'>1. Khawatir boleh,tapi jangan berlebihan.&lt;br /&gt;Kendalikan kekhawatiran ibu,jangan dinampakkan di raut muka.Separah apapun kondisi anak,ibu hrs terlebih dahulu menenangkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tegas itu perlu.&lt;br /&gt;Tindakan ibu yg sesekali mengabulkan permintaan anak dan menolaknya di kesempatan yg lain akan membuat anak tak memiliki kepastian.Anak akan  menangis dgn harapan ibu akan menuruti permintaannya.Kecuali jika mrk tahu pasti bhw ibu tak akan mengabulkan permintaannya,mrk tak akan menangis,krn tahu akan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penuhi rasa aman&lt;br /&gt;anak.&lt;br /&gt;Jangan memaksa anak utk menghilangkan rasa takutnya.Hindari komentar seperti,"Tak usah takut,nggak ada apa-apa kok."Atau,"Ah,begitu saja kok takut."&lt;br /&gt;Ketika anak menangis,peluk mrk terlebih dulu utk menumbuhkan perasaan aman.Satu atau dua menit berikutnya,barulah mrk bisa diyakinkan bhw kekhawatiran mrk tak terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Latih anak menguatkan mentalnya.&lt;br /&gt;Ketika anak menghadapi suasana menegangkan,latih mrk utk menguasai diri.Saat mrk mulai menangis,tenangkan hati mrk dgn sabar.&lt;br /&gt;"Sabar, sayang.Kita cari bersama trukmu yg hilang.Kalau kau mencarinya dgn menangis,justru tdk akan terlihat olehmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Beri pujian ketika berhasil.&lt;br /&gt;Jangan pusatkan perhatian pada kesalahannya.Diamkan dan jangan beri perhatian baik berupa kata penghibur atau omelan saat anak menangis tanpa sebab.Sebaliknya,segera beri pujian,perhatian,dan sentuhan kasih sayang manakala anak sesekali berhasil menahan tangisnya.&lt;br /&gt;(Irawati Istadi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-4628344449746542461?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/4628344449746542461/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/06/agar-anak-tak-cengeng.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/4628344449746542461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/4628344449746542461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/06/agar-anak-tak-cengeng.html' title='Agar Anak Tak Cengeng'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-4371889237057690851</id><published>2010-05-20T02:11:00.000-07:00</published><updated>2010-05-20T02:11:53.323-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak gemar membaca'/><title type='text'>10 Cara Agar Anak Suka Membaca</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;1.Buatlah daftar buku-buku yang dapat Anda  baca bersama dengan anak, dan lihatlah seberapa banyak mereka membaca.  Apakah itu dua halaman ataupun 200 halaman, catatlah kemajuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Pastikan  bahwa anak-anak dapat menjangkau buku-buku yang ada di rumah dengan  mudah. Jika buku cerita "Dr Seuss" lebih dekat daripada Digital Video  Recorder (DVR), maka anak-anak akan lebih mungkin menggapainya daripada  nonton video.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;3.Jadilah contoh dengan membaca sendiri.  Anak-anak pasti akan segera mengikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Bukan hanya buku yang  dapat dibaca. Seperti halnya Anda suka membaca majalah, ajarkan hal yang  sama pada anak-anak untuk membaca apa pun yang mereka suka seperti  komik, bahkan buku petunjuk game pun bisa membuat mereka suka membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Radio  bukan satu-satunya yang dapat anda dengarkan. Mintalah pada anak-anak  untuk membaca keras-keras, sehingga Anda bisa mendengarkan. Jadi Anda  dapat mengetahui kemajuan yang mereka capai dan mengetahui kesulitan  yang mungkin mereka hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Untuk acara-acara khusus, berikan  hadiah buku untuk anak anda dengan bungkus yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;img align="left" border="0" src="http://www.rileks.com/images/stories/2009/juni/lifestyle/tips/baca-1.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;7.Anak-anak belajar  membaca pada kecepatan yang berbeda. Berikan mereka waktu untuk membaca,  dan tidak perlu memberi target per halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.Tinggalkan buku  disamping tempat tidur anak-anak. Jika anda menganjurkan mereka agar  membaca beberapa menit setiap malam sebelum tidur, maka mereka akan  menjadi rajin membaca buku tanpa kenal waktu. Akhirnya Anda juga akan  diminta membacakan buku dengan suara keras pada mereka. Setelah semuanya  itu, apa yang lebih baik selain cerita sebelum tidur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.Saat  liburan sekolah, tetap anjurkan anak-anak untuk membaca secara teratur.  Hal ini akan membuat mereka lebih pandai saat kembali ke sekolah.  Daripada melihat anak-anak bertengkar, lebih baik bersantai sambil  membaca.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;10.Semua anak-anak senang berpetualangan. Buatlah  petualangan kecil saat pergi ke perpustakaan atau ke toko buku. Hal ini  akan sangat menyenangkan mereka sehingga membuat mereka terus ingin  pergi ke sana.&lt;strong&gt;(rileks.com)&lt;/strong&gt;&lt;!-- JOM COMMENT START --&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-4371889237057690851?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/4371889237057690851/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/05/10-cara-agar-anak-suka-membaca.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/4371889237057690851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/4371889237057690851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/05/10-cara-agar-anak-suka-membaca.html' title='10 Cara Agar Anak Suka Membaca'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-7505338714523508056</id><published>2010-05-19T00:47:00.000-07:00</published><updated>2010-05-19T00:47:12.728-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak dimarahi'/><title type='text'>Marah Pada Anak, Perlukah?</title><content type='html'>Setiap kali pulang kerja, kita pasti membayangkan rumah dalam keadaan rapi dan bersih, anak-anak sudah mandi dan tak berulah macam-macam sehingga kita bisa sejenak melepaskan kepenatan. Tapi bila yang terjadi ternyata sebaliknya, apa yang sebaiknya kita lakukan? Tetap bermuka manis dan menganggap seolah tak terjadi apa-apa. Atau mengekspresikan kemarahan kita di depan anak-anak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian di atas beberapa kali kualami. Saat sedang lelah dan butuh tidur siang sejenak, tiba-tiba si kecil merengek minta ditemani bermain. Atau tiba-tiba saja dia mengeluh lapar dan haus padahal baru beberapa menit yang lalu mbak pengasuh menyuapinya dan memberinya segelas susu.Belum lagi kalau aku pulang terlambat, dia akan protes dengan 'memporakporandakan' mainannya di berbagai sudut rumah atau menurunkan semua koleksi bukuku hingga bertebaran kemana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat hatiku sedang mood, semua kerewelannya bisa kuatasi dengan baik. Kucoba menjelaskan semuanya dengan kepala dingin dan berusaha sekeras mungkin untuk tidak terpancing dengan ulahnya walau kemarahan sudah memuncak di ubun-ubun. Tapi kalau lagi bad mood, tak sadar mulutku mengeluarkan kata-kata yang bisa jadi menyakiti hatinya dan akhirnya hanya akan menimbulkan penyesalan yang mendalam saat ia terisak-isak di pojok kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya perlukah menunjukkan ekspresi marah pada anak?  Perlu, ekspresi marah yang wajar  dan dapat diterima oleh anak sangatlah sulit dilakukan, jangan  membentak,  mencela atau melakukan pemukulan, akan tetapi tunjukkanlah rasa marah  itu untuk  memberikan kesan yang dapat ditangkap oleh anak bahwa Anda  bersungguh-sungguh  terhadap kesalahan yang dilakukannya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan pada anak berupa pemukulan dan penyiksaan justru mengekang  pengembangan kepribadian, dampak-dampak maladaptif dikemudian hari  diperkirakan  akan terbentuk dengan di awali dengan kekerasaan sejak dini. Kontrol  emosi orang  tua sangat dibutuhkan agar rasa marah tidak meletup menjadi buah  kekerasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu yang terlalu lelah dan merasa tertekan cenderung emosional, kemudian seringkali meluapkan kemarahan kepada anak, meskipun anak belum tentu bersalah. Jika Anda termasuk salah satu ibu yang demikian, ikuti saja beberapa langkah berikut untuk mengatasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pahami terlebih dahulu. Apakah gejala awal yang Anda alami saat mulai merasa emosi? Kapan kemarahan Anda meledak? Begitu Anda mulai merasa emosi, segera hentikan apa pun yang sedang Anda lakukan, kemudian pergilah ke tempat di mana Anda bisa menyendiri dan menenangkan diri. Ingatkan diri sendiri, bahwa Anda sedang berusaha melawan kemarahan yang Anda rasakan dan bukan melawan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Temukan kata yang menenangkan. Saat ada waktu, pikirkan kata atau kalimat apa yang kira-kira dapat&lt;br /&gt;menenangkan Anda, kapan pun Anda merasa sedang emosi. Misalnya : "Sabar, namanya juga anak-anak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Apa yang Anda, anak dan orang lain pikirkan menqenai apa yang Anda lakukan? Saat Anda sedang merasa tenang, bayangkan apa yang Anda, anak dan orang lain pikirkan mengenai apa yang Anda lakukan terhadap anak, jika Anda sedang marah kepadanya. Apa akibat dari apa yang Anda lakukan, hanya karena emosi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Anggap sebagai permainan. Anggap saja kemampuan mengontrol emosi sebagai permainan. Jika emosi Anda meledak, berarti Anda kalah, sedangkan Anda seharusnya bisa memenangkan permainan tersebut. Apa yang bisa Anda peroleh dengan memenangkan permainan tersebut? Penghargaan dan kasih sayang dari anak, orang-orang yang Anda sayangi dan juga diri Anda sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tertawakan saja. Mungkin anak memang sedang menguji kesabaran Anda. Jika biasanya emosi Anda dengan cepat meledak saat anak melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang Anda inginkan, bagaimana jika Anda mencoba untuk mentertawakannya saja? Setelah itu, katakan kepada diri sendiri, "Masa begitu saja marah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Minta bantuan kepada anak. Berikan kepercayaan kepada anak untuk membantu Anda. Untuk itu, Anda perlu meminta bantuan kepada anak. Jangan hanya bisa mempersalahkan anak, karena Anak pasti akan lebih mudah diajak bekerja sama, jika Anda memintanya baik-baik. Misalnya : "Mama tidak bisa mengantar kamu ke sekolah, kalau kamu tidak mau memakai baju.Kalau kamu tidak bersekolah, mama yang sedih" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Pandangi cermin. Kapan saja Anda merasa marah, pandang bayangan wajah Anda dalam cermin. Apakah Anda menyukai apa yang Anda lihat? Jika tidak, apa yang bisa Anda lakukan untuk mengubahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;8. Segarkan diri. Mencuci muka atau mandi dengan air dingin pasti bisa membuat Anda merasa lebih segar dan nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;9. Tarik papas dalam-dalam. Hirup udara segar dengan menggunakan hidung, sedalam mungkin. Alirkan udara segar tersebut ke perut, kemudian hembuskan keluar melalui mulut. Lakukan beberapa kali, hingga Anda merasa lebih tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Bagaimana dengan curhat? Usahakan sebisa mungkin untuk tidak meluapkan emosi kepada anak. Lebih baik Anda segera menyambar gagang telepon, untuk menceritakan tentang apa yang Anda rasakan kepada sahabat dekat sesama ibu. Minta kepada sahabat Anda untuk mengatakan sesuatu yang dapat membuat Anda merasa lebih tenang dan gembira. Dan jangan lupa melakukan hal yang sama untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="verdana0"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="verdana0"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-7505338714523508056?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/7505338714523508056/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/05/marah-pada-anak-perlukah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/7505338714523508056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/7505338714523508056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/05/marah-pada-anak-perlukah.html' title='Marah Pada Anak, Perlukah?'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-7179277203162130462</id><published>2010-05-10T01:06:00.000-07:00</published><updated>2010-05-10T01:07:24.621-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='taman bacaan'/><title type='text'>Karena Buku, Anak Menjadi Kreatif</title><content type='html'>&lt;div class="Content"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/S-e-WbyMPUI/AAAAAAAAA4o/T_zv3TDNrxc/s1600/buku.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/S-e-WbyMPUI/AAAAAAAAA4o/T_zv3TDNrxc/s320/buku.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Minimnya etos wirausaha pada generasi muda, direspon Savitry  Indrawardhany [34] dengan cara mengelola Taman Bacaan Anak Keluarga  Pelangi. Menempati rumah kontrakan di bilangan Pancoran, Jakarta Selatan  sejak tahun 2002, Iin memupuk etos wirausaha anak asuhannya dengan cara  ‘melek media’ yang dipahaminya selama kuliah di Fakultas Ilmu  Komunikasi IISIP, Jakarta, 1998.&lt;br /&gt;“Anak-anak ditekankan pada pola pikir untuk membantu orangtua, karena  mereka dari golongan ekonomi lemah. Mereka kami modali untuk  menumbuhkan life skill yang mandiri sekaligus penuh percaya diri,”  akunya menjelaskan cara menanam benih wiraswasta pada anak asuhnya.  Bahkan, Asep, salah seorang angkatan pertama Keluarga Pelangi, kini  telah mampu mandiri. “Sekarang dia sudah punya sebuah sepeda motor  cicilan yang digunakan untuk membantu usaha keluarganya. Bayangkan,  tadinya dia anak dari seorang mustahik [yang berhak mendapat zakat] tapi  kini sudah mampu memberi kepada orang lain seperti seorang muzakki  [orang wajib zakat],” papar ibu dua anak ini sumringah.&lt;br /&gt;Taman Bacaan Anak, telah dimaknai Iin sebagai pintu awal untuk  menghidupkan ‘tangan kreatif’ setiap anak asuhnya. Dan ia mengerjakan  itu dengan cukup senang meski tetap mengandung risiko. “Tantangan  terberatnya adalah anak asuh yang mulai meluntur semangatnya. Mereka  sudah termakan zaman dan tak mampu menjaga dirinya sendiri. Tapi saya  merasa bersyukur, karena dengan adanya anak-anak Keluarga Pelangi,  anak-anak saya mendapat teman bermain dan belajar,” katanya.&lt;br /&gt;Untuk menjaga kelangsungan Keluarga Pelangi, operator UNICEF selama  menjadi mahasiswa ini, melebarkan jejaring dengan para relawan yang  diorganisir oleh 1001buku. Iin berharap akan membuat Muharram Award  sebagai ajang kreativitas anak muslim. “Dengan Muharram Award, saya  membayangkan anak-anak akan terpacu untuk terus kreatif menggapai  cita-citanya,” harapnya.&lt;br /&gt;Dengan modal koleksi buku, film, dan permainan cerdas, Iin bisa  memupuk kreativitas anak-anak di sekitar rumah kontrakannya. Dan ia  melakukannya, di tengah harga media pembelajaran yang terus merangkak  naik. Tapi dia yakin itu akan berhasil. Anda bisa juga mencontohnya,  lho.(alifmagz.com)&lt;br /&gt;&lt;span style="clear: both; display: none;"&gt;&lt;img alt="" height="0" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/plugins/wp-spamfree/img/wpsf-img.php" style="border-style: none; display: none; height: 0px; width: 0px;" width="0" /&gt;&lt;/span&gt;                 &lt;/div&gt;&lt;hr size="1" /&gt;&lt;h3&gt;Beri komentar&lt;/h3&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-7179277203162130462?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/7179277203162130462/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/05/karena-buku-anak-menjadi-kreatif.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/7179277203162130462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/7179277203162130462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/05/karena-buku-anak-menjadi-kreatif.html' title='Karena Buku, Anak Menjadi Kreatif'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/S-e-WbyMPUI/AAAAAAAAA4o/T_zv3TDNrxc/s72-c/buku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-8752738633968613199</id><published>2010-05-10T00:37:00.000-07:00</published><updated>2010-05-10T01:14:18.824-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Multiple Intelligences'/><title type='text'>Sekolahnya Manusia, Bukan Sekolah Robot</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/S-fAUxM_GZI/AAAAAAAAA44/zrUaI91V4Lo/s1600/multiple-intelligences.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/S-fAUxM_GZI/AAAAAAAAA44/zrUaI91V4Lo/s320/multiple-intelligences.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="bordercolor"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="padding: 1px 1px 0pt;"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="3" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="windowbg"&gt;&lt;table cellpadding="5" cellspacing="0" style="table-layout: fixed;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td rowspan="2" style="overflow: hidden;" valign="top" width="16%"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td height="100%" valign="top" width="85%"&gt;&lt;table border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;         &lt;td valign="middle"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td valign="middle"&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td align="right" height="20" style="font-size: smaller;" valign="bottom"&gt;&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;hr class="hrcolor" size="1" width="100%" /&gt;&lt;div class="post"&gt;Belajar = Bermain dan Bermain = Belajar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah  bagi Edi tak ubahnya&amp;nbsp; penjara. Ketika masih di TK, Edi tak pernah mau  berangkat sekolah.&amp;nbsp; Baginya, sekolah hanya menghalangi keasyikannya  bermain.&amp;nbsp; Akibatnya, Edi tak bisa membaca dan menulis serta selalau  ‘fobia’ pada hal-hal yang berbau sekolah.&amp;nbsp; Orangtua Edi dibuat resah  oleh tingkah laku sang anak yang dianggap nyeleneh dari kebiasaan umum  anak-anak seusianya.&amp;nbsp; Apakah hal ini merupakan indikator bahwa Edi  adalah anak yang malas?&amp;nbsp; Ataukah justru jenis pembelajaran di sekolah  yang menghalangi tumbuh kembangnya kecerdasan Edi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan  mulai terjawab ketika Edi memasuki tingkat sekolah dasar.&amp;nbsp; Pada  masa-masa awal bersekolah, Edi masih bermalas-malasan dan tidak semangat  dalam mengikuti&amp;nbsp; pelajaran.&amp;nbsp; Untungnya guru-guru di SD tersebut mampu  mengenali potensi kecerdasan Edi, yaitu kinestetis (gerak) dan spasial  visual (ruang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode pembelajaran klasikal-ortodoks yang  mewajibkan anak didik duduk manis dan diam di sebuah ruang berukuran 5 x  15 m selama enam jam atau bahkan lebih tentulah sangat membosankan bagi  seorang Edi yang sangat menyukai gerak dan ruang luas.&amp;nbsp; Setelah  menyadari jenis kecerdasan yang dimiliki Edi, para guru memberikan  aktivitas&amp;nbsp; yang membuat Edi senang dan tertarik mengikutinya seperti  aktivitas learning by sport dan learning by painting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat  belajar bahasa Indonesia, Edi tidak lagi duduk di kelas dan mendengarkan  guru ‘berceramah’.&amp;nbsp; Edi bersama teman-teman dan guru bahasa  Indonesianya keluar dari kelas dan berkeliling sekolah, mulai dari  lapangan, tempat parkir, bahkan sesekali ke luar sekolah. Saat  berkeliling itulah, guru mempersilakan Edi dan teman-temannya untuk  secara bergantian menceritakan apa saja yang menurutnya menarik untuk  diceritakan.&amp;nbsp; Guru juga bercerita dan menjelaskan berbagai benda yang  ditemui di jalan. Setelah itu barulah para siswa kembali ke kelas untuk  menceritakan perjalanan yang baru saja dilakukan.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, Edi  mulai enjoy dengan sekolah karena kegiatan belajar dikemas sedemikian  rupa sehingga Edi merasakan bahwa belajar adalah bermain dan bermain  adalah belajar.&amp;nbsp; Kini, sekolah adalah tempat bermain paling mengasyikkan  bagi Edi dan murid-murid lain yang memiliki tipe kecerdasan yang sama  dengan Edi.&amp;nbsp; Bahkan, saking asyiknya dengan sekolah, pada saat sakit pun  Edi masih ingin masuk sekolah untuk belajar.&amp;nbsp; Luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah  dari &lt;i&gt;Sekolahnya Manusia, Sekolah Berbasis Multiple Intelligences di  Indonesia &lt;/i&gt;(penulis: Munif Chatib), adalah sebuah contoh tentang  keberhasilan dari pembelajaran sistem multiple intelligences.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya  sekolah-sekolah di Indonesia sudah menerapkan Multiple Intelligences&lt;/div&gt;&lt;div class="post"&gt;(dudung.net) &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;       &lt;td class="smalltext" valign="bottom" width="85%"&gt;&lt;table border="0" style="table-layout: fixed;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;         &lt;td class="smalltext" colspan="2" width="100%"&gt;&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;         &lt;td class="smalltext" id="modified_214889" valign="bottom"&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td align="right" class="smalltext" valign="bottom"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="padding: 0pt 0pt 1px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=741515865296103408&amp;amp;postID=8752738633968613199" name="lastPost"&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td class="middletext"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td align="right" style="padding-right: 1ex;"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;         &lt;td class="maintab_first"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td class="maintab_back"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td class="maintab_last"&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;script language="JavaScript" src="http://forum.dudung.net/Themes/default/xml_topic.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt; &lt;script language="JavaScript" type="text/javascript"&gt;&lt;!-- // --&gt;&lt;![CDATA[ quickReplyCollapsed = true; smf_topic = 15225; smf_start = 0; smf_show_modify = 1; // On quick modify, this is what the body will look like. var smf_template_body_edit = '&lt;div id="error_box" style="padding: 4px; color: red;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;textarea class="editor" name="message" rows="12" style="width: 94%; margin-bottom: 10px;"&gt;%body%&lt;/textarea&gt;&lt;input type="hidden" name="sc" value="54741c04acf8c29a10efa8ee569cfc12" /&gt;&lt;input type="hidden" name="topic" value="15225" /&gt;&lt;input type="hidden" name="msg" value="%msg_id%" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;input type="submit" name="post" value="Save" onclick="return modify_save(\'54741c04acf8c29a10efa8ee569cfc12\');" accesskey="s" /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;input type="submit" name="cancel" value="Cancel" onclick="return modify_cancel();" /&gt;&lt;/div&gt;'; // And this is the replacement for the subject. var smf_template_subject_edit = '&lt;input type="text" name="subject" value="%subject%" size="60" style="width: 99%;"  maxlength="80" /&gt;'; // Restore the message to this after editing. var smf_template_body_normal = '%body%'; var smf_template_subject_normal = '&lt;a href="http://forum.dudung.net/index.php?PHPSESSID=43b89603f26f2257426cdee7068f4f73&amp;amp;topic=15225.msg%msg_id%#msg%msg_id%"&gt;%subject%&lt;/a&gt;'; var smf_template_top_subject = "Topic: %subject% &amp;nbsp;(Read 545 times)" if (window.XMLHttpRequest)  showModifyButtons();// ]]&gt;&lt;/script&gt; &lt;br /&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" style="margin-bottom: 1ex;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td valign="top"&gt;&lt;div class="nav" style="font-size: smaller; margin-bottom: 2ex; margin-top: 2ex;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a class="nav" href="http://forum.dudung.net/index.php?PHPSESSID=43b89603f26f2257426cdee7068f4f73&amp;amp;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;a class="nav" href="http://forum.dudung.net/index.php?PHPSESSID=43b89603f26f2257426cdee7068f4f73&amp;amp;topic=15225.0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;td align="right" class="nav" valign="top"&gt;&lt;a href="http://forum.dudung.net/index.php?PHPSESSID=43b89603f26f2257426cdee7068f4f73&amp;amp;topic=15225.0;prev_next=prev#new"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://forum.dudung.net/index.php?PHPSESSID=43b89603f26f2257426cdee7068f4f73&amp;amp;topic=15225.0;prev_next=next#new"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" style="margin-left: 1ex;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="tborder"&gt;&lt;div align="right" class="titlebg2" style="padding: 4px;"&gt;&lt;form accept-charset="UTF-8" action="http://forum.dudung.net/index.php?PHPSESSID=43b89603f26f2257426cdee7068f4f73&amp;amp;" method="get" style="margin: 0pt; padding: 0pt;"&gt;&amp;nbsp;   &lt;input onclick="if (this.form.jumpto.options[this.form.jumpto.selectedIndex].value) window.location.href = 'http://forum.dudung.net/index.php' + this.form.jumpto.options[this.form.jumpto.selectedIndex].value;" type="button" value="go" /&gt;  &lt;/form&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-8752738633968613199?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/8752738633968613199/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/05/sekolahnya-manusia-bukan-sekolah-robot.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/8752738633968613199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/8752738633968613199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/05/sekolahnya-manusia-bukan-sekolah-robot.html' title='Sekolahnya Manusia, Bukan Sekolah Robot'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/S-fAUxM_GZI/AAAAAAAAA44/zrUaI91V4Lo/s72-c/multiple-intelligences.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-46878404719564583</id><published>2010-03-15T00:43:00.000-07:00</published><updated>2010-03-15T00:43:29.259-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak dimarahi'/><title type='text'>Anak Yang Sering Dimarahi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/S53kwupQH9I/AAAAAAAAA4Y/4azUaFc_2qU/s1600-h/sad.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/S53kwupQH9I/AAAAAAAAA4Y/4azUaFc_2qU/s200/sad.jpeg" width="133" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Seorang ibu muda bangga ketika anaknya sudah tidak lagi mengalami sibling rivalry, ketika anak pertamanya mampu mengasuh adiknya, sang ibu ini sangat bangga dengan kepatuhan anaknya, anak pertamanya memang sangat patuh bahkan cenderung pasiv. Setiap ibunya menatap dengan tatapan tajam sang anak langsung mundur dari berbagai aktivitas dan segera memilih menghentikan aktivitas, sebuah perilaku yang menyenangkan menurut ibu muda tersebut tetapi belum tentu baik menurut Kesehatan Jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola asuh orang tua berpengaruh dalam perkembangan psikologis anak, seorang anak yang terlalu sering dibentak, seorang anak yang terlalu patuh dan penurut memiliki potensi untuk menjadi penderita Harga Diri Rendah, mengapa seorang anak yang diasuh dengan cara kasar tersebut mengalami Harga Diri Rendah? karena anak tidak pernah mendapatkan reward terhadap apa yang telah ia lakukan. Akibat anak tidak mendapatkan reward maka dia akan merasa tidak berharga, merasa selalu salah, merasa tidak memiliki kelebihan dan merasa tidak memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola asuh orang tua yang salah justru membuat kebanggaan anak terhadap dirinya menjadi runtuh, anak menjadi sangat tergantung dengan orang lain, kehilangan kemampuan untuk membuat keputusan sendiri dan cenderung ragu - ragu dengan apa yang akan dia lakukan, tanpa dukungan dari orang tua secara penuh maka anak menjadi sangat pasiv, kemampuan yang sangat sederhana yang dia miliki tidak akan dia keluarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola asuh yang sangat keras bahkan bisa meninggalkan satu dampak psikologis buruk anak di masa depan, jika mereka kemudian menanamkan mindset yang salah tersebut kedalam benaknya dan menganggap bahwa diri mereka tidak berharga maka anak akan menjadi menjauh dari interaksi sosial, orang tua yang belum menyadari pengaruh pola asuh terhadap perkembangan psikologisnya cenderung membuat anak gagal di masa depannya, mereka gagal memahami diri, gagal memahami orang lain dan menurunkan impian bahkan visi hidupnya ke taraf yang paling rendah.(Imron Rosyidi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-46878404719564583?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/46878404719564583/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/03/anak-yang-sering-dimarahi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/46878404719564583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/46878404719564583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2010/03/anak-yang-sering-dimarahi.html' title='Anak Yang Sering Dimarahi'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/S53kwupQH9I/AAAAAAAAA4Y/4azUaFc_2qU/s72-c/sad.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-3521624273284572727</id><published>2009-09-17T11:09:00.000-07:00</published><updated>2009-09-16T20:50:38.644-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ibu RT'/><title type='text'>Jadi Full Time Mother?!Siapa Takut......</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Hari-hari ini Ana sedang bingung. Amir, sang suami memintanya berhenti bekerja kantoran karena merasa gajinya kini sebagai seorang General Manager di sebuah perusahaan konstruksi telah mampu menopang ekonomi keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Amir, kini saatnya Ana memberikan konsentrasi perhatian bagi keluarga. Amir tidak sama sekali mematikan bakat Ana, justru ia memberikan banyak pilihan alternative pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa harus jadi pegawai kantoran. Akan tetapi, tetap saja Ana bingung. Ia yang setiap hari menghabiskan waktu bekerja di kantor, tiba-tiba harus “tinggal diam” di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah… saya takut nanti jadi "pengangguran" yang tak punya kegiatan apapun,” ungkap Ana. Bila Anda juga mengalami hal serupa ini, tak perlu khawatir, “tinggal” di rumah ternyata tak kalah asyiknya dengan bekerja di kantor. Segudang aktivitas dan banyak hal baru bisa Anda lakukan. Apa saja? Simak terus jawabannya di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bisa Punya Usaha Sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ita yang berhenti bekerja di sebuah bank karena harus ikut suaminya ke Amerika, pun berbagi cerita. “Di Amerika, saya terbiasa memasak sendiri untuk keluarga. Maka, sepulang dari sana, saya jadi jago masak. Ketika sekolah anak saya membuka tawaran menyediakan makanan untuk para guru dan murid, saya pun mencobanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Ita pun menekuni usaha catering beromzet Rp 6 juta per minggu. Nah, jika Anda punya kemampuan untuk bekerja di rumah, mengapa tak berani mencobanya? Misalnya, Anda terampil membuat kue, cobalah menawarkannya ke orang-orang terdekat lebih dulu. Coba tawarkan kue ke mantan rekan kerja dulu. Bicara soal resep kue, kini kudapan buatan Anda dijamin bakal lebih istimewa rasanya bila ditambah susu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Jadi Bos Bagi Diri Sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kerja di kantoran, Anda tentu harus tunduk pada aturan atasan. Namun, ketika Anda putuskan bekerja sendiri dari rumah, tentu saja Anda sendiri yang memutuskan kapan mulai bekerja dan kapan beristirahat. Anda tak perlu takut lagi dipelototi si bos, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak bekerja dari rumah sebagai editor, saya bebas menentukan sendiri waktu kerja saya. Yang penting, urusan deadline terpenuhi. Bahkan, ketika bekerja, saya pun bisa memakai kaos santai atau kadang pakai daster, tak ada yang protes, bukan?” tutur Evi, yang berhenti kerja sebagai wartawan dan memutuskan bekerja di rumah sebagai editor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bisa Bebas Tekuni Hobi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bekerja di kantor, waktu pun terasa “berlari” hingga rasanya tak punya waktu untuk menjalankan hobi. Nah, saat memutuskan di rumah saja, mengapa Anda tak mencoba menekuni kembali hobi lama yang selama ini terlupakan? “Saat kerja kantoran, saya tak sempat lagi memelihara tanaman. Kini, ketika tidak lagi bekerja, saya pun bisa punya banyak waktu luang untuk berkebun. Wah… rasanya senang sekali, hidup saya juga terasa lebih bersemangat,” ujar Ira, mantan sekretaris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bisa Puas Bersama Anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai.....hai.......inilah yang paling menarik!! Puas bersama anak, bersama berlian kita. Kita bisa menikmati moment-moment indah kapan dia mulai meraih tangan anda, kapan mulai tengkurep, kapan mulai tertawa, kapan mulai mengenali wajah.....dan.....heiiii yang pertama dia kenali adalah wajah cantik penuh cinta......mamanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan dia mulai merangkak, berdiri, berjalan, dll. Wow!! jangan sampai rugi! Masa-masa itu tidak akan pernah terulang!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat lulus kuliah lalu menikah, saya memang sepakat tak mau kerja kantoran karena ingin mengurus sendiri anak-anak kami. Menurut saya, masa anak-anak itu adalah masa-masa emas, saat yang tepat untuk menanamkan fondasi kuat bagi seorang anak. Maka, saya putuskan tak mau bekerja kantoran agar bisa melihat dan mengawasi setiap momen perkembangan yang dilalui anak-anak saya,” urai Desi, yang memutuskan membuka usaha penjahitan di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Bisa Lebih Merawat Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba hitung, ketika Anda masih kerja kantoran, berapa kali dalam sebulan masih punya waktu untuk pergi ke salon atau spa? Atau sempatkah Anda ikut kelas senam? Nah, ketika tak lagi terikat waktu, inilah saatnya bagi Anda untuk lebih merawat diri. Anda bisa ikut kelas senam mulai dari aerobik body language, pilates maupun yoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini selain berolahraga, Anda juga bisa punya teman baru. Atau seminggu sekali pergi ke salon, jalani berbagai perawatan mulai dari creambath, manicure, pedicure, dsbnya. Dijamin, penampilan Anda bakal lebih fresh, lebih cantik dan tentu saja suami pun jadi lebih cinta! Buat suami anda akan merasa sangat rugi kalau sampai terpikir melirik perempuan lain di manapun! Karena ada anda, yang mempunyai segalanya yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Bisa banyak belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat kan, jadi IBU harus pinter segalanya. Nah....mesti banyak belajar ya! Anak pasti bangga juga mempunyai Ibu yang pandai. Anak juga akan lebih percaya diri jika ibunya pandai. Ya, bahkan anak akan dengan bangga mengatakan kepada gurunya, temannya, bahwa dia mengetahui sesuatu dari ibunya yang pintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eit....suamipun pasti bangga jika istrinya luas pengetahuannya. Bahkan tahu tentang masalah pekerjaan kantor suaminya meski istrinya tidak lagi "ngantor". Dan.....jangan salah, perempuan manapun pasti akan mikir 1000000 X jika ingin merebut perhatian suami anda dari istri "hebat" seperti anda!!! Ha ha ha.......mereka pasti minder!! Boleh dong PD!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Bisa lebih dekat dengan keluarga; terutama orangtua dan mertua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kapan lagi dekat dengan mereka? Apalagi jika tinggal dalam satu kota. Bahagiakan mereka dengan perhatian anda selagi anda punya kesempatan. Shoping kecil-kecilan dengan Ibu atau Ibu Mertua, masak bersama, makan bersama di luar, dll. Jika kita gali lagi, masih sangat banyak hikmah yang bisa kita ambil dengan keputusan keluar dari pekerjaan kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, bagi yang memang merasa lebih baik di rumah, nikmati aja. Enjoy aja........!!!But, bagi yang merasa lebih baik "ngantor" nikmati juga lah yaw!! Be profesional, jadilah wanita karir yang pintar, jangan malas belajar, tingkatkan kemampuan diri!! Raihlah peningkatan benar-benar dengan kemampuan anda, dan bukan hanya karena waktu apalagi karena KKN! Sorry aja!! He he he anda kan hebat! Buat apa KKN??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan mau hanya jadi "hiasan", jangan pernah "curhat" ke teman kerja laki-laki, atau menerima curhatan mereka. Karena akan berbahaya bagi keluarga anda maupun keluarga laki-laki tersebut. Jangan mengkambinghitamkan anak agar bisa bolos kerja, jangan suka beralasan. Pakailah penghasilan anda untuk hal-hal yang bermanfaat. Tunjukkan anda memang pantas menjadi wanita karir yang dihormati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source : mama-ibuindonesia.blogspot.com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-3521624273284572727?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/3521624273284572727/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/09/jadi-full-time-mothersiapa-takut.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/3521624273284572727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/3521624273284572727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/09/jadi-full-time-mothersiapa-takut.html' title='Jadi Full Time Mother?!Siapa Takut......'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-6678211753455113513</id><published>2009-09-14T21:46:00.000-07:00</published><updated>2009-09-14T21:49:02.850-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ibu RT'/><title type='text'>Stress Ibu Tumah Tangga</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/Sq8cbJzua1I/AAAAAAAAAkk/iYZRFwZ2Vy8/s1600-h/irt.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 298px; height: 224px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/Sq8cbJzua1I/AAAAAAAAAkk/iYZRFwZ2Vy8/s400/irt.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5381551332545948498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Banyak orang yang meremehkan profesi ibu rumah tangga, termasuk dalam urusan stres. Dianggapnya, ibu rumah tangga yang sehari-hari lebih banyak di rumah tidak mungkin mengalami stres. Pendapat ini tentu saja tidak benar.&lt;/div&gt;&lt;div id="article_body"&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Justru mengelola rumah tangga sepenuhnya membutuhkan kemampuan dan daya tahan yang luar biasa kuat. Sebagai ibu rumah tangga, perempuan dituntut bangun paling pagi dan tidur paling akhir untuk memastikan semua berjalan semestinya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Banyak perempuan yang stres karena ketidaksiapannya menghadapi kehidupan rumah tangga seperti itu sendirian. Kenyataannya, permasalahan rumah tangga sangat kompleks. Tanpa kesiapan mental dan kematangan jiwa untuk menghadapinya, perempuan yang dihadapkan pada tugas-tugas kerumahtanggaan pastilah sangat rentan terhadap stres.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk mengelola stres sebagai ibu rumah tangga, beberapa hal berikut bisa dilakukan:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;* Bersikap realistis terhadap harapan dan kenyataan. Jangan memaksakan diri untuk mencapai sesuatu yang ideal, seperti rumah selalu rapi dan bersih tanpa cela. Kekurangan di sana-sini merupakan hal wajar dan amat manusiawi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;* Proses adaptasi dengan suami, anak, dan lingkungan harus terus-menerus dilakukan karena perubahan pasti terjadi setiap hari.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;* Selesaikan masalah yang dihadapi. Jangan pernah menunda atau membiarkannya bertumpuk dan berharap segalanya akan berlalu dengan berjalannya waktu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;* Di sela-sela kesibukan sebagai ibu rumah tangga, lakukan kegiatan-kegiatan positif seperti olahraga atau melakukan hobi yang bermanfaat. Usahakan bersikap relaks dan berpikir positif setiap waktu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;source : kompas.com&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-6678211753455113513?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/6678211753455113513/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/09/stress-ibu-tumah-tangga.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/6678211753455113513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/6678211753455113513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/09/stress-ibu-tumah-tangga.html' title='Stress Ibu Tumah Tangga'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/Sq8cbJzua1I/AAAAAAAAAkk/iYZRFwZ2Vy8/s72-c/irt.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-2165950027394906498</id><published>2009-09-08T07:28:00.000-07:00</published><updated>2009-09-08T07:45:15.681-07:00</updated><title type='text'>Ibu,hati-hati dengan amarahmu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Cerita ini saya olah dari curhat sahabat saya beberapa hari lalu dalam sebuah forum. Jujur, saya merinding mendengarnya. Benar-benar mengingatkan kembali arti seorang ibu. Ibu, sosok yang disebut tiga kali oleh Rasulullah untuk dihormati sebelum ayah. Maka doa ibu pun begitu dahsyat. Begitu pula amarahnya, sehingga kita pun sangat familier dengan legenda Malin Kundang. Semoga bermanfaat buat para orangtua, wa bil khusus para ibu, dan calon ibu (seperti saya :)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;=====&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sore itu aku baru pulang dari bekerja. Badan dan pikiran yang lelah karena persoalan menumpuk di tempat kerja, membuat kondisi emosiku agak labil. Sampai di rumah aku berharap tak mendapati hal yang membuat emosiku makin naik. Memiliki tiga anak yang sangat aktif sering kali membuat emosiku naik turun.Keinginanku untuk mendapat ketenangan sejenak di rumah tak terkabul.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sore itu sesampai di rumah, ketiga anakku belum mandi dan rumah berantakan. Meski memiliki khadimat, tapi khadimatku masih terlalu muda, sehingga banyak pekerjaan yang tak tertangani dengan baik olehnya. Sulungku yang berusia 6 tahun asyik dengan game. Putri keduaku dan si bungsu asyik bermain, berlari ke sana kemari. Emosiku mulai kembali naik. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Ummi, Haris dari tadi disuruh mandi nggak mau...” lapor khadimatku.Haris masih asyik bermain game.&lt;/div&gt;“Haris, mandi…” kataku berusaha lembut.&lt;br /&gt;”Nggak mau ah!”&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Haris, mandi sama Mbak sekarang...” suaraku mulai keras.Haris tak bergeming.Rasa lelah, pikiran yang masih penuh, ditambah khadimat yang tak becus dan si Sulung yang tak mau menuruti perintahku, makin menambah emosi di dada.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Haris, mandi sekarang juga!” kali ini aku benar-benar tak bisa mengontrol ucapanku. Kurasa suaraku begitu keras.Haris tampak kaget. Tapi hanya sejenak. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemudian dari mulut mungilnya kudengar kata... ”Entar, Bego...”Hooh, rasanya emosiku sudah tak di dada lagi, tapi sudah naik hingga ubun-ubun. Dari mana dia mendapat perkataan itu? Bagaimana mungkin Haris-ku bisa berkata seperti itu pada ibunya...? &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kupegang kedua bahunya, masih dengan amarah di dada. ”Bicara apa kamu? Dari mana dapat omongan itu? Dengar ya, UMMI NGGAK IKHLAS kamu bicara seperti itu. Ummi nggak ikhlas! Sekarang juga kamu minta maaf!”Rasanya lisanku sudah tak terkontrol. Kulihat Haris tampak diam dan takut.”Ayo, minta maaf sama Ummi!””Ma-af, Mi...” dengan terbata Haris berucap.”Ya sudah, Ummi maafkan. Sekarang kamu mandi sama Mbak!” kataku. Ucapan ”Ummi maafkan” sepertinya hanya sekadar saja keluar dari mulutku. Amarah dan kecewa anakku mengucapkan kalimat ”Entar, Bego...” masih menggumpal di dadaku.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Keesokan harinya, amarahku sudah terkikis. Sore hari aku mengecek pelajaran Haris. aku ingat esok hari Haris ada tugas mengulang mengulang hafalan.”Ah, surat-surat yang mesti diulang hampir semua sudah Haris hafal. Insya Allah, Haris bisa,” kataku yakin.Setelah itu aku membantu Haris untuk mengulang hafalan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Ayo, baca bismillah dulu, Ris...””Bis...” suara Haris terputus.”Lho kok, bis... bis-millah...””Bis...” lagi-lagi suara Haris terputus.”Haris... jangan bercanda. Ayat Al Quran jangan dipermainkan. Ayo ulang lagi, bismillah...””Bis...”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Haris!” emosiku mulai naik.”Tapi, Mi... Haris nggak bisa...””Masak bismillah saja tidak bisa, bis-mi-Allah...”Haris mencoba mengulang, tapi lagi-lagi terhenti di kata ”bis”. Aku benar-benar tak habis pikir. ”Haris! Ummi serius ini. Kamu jangan bercanda, mempermainkan ayat Al Quran! Coba, A-L-L-A-H...”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;”A.... A... Ummi haris nggak bisa...””A-L-L-A-H.... ulang lagi... A-L-L-A-H… BISMILLAH…”“A…. A…”Aku mulai panik. Kuamati wajah Haris. Dia tak terlihat bercanda atau mempermainkanku.“Istighfar dulu, Ris, As-tag-fi-ru-llah…””Astagfiru...” lagi-lagi suara Haris terputus.Aku semakin panik. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada apa dengan anakku? Padahal dia sudah hafal setengah juz 30. bagaimana mungkin menyebut ”bismillah”, ”astagfirullah,” bahkan ”Allah” saja tak bisa...?Aku berusaha menenangkan diri. ”Yuk, bareng Ummi... kita istighfar...””Astagfirullah...” Namun lagi-lagi, Haris tak dapat menyelesaikan kalimat tersebut. Aku benar-benar tak habis pikir. Beberapa kali kuminta Haris mengulang kata Allah, Allah, Allah... tak juga bisa.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tiba-tiba runtunan kejadian kemarin berkelebat di otakku. ”Astagfirullah....” kuucap berulang kali.... Kalimat ”ummi tidak ikhlas” terngiang-ngiang. Inikah yang menyebabkan Haris tak dapat menyebut kata Allah? Tapi bagaimana mungkin? Haris masih kecil, baru 6 tahun...Namun, tak ada yang tak mungkin bagiAllah untuk menunjukkan kuasa-Nya. Langsung kupeluk Haris, air mata berbulir jatuh. ”Maafkan Ummi, ya, Ris... maafkan, Ummi. Ummi juga memaafkan semua kekhilafan Haris. Ummi maafkan kesalahan Haris...” Kupeluk Haris makin erat. Haris tampak tak mengerti. Air mataku menderas. ”Maafkan Ummi... dan Ummi maafkan Haris...”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah beberapa saat menenangkan diri, aku minta Haris untuk sama-sama membaca istighfar kembali. Dan... subhanallah... tanpa kesulitan Haris mengucap dengan lancar. Dan kemudian kalimat bismillah, dan kemudian surat-surat Al Quran yang hendak ia ulang, semua lancar dibaca. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Subhanallah, Allahu Akbar... betapa kecil kurasa diriku saat itu. Teringat aku kisah Al Qomah pada masa Rasulullah, yang mulutnya terkunci tak dapat mengucap ”Laailahailallah” saat sakaratul maut, karena sang Ibu tak ikhlas padanya. Aku bersimpuh.... Ampuni aku, ya Allah!(Rahmadiyanti Rusdi)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-2165950027394906498?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/2165950027394906498/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/09/ibuhati-hati-dengan-amarahmu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/2165950027394906498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/2165950027394906498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/09/ibuhati-hati-dengan-amarahmu.html' title='Ibu,hati-hati dengan amarahmu'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-8126389155675694628</id><published>2009-09-07T09:06:00.000-07:00</published><updated>2009-09-07T09:17:21.513-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info parenting'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak berbohong'/><title type='text'>Mengapa Anak Berbohong?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/SqUwckyrKSI/AAAAAAAAAkM/0HvuyIJ1SBI/s1600-h/bo5.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378758597434616098" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 100px; CURSOR: hand; HEIGHT: 120px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/SqUwckyrKSI/AAAAAAAAAkM/0HvuyIJ1SBI/s400/bo5.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Anak berbohong? Wah, mungkin bagian dari masa pertumbuhannya? Masa sih?? Akan tetapi kita tetap harus waspada. Kejujuran merupakan harta tak ternilai, dan harus mulai ditanamkan sejak kanak-kanak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun dalam keseharian, kita kadang mendapati kebohongan yang dilakukan buah hati kita. Terutama setelah mereka mempunyai teman, mempunyai komunitas, yang sangat mungkin nilai kejujuran bagi teman-temannya tidak mereka dapatkan di rumah masing-masing sehingga berbohong bukanlah barang haram. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Padahal, berbohong bagi anak-anak (terutama kepada orangtua) sangat berbahaya. Orangtua akan sulit mengarahkan anak jika anak biasa berbohong kepada orangtua.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kemampuan tingkat tinggi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pendapat sebagian orang, sikap berbohong pada seorang anak bisa disebut sebagai kemampuan tingkat tinggi. Bayangkan anak berimajinasi, yang terkadang membuat kita terheran-heran atas imajinasinya itu bukan? Terdapat 2 kemampuan kognitif yang melibatkan otak kanan (imajinasi) dan otak kiri (logika). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saat berbohong, seorang anak dapat menggunakan atau menggabungkan kedua-duanya. Jika yang keluar adalah berbohong tingkat tinggi, berarti dia sedang menggunakan otak kanannya. Namun, bagi saya, anak berbohong adalah kemubadziran kemampuan. Seharusnya kemampuan ini bisa dimanfaatkan untuk hal lain yang jauh lebih bermanfaat. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika kita membiasakan dan mencontohkan agar anak tidak berbohong, maka berbohong akan membuat anak tidak nyaman.Bagian dari pertumbuhan.Pendapat orang, kebohongan anak juga berkorelasi dengan tingkat pertumbuhannya. Namun menurut saya, berbohong berkolerasi dengan makin luasnya pengaruh yang sampai kepada anak. Anak tidak lagi hanya mendapat pengaruh dari keluarga tetapi juga dari lingkungan sekitar yang makin luas. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hati-hati, sekali anak berbohong kita harus tahu dan segera meluruskan bahwa berbohong (terutama pada orangtua) sangat berbahaya. Jika tidak segera diluruskan, semakin anak berbohong, semakin pandai dia melakukannya dengan tidak terlalu merasa bersalah. Jangan sampai anak anda merasa nyaman saat berbohong (kepada orangtua)Orang tua mesti ekstra hati-hati. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ajak anak bicara dari hati ke hati, sediakan waktu lebih banyak untuk menjalin komunikasi dengan anak. Tanamkan pula bahwa Anda sangat mempercayainya, dan sebaiknya kepercayaan ini dapat dipegang oleh anak. Memberi pengertian kepada anak tentang berbohong, yang baik adalah dengan mengajak mereka melihat sesuatu masalah dari sisi orang lain. Katakan kepada mereka bahwa tindakan bohong tidak dapat diterima apalagi jika dilakukan untuk menyembunyikan suatu kesalahan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perlukah menghukum?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menghukum boleh-boleh saja, tetapi tentu saja harus disesuaikan dengan usia anak. Misalnya pada anak usia sekolah, jika tingkat kebohongannya jelas, hukumlah dia , misalnya dengan tidak boleh menonton televisi. Tetapi ingat, jangan sampai hukuman tersebut justru semakin menekan anak sehingga membuatnya “terpaksa” berbohong demi menutupi kekurangannya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Misalnya saja saat ia tidak mengerjakan pe-er karena terlalu lelah bermain bola, hindari memarahinya. Lebih baik Anda dan anak mencari jalan keluar memecahkan masalah tersebut. Bagaimanapun Anda juga mesti menghargai kejujuran anak. Memang tiada manusia yang sempurna, dan ini perlu juga diketahui oleh seorang anak. Namun, selalu ada jalan untuk menyelesaikan masalah, dan akan semakin mudah bila itu dilakukan secara bersama-sama, bahu membahu. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Untuk urusan berbohong, pada prinsipnya, baik untuk anak pra-sekolah, anak usia sekolah atau bahkan remaja sekalipun, penanganannya sama, yakni mengajaknya diskusi. Karena mereka sesungguhnya sedang belajar menapaki hidup. Jangan dimusuhi, melainkan harus terus dibimbing, dirangkul. Jika salah langkah, maka akan muncul apa yang disebut anak nakal, karena orang tua salah menempatkan mereka,” papar Dr. Seto Mulyadi. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mengajak si kecil memahami arti kejujuran. Coba ingat-ingat kembali, tanpa sengaja kita sebagai orang tua seringkali menanamkan pelajaran yang salah. Misalnya saja saat Anda sedang malas menerima telepon, dan meminta si kecil mengangkatnya dan mengatakan “Mama sedang tidak di rumah.” Kelihatannya sepele memang, namun saat itulah pelajaran berbohong sedang dimulai. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tips menghadapi anak berbohong :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Tempatkan anak di posisi yang terhormat.&lt;br /&gt;* Jadilah pendengar yang baik, untuk mengetahui apa yang terjadi pada anak Anda&lt;br /&gt;* Terapkan metode ”Win win solution”, pemecahan masalah melalui cara yang baik bagi semua&lt;br /&gt;* Kalau Anda tahu bahwa anak sedang berbohong, coba peluklah dia. “Mama tidak marah, tetapi sangaaat sedih kalau anaknya berbohong. Karena Allah juga tidak suka dengan anak yang membohongi mamanya.”&lt;br /&gt;* Jadikan bohong sebagai pembelajaran anak. Anak boleh salah, tetapi jadikan kesalahannya itu sebagai pelajaran berharga.(mama-ibuindonesia.blogspot.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-8126389155675694628?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/8126389155675694628/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/09/mengapa-anak-berbohong.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/8126389155675694628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/8126389155675694628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/09/mengapa-anak-berbohong.html' title='Mengapa Anak Berbohong?'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/SqUwckyrKSI/AAAAAAAAAkM/0HvuyIJ1SBI/s72-c/bo5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-5102903110885441205</id><published>2009-09-07T08:53:00.000-07:00</published><updated>2009-09-07T08:59:46.130-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info parenting'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak penakut'/><title type='text'>Mengapa Anak Mudah Takut?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/SqUtFzFQGQI/AAAAAAAAAkE/gHncanr3PdA/s1600-h/scare.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378754907598756098" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 127px; CURSOR: hand; HEIGHT: 119px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/SqUtFzFQGQI/AAAAAAAAAkE/gHncanr3PdA/s400/scare.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Anak Anda mudah ketakutan? Sebenarnya hal itu wajar. Tapi, bila Anda tak membantu mengatasi ketakutannya, ia bisa mengalami fobia. Pada dasarnya, ketakutan pada batita merupakan suatu keadaan alamiah yang membantu individu melindungi dirinya dari suatu bahaya sekaligus memberi pengalaman baru. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada sejumlah batita, rasa takutnya masih sebatas pada hal-hal spesifik seperti takut pada anjing, gelap, atau bertemu orang asing.Ironisnya, sebagian besar ketakutan yang terjadi pada anak justru muncul karena ditularkan oleh orangtuanya ataupun orang dewasa yang berada di sekelilingnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Contohnya, karena kuatir pada suatu atau kondisi tertentu, tanpa sadar orangtua akan melarang anak dengan cara menakut-nakutinya. Misalnya, "Awas ada anjing gila, nanti kamu digigit!" Akibatnya, anak merasa terancam alias tidak aman setiap kali melihat anjing. Padahal, umumnya anjing hanya akan marah dan mengigit jika diganggu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bentuk ekspresi ketakutan itu sendiri bisa macam-macam. Biasanya lewat tangisan, jeritan, bersembunyi atau tak mau lepas dari orang tuanya. Untungnya, rasa takut ini akan hilang dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Namun peran dan dukungan orang tua.masih tetap penting.Yang jadi masalah adalah bila rasa takut terendapkan dan tidak teratasi sehingga berpengaruh pada aktivitas sehari-hari anak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Parahnya, ketakutan tersebut dapat mengarah menjadi ketakutan yang bersifat patologis ataupun fobia alias ketakutan berlebih karena pernah mengalami kejadian tertentu.Adapun ketakutan yang sering terjadi pada batita antara lain, takut berpisah. Anak akan merasa cemas bila ia harus berpisah dengan orang terdekatnya. Terutama ibunya, yang selama 3 tahun pertama menjadi figur paling dekat. Figur ibu, tak selalu harus berarti ibu kandung, melainkan pengasuh, kakek-nenek, ayah, atau siapa saja yang memang dekat dengan anak.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kelekatan anak dengan sosok ibu tersebut biasanya akan berkurang di tahun-tahun berikutnya. Bahkan di usia 2 tahunan, kala sudah bereksplorasi, anak akan melepaskan diri dari keterikatan dengan ibunya. Namun, akan menjadi lain bila si ibu terlewat melindungi atau overprotektif sehingga ia tak bisa mempercayakan anaknya pada orang lain.Perlakuan semacam ini justru akan membuat kelekatan ibu dan anak akan terus bertahan dan akhirnya menimbulkan kelekatan patologis sampai si anak besar. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Akibatnya, anak tak mau sekolah, gampang nangis, dan sulit dibujuk saat ditinggal ibunya.Bahkan jika ibu beranjak ke dapur atau ke kamar mandi pun, si anak akan terus mengikuti.Bila sudah demikian, jelaskan pada si kecil, mengapa ibunya harus pergi atau bekerja. Jika ibu tidak bisa pulang sesuai waktu yang dijanjikan, beri tahu anak lewat telepon. Sebab, ia akan terus menunggu dan ini justru bisa menambah rasa takut anak. Bahkan ia akan terus cemas bertanya-tanya, kenapa sang ibu belum datang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketakutan lain yang dialami anak, antara lain takut masuk bersekolah. Sebab, ia harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Padahal, tak semua anak mudah beradaptasi. Begitu pun orangtua, banyak yang tak rela melepas anaknya "sekolah" karena khawatir anaknya terjatuh saat bermain atau ia mungkin saja didorong temannya.Oleh sebab itu, Anda dapat mengantar anak ke sekolah, tapi tidak menungguinya. Sebagai gantinya, Anda dapat menitipkan anak kepada gurunya. Dan yakinkan diri Anda bahwa anak dapat melupakan rasa takutnya seiiring dengan kegembiraannya bermain bersama teman-temannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketakutan lainnya, yaitu anak takut dengan orang asing. Di usia awal, anak memang mau digendong dan dekat dengan siapa saja. Namun di usia 8-9 bulan biasanya mulai muncul ketakutan atau sikap menjaga jarak pada orang yang belum begitu dikenalnya. Ini normal karena anak sudah mengerti atau mengenali orang. Ia mulai sadar, mana orangtuanya dan mana orang lain yang jarang dilihatnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Untuk itu biarkanlah ia bereksplorasi dengan bebas. Hindari nasihat yang menakut-nakuti, seperti jangan dekat-dekat sama orang yang belum kamu kenal. Nanti diculik, lho. Nasihat ini bukannya tidak boleh, tapi sewajarnya saja dan bukan dengan cara menakut-nakutinya.Tidak hanya orang lain yang ditakuti, tapi anak juga biasanya takut pergi ke dokter. Hal ini terjadi, mungkin karena ia pernah mengalami hal tak mengenakkan seperti ia pernah disuntik. Untuk mengatasi ketakutan ini, Anda dapat mengizinkan anak membawa benda atau mainan kesayangannya. Benda-benda ini penting agar ia merasa aman dan nyaman.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Cara lainnya, Anda dapat membantunya dengan menyediakan mainan berupa perangkat dokter-dokteran. Biarkan anak menjalani peran dokter dengan boneka sebagai pasiennya. Diharapkan dengan cara ini, lambat laun ketakutannya pada sosok dokter justru berganti menjadi kekaguman.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hal lain yang menjadi momok bagi anak, yaitu takut hantu. Ketakutan terhadap hantu ini merupakan ketakutan yang diajarkan lewat ancaman Anda atau orang dewasa lainnya. Selain itu ia mungkin mendapatkannya melalui interaksinya menonton film horor di televisi. Oleh karena itu, jauhkan anak dari tontonan tentang hantu. Anda ataupun orang dewasa lainnya jangan pernah menakut-nakuti anak hanya demi kepentingan sesaat. Cara lainnya Anda dapat menganti karakter hantu dengan peri yang baik hati. Belikan buku-buku cerita atau tontonan anak mengenai karakter hantu atau penyihir yang baik hati.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Masih banyak ketakutan yang sering dialami anak seperti takut gelap, berenang, serangga, anjing dan sebaginya. Namun pada intinya, apapun jenis ketakutannya yakinkanlah ia, bahwa tidak akan ada satu makhluk pun yang akan menyakitinya bila ia tidak lebih dahulu menyakiti makhluk tersebut. Berpesanlah kepadanya untuk senantiasa berbuat baik, karena anak baik tidak akan pernah mendapatkan gangguan. (Majalah Inspire Kids)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-5102903110885441205?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/5102903110885441205/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/09/mengapa-anak-mudah-takut.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/5102903110885441205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/5102903110885441205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/09/mengapa-anak-mudah-takut.html' title='Mengapa Anak Mudah Takut?'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/SqUtFzFQGQI/AAAAAAAAAkE/gHncanr3PdA/s72-c/scare.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-1302847091825275067</id><published>2009-09-07T08:30:00.000-07:00</published><updated>2009-09-07T08:51:22.636-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info parenting'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak penakut'/><title type='text'>Menghindarkan Anak Dari Sifat Penakut</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/SqUrWmL1fPI/AAAAAAAAAj8/XhREHvQmrL8/s1600-h/anak-mudah-ketakutan.png"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378752997171231986" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 130px; CURSOR: hand; HEIGHT: 105px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/SqUrWmL1fPI/AAAAAAAAAj8/XhREHvQmrL8/s400/anak-mudah-ketakutan.png" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Sudah masyhur kita dengar, kisah keberanian anak-anak yang hidup di zaman Nabi. Begitu banyak kisah anak-anak di bawah umur yang memaksa kepada Rasulullah agar diizinkan ikut berperang bersama prajurit Muslim melawan kaum kafir. Walaupun Rasul melarang anak-anak ikut berperang, mereka memaksa, berlomba-lomba dan berebut agar diizinkan. Ketika Rasul melihat tekad mereka yang begitu kuat dan bulat, terpaksa diberikannya izin, dan ternyata anak-anak itupun berperang tak kalah beraninya dengan para orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tercatat nama Usamah bin Zaid yang ikut berperang semenjak kecil, dan karena keahliannya maka diangkatlah ia oleh Rasulullah menjadi panglima perang pada usia enam belas tahun. Ada pulua Rafi dan Samurah, dua orang anak yang berebut untuk bisa ikut berperang. Begitu pula si budak kecil, Umair, yang karena keberanian dan keinginannnya yang kuat ia pun dibebaskan oleh majikannya dan bahkan mendapat hadiah pedang yang ia dambakan. Masih ada pula si kecil Salamah, yang sangat ahli memanah, terkenal dapat berlari teramat cepat, dan tentu saja gagah berani. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagaimana bisa anak-anak belasan tahun yang setara dengan anak-anak SLTP di zaman sekarang ini sudah begitu ahli dalam berperang? Begitu besar keberanian mereka menantang marabahaya dan maut? Generasi yang kuat Difirmankan Allah Swt dalam al-Qur'an untuk tidak meninggalkan generasi di belakang kita sebagai generasi yang lemah. Karena mereka yang lemah pasti akan ditindas oleh yang kuat. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kenyataan membuktikan, banyak pejuang Muslim yang menemui syahid dalam pertempuran-pertempuran yang tak seimbang sekadar untuk mempertahankan diri. Penyebab pokoknya adalah karena ummat Islam dalam posisi lemah. Lemah fisik, lemah strategi, lemah koordinasi, lemah dana, lemah fasilitas, lemah segalanya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sehingga walau jumlah kita banyak, niat kita ikhlas dan semangat membara, kekalahan juga yang didapat. Keberanian, seringkali hanya dikonotasikan dengan peperangan, sehingga oleh sementara orang hanya dilekatkan kepada pundak laki-laki saja. Sementara jika seorang Muslimah cengeng, penakut dan lemah, dianggap sebagai kewajaran karena fisiknya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pengertian ini diluruskan oleh seorang ahli tafsir, Dr Nashruddin Baidan dalam Tafsir bi al-Ra'yi. Menurutnya, baik laki-laki maupun perempuan, sama-sama harus digembleng menjadi generasi yang kuat. Tentara sekuat apapun jika tanpa dukungan kekuatan motivasi kaum wanita, bisa tak berarti apa-apa. Untuk bisa menjadi motivator yang baik tentu saja kaum Muslimah pun perlu memiliki keberanian dan kekuatan mental yang kokoh. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menurut Nashiruddin, yang diminta Allah mempertahankan negara bukan hanya laki-laki, tetapi semuanya, termasuk wanita dan anak-anak. Cara masing-masing untuk mempertahankan negara bisa berbeda-beda, sesuai kemampuannya. Namun dalam kondisi terjepit, semua jiwa wajib keluar rumah menghadang musuh dalam mempertahankan agamanya, tak peduli laki-laki maupun wanita. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Untuk tujuan pembentukan generasi penerus yang gagah berani itulah ajaran Islam memberikan tuntunan syariat yang perlu diberikan kepada anak-anak. Beberapa di antaranya adalah berikut ini. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;1. Olahraga dan permainan fisik &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selain untuk membangun kekuatan, olahraga fisik juga bermanfaat menumbuhkan keberanian dan keahlian. Kuat saja tetapi tak mempunyai keberanian dan keahlian akan sia-sia. Demikian juga yang berani tetapi tak ahli dan lemah, atau yang ahli tetapi lemah dan penakut. Jadi ketiga fungsi saling melengkapi, dan semuanya harus ditumbuhkan dalam diri anak semenjak dini. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Untuk itu Islam menganjurkan beberapa cabang olahraga utama, seperti disampaikan Rasulullah saw dalam hadits-haditsnya, "Segala sesuatu yang tidak menyebut asma Allah maka ia adalah senda gurau belaka, kecuali empat perkara: Berjalannya seseorang di antara dua tujuan (untuk memanah), latihannya untuk menunggang kuda, bermain dengan keluarganya, dan belajar renangnya." &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Ketahuilah, bahwa kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah."Dan juga hadits berikut, "Tidak ada perlombaan (pertaruhan) selain di tapak kaki unta, tapak kaki kuda, dan pemanah."Selain itu Rasulullah pun menganjurkan untuk bermain lembing, seperti pernah beliau izinkan Aisyah melihat orang bermain lembing di masjid. Berenang, memanah, menunggang kuda dan unta, serta bermain lembing, adalah contoh-contoh di zaman Rasulullah. Kepada anak-anak kita perlu ditambahkan latihan menembak, membuat bom, mengendarai mobil, dan bahkan pesawat.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Intinya, semua jenis olahraga itu membangun kekuatan anak, menumbuhkan keberanian dan keahliannya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;2. Penyembelihan hewan Qurban &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hari raya Qurban identik dengan penyembelihan kambing dan sapi. Acara ritual ini cukup baik pula dijadikan ajang menumbuhkan keberanian anak. Di kesempatan ini, orang tua perlu mengajak anak-anaknya, terutama yang laki-laki untuk turut membantu proses penyembelihan, atau setidaknya menonton. Dengan melihat proses penjagalan, melihat muncrat dan mengalirnya darah hewan qurban, ini akan menumbuhkan keberanian dalam jiwa anak, sehingga mereka tak terlalu takut melihat darah. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;3. Khitan di usia kanak-kanak &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sunnah khitan dilakukan di masa kanak-kanak, bagi anak laki-laki. Boleh dilakukan ketika anak masih bayi, atau dalam usia antara 5 hingga 10 tahun. Pilihan yang terakhir ini dapat dimanfaatkan bagi orang tua untuk menumbuhkan keberanian anak. Itu sebabnya, sebelum saat khitan tiba, orang tua harus mempersiapkan mental anak dengan sebaik-baiknya, sehingga tidak menjadikan momen khitan ini justru sebagai pengalaman yang menyakitkan dan menakutkan bagi mereka. Karena jika hal ini terjadi, trauma ini bisa membuat anak menjadi penakut hingga dewasa. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;4. Penanaman kisah-kisah kepahlawanan &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Film dan buku-buku cerita yang mengisahkan tentang keberanian para tokoh pahlawan baik yang fiksi maupun nyata, baik untuk mengembangkan keberanian anak, asalkan adegan dalam kisah-kisah tersebut tidak melampaui batas. Akan lebih baik jika orang tua memilihkan kisah-kisah kepahlawanan para syuhada di zaman Rasulullah saw yang sudah banyak dibukukan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selain mengembangkan keberanian anak, juga mengandung nilai-nilai keutamaan yang sangat baik, sehingga anak semakin memahami mengapa, kapan, dan untuk apa mereka harus melatih keberanian. Pilihan untuk mengajak anak berdialog langsung dengan para pejuang yang sudah berpengalaman di medan peperangan adalah alternatif terbaik jika mungkin untuk dilakukan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;5. Aktivitas penuh tantangan &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ayah, adalah orang yang paling tepat mendidik anak laki-lakinya untuk terus mencari aktivitas yang penuh tantangan. Mendaki gunung, memanjat tebing, berkemah, berburu, hingga berlayar, bisa direncanakan. Untuk anak perempuan juga dikembangkan kegiatan serupa dengan tingkat kesulitannya lebih rendah, setidaknya hingga setingkat kemampuan mereka.(Suara Hidayatullah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="PADDING-RIGHT: 8px; POSITION: relative"&gt;&lt;a href="http://keluarganuryadi.multiply.com/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-1302847091825275067?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/1302847091825275067/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/09/menghindarkan-anak-dari-sifat-penakut.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/1302847091825275067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/1302847091825275067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/09/menghindarkan-anak-dari-sifat-penakut.html' title='Menghindarkan Anak Dari Sifat Penakut'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/SqUrWmL1fPI/AAAAAAAAAj8/XhREHvQmrL8/s72-c/anak-mudah-ketakutan.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-4287587392352567570</id><published>2009-09-07T06:37:00.000-07:00</published><updated>2009-09-07T06:47:39.339-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info parenting'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengaruh TV'/><title type='text'>Agar Anak Tak Berguru Pada TV</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/SqUO5eOl5BI/AAAAAAAAAjc/U9_K2Err5Ks/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378721710493525010" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 125px; CURSOR: hand; HEIGHT: 83px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/SqUO5eOl5BI/AAAAAAAAAjc/U9_K2Err5Ks/s320/images.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;”Bu, kalau mau bahagia, ibu dan ayah ke On Clinic aja...” begitu saran Nadine (6 tahun) kepada ibunya, Sarah.&lt;br /&gt;Sarah tersentak dan dengan hati-hati bertanya balik, ”Memang On Clinic itu tempat apa?” (Sarah belakangan menjelaskan ke saya bahwa ia mengajukan pertanyaan ini dengan dada berdebar-debar tak karuan).&lt;br /&gt;Nadine menjawab dengan santainya, ”Tempat berobat supaya bahagia... Ayah dan ibu bisa minta obat biar bahagia terus!”&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sarah bercerita kepada saya, celoteh Nadine tentang On Clinic itulah yang menyadarkan- nya bahwa anaknya itu sudah terlalu jauh menjadi ”anak TV”. Nadine memang gemar menonton TV. Aktivitasnya sepulang sekolah kebanyakan diisi dengan menonton TV.&lt;br /&gt;On Clinic yang diperbincangkan Nadine adalah klinik yang diiklankan sebagai tempat untuk ”kebahagiaan suami-istri” –ini adalah klinik untuk pria yang memiliki masalah seksual. Wajarlah Nadine si ”anak TV” mengenal tempat ini, karena iklannya cukup gencar muncul di TV pada sembarang jam pada berbagai stasiun.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Kubunuh kau, Papa!”&lt;br /&gt;Kata-kata “sadis” itu diucapkan seorang anak batita kepada ayahnya. Wajah si anak merah padam. Ia berkata demikian sambil memegang kerah baju ayahnya.&lt;br /&gt;Ucapan dan perilaku “ala adegan TV” itu muncul karena si anak kesal akibat ulah usil ayahnya saat ia bermain balok susun. Ayah dan ibu sang anak tentu amat kaget dengan ucapan dan perilaku si upik.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Anak kecil itu adalah Grace Christina. Saat ia duduk di bangku SMP, ia menuangkan pengalamannya itu dalam esai berjudul sangat impresif, “Kubunuh Kau, Papa” yang memenangkan Penghargaan UNICEF untuk Penulis Muda Indonesia 2006 untuk kategori SLTP.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Grace berkisah bahwa ia menjadi anak yang dibebaskan menonton TV saat masih kecil. Acara yang paling disukainya adalah film laga yang penuh kekerasan. Setiap kali menonton orang marah-marah, saling memaki dengan kata-kata kotor, saling pukul dan baku tembak, Grace kecil selalu berteriak-teriak memberi dukungan tanpa tahu mana tokoh baik dan mana yang jahat.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kisah Nadine atau Grace kecil adalah kisah yang sering terdengar tentang anak-anak yang banyak menonton TV. Bagi banyak anak, TV bisa dikatakan sebagai ”media sehari-hari”, karena benda ini selalu dalam keadaan ”on” pada banyak rumah. Di antara berbagai media, TV sering dikatakan sebagai media yang paling dekat dengan anak.&lt;br /&gt;Tingkat konsumsi TV oleh anak menunjukkan angka yang tinggi. Beberapa survei mengenai pola menonton TV pada anak menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun jumlah jam menonton TV pada anak menunjukkan peningkatan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada 1997 menurut data Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia, rata-rata anak usia SD menonton TV antara 22-26 jam per minggu atau 3 – 4 jam per hari. Pada 2006, menurut data Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA), rata-rata anak usia SD menonton TV 30—35 jam per minggu atau 4—5 jam per hari pada hari biasa dan 7—8 jam pada hari Minggu. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika waktu menonton TV ini dibandingkan dengan waktu bersekolah, maka waktu menonton TV mencapai jumlah lebih dari 1.500 jam dalam setahun, sementara jam belajar (di sekolah dasar negeri) selama 1 tahun hanya sekitar 750 jam.&lt;br /&gt;Ini angka-angka yang memprihatinkan. Padahal para ahli membolehkan anak menonton TV maksimal hanya dua jam per hari. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apa persoalan dengan anak yang banyak menonton TV? Kepustakaan komunikasi mencatat, anak yang lebih lama menonton TV memiliki risiko yang jauh lebih besar untuk terkena dampak negatif TV daripada anak yang sedikit menonton TV.&lt;br /&gt;Sudah sangat sering dibicarakan muatan TV yang negatif, yang tidak sehat bagi anak. Contohnya, kekerasan, seks, mistik, bahasa kasar, konsumtivisme, dan macam-macam lagi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah langkah dapat dan telah dilakukan untuk mengurangi dampak negatif TV, baik melalui perbaikan dan penegakan regulasi maupun berbagai upaya yang dilakukan lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Salah satu langkah yang diyakini sangat penting adalah apa yang dapat dilakukan di rumah. Orangtua dapat memodifikasi atau bahkan mencegah efek-efek yang berhubungan dengan TV melalui beragam aktivitas yang dikenal dengan mediasi (mediation).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Istilah mediasi merujuk pada ”interaksi dengan anak-anak mengenai televisi” (interactions with children about television). Meskipun ada sejumlah individu yang dapat memberikan mediasi, seperti saudara kandung, teman atau orang dewasa lainnya, istilah ini umumnya dipakai bagi interaksi orangtua—anak. Jadi, fokusnya adalah pada mediasi orangtua (parental mediation). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Amy Nathanson (1999), ahli media anak, terdapat tiga bentuk mediasi, yakni mediasi aktif, mediasi restriktif, dan coviewing.&lt;br /&gt;Mediasi aktif terbagi lagi atas tiga bentuk. Pertama, mediasi aktif positif. Artinya, selama mendampingi anak-anak menonton TV, orangtua memberikan komentar-komentar positif jika ada hal positif yang tampak di layar. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mediasi aktif negatif. Sebaliknya dengan yang pertama, di sini orangtua memberitahukan hal-hal negatif yang disajikan di layar. Contohnya, saat menyaksikan orang melakukan tindakan pengrusakan dalam sebuah berita, orangtua berkomentar bahwa itu adalah tindakan salah. Atau, saat melihat iklan yang berlebihan menonjolkan produk, orangtua dapat memberitahu anaknya bahwa yang ditampilkan tersebut tidak benar.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga, mediasi netral. Ini merupakan jenis mediasi aktif yang melibatkan penyediaan informasi tambahan atau instruksi bagi anak mengenai isi TV. Misalnya, sementara menyaksikan program pendidikan, orangtua mungkin melanjutkan apa yang telah disampaikan oleh TV. Di sini orangtua tidak memberikan arahan positif atau negatif, tetapi memberi tambahan informasi pada anak. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mediasi jenis kedua adalah ‘mediasi restriktif’ (restrictive mediation). Sesuai namanya, di sini orangtua membatasi akses anak terhadap TV. Orangtua dapat menentukan peraturan mengenai jenis program yang boleh ditonton anak, seberapa banyak mereka boleh menonton, dan kapan mereka boleh menontonnya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mediasi bentuk ketiga adalah apa yang dikenal sebagai coviewing atau ‘pendampingan’. Pada bentuk ini, orangtua sama-sama menonton TV bersama anak. Berbeda dengan yang pertama, orangtua tidak memberi arahan apa pun pada anak. Menurut hasil studi, bentuk mediasi ini paling banyak dilakukan oleh orangtua, karena memang mudah dilakukan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Amat disayangkan, berdasarkan studi Erica Austin (1993), tidak semua orangtua menjalankan mediasi. Beberapa faktor yang menghambat orangtua untuk melakukan mediasi di antaranya waktu orangtua yang tersedia (terutama jika kedua orangtua bekerja) dan kemudahan akses anak terhadap TV (faktanya, makin banyak anak yang memiliki perangkat TV dan komputer di kamarnya). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Merangkum beberapa studi, Nathanson ada beberapa hal yang patut dicatat dalam hal mediasi orangtua.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pertama, yang lebih sering melakukan mediasi adalah ibu. Apakah ini berarti para ayah kurang peduli dengan efek negatif TV? Entahlah...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ibu berpendidikan umumnya menerapkan restrictive mediation. Kesadaran akan efek TV memang berhubungan dengan tingkat pendidikan orangtua.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, orangtua yang menyukai TV cenderung menggunakan mediasi aktif positif, sementara yang tidak menyukai TV cenderung melakukan mediasi aktif negatif.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Keempat, orangtua yang berpendidikan lebih rendah cenderung menerapkan coviewing. Ini mengingatkan tentang banyaknya cerita dari anak-anak yang sering saya dengar tentang bagaimana mereka menonton TV bersama-sama sekeluarga. Yang ditonton ya sinetron, film laga, infotainment, reality show, dan macam-macam lagi. Beberapa dari anak-anak itu bahkan mengatakan, “Aku nemenin ibu.” Jadi tidak jelas, siapa mendampingi siapa dalam hal menonton TV ini!&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Mediasi orangtua secara umum memberi efek positif bagi anak. Dengan mediasi, anak antara lain akan lebih mudah memahami plot program TV, kurang mudah percaya bahwa yang hadir di layar adalah realita, dan cenderung tidak mudah terpengaruh oleh kekerasan di TV. Dengan demikian mediasi orangtua laksana “vaksin” yang diberikan orangtua kepada anak untuk menangkal efek TV yang buruk.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, bentuk mediasi yang dilakukan orangtua dengan penuh kasih sayang tentu akan mengeratkan hubungan emosional antara orangtua dan anak.&lt;br /&gt;Mediasi orangtua dapat membantu anak untuk menjadikan ayah-ibunya sebagai satu-satunya orangtua tempat ia berpegang pada nilai-nilai kehidupan, bukannya membuat ia berguru pada “orangtua” lain yang ada di rumahnya –yakni orangtua elektronik bernama televisi. (Nina Mutmainnah,aktivis Yayasan Pengembangan Media Anak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------- &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-4287587392352567570?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/4287587392352567570/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/09/agar-anak-tak-berguru-pada-tv.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/4287587392352567570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/4287587392352567570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/09/agar-anak-tak-berguru-pada-tv.html' title='Agar Anak Tak Berguru Pada TV'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/SqUO5eOl5BI/AAAAAAAAAjc/U9_K2Err5Ks/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-2806409232066303409</id><published>2009-08-31T15:01:00.000-07:00</published><updated>2009-09-07T06:51:09.456-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info parenting'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='usia tepat masuk SD'/><title type='text'>Usia Berapa Sebaiknya Anak Masuk SD?</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/SqUPtJ3qZrI/AAAAAAAAAjk/y2Fe-WnbZZY/s1600-h/sd.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378722598381840050" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 116px; CURSOR: hand; HEIGHT: 87px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/SqUPtJ3qZrI/AAAAAAAAAjk/y2Fe-WnbZZY/s320/sd.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pertanyaan ini pasti sering menghinggapi orangtua yang memiliki balita. Pada usia berapa sebenarnya anak bisa masuk SD ? Yang diharapkan anak sudah mantap secara fisik dan psikologis sehingga cukup cepat menangkap pelajaran.&lt;br /&gt;Bolehkah Anak masuk SD pada usia di bawah 6 tahun ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebenarnya bisa saja anak yang belum berusia 6 tahun bersekolah di sekolah dasar. Sebab yang lebih penting sebenarnya kesiapan umur mental si anak, yakni kemampuan mental dan intelektual, bukan umur kalendernya. "Contoh, anak umur 4 tahun tapi umur mentalnya 6 tahun, berarti mereka sudah siap masuk SD," papar Prof Dr. S.C . Utami Munandar, guru besar psikologi anak Universitas Indonesia. Cuma, untuk mengetahui apakah umur mental anak siap, orangtua mesti mengeceknya dengan melakukan tes umur mental ke psikolog. Dari sini, nanti bisa diketahui IQ anak, dengan rumus: (umur mental/umur kalender) x 100 = IQ. Bila skor IQ anak di atas 130, jauh di atas anak normal (skor IQ 85-115), bisa saja ia dipandang gifted dan dipertimbangkan masuk SD lebih awal, setelah mempertimbangkan aspek-aspek lainnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi ada resiko lain yang mungkin dialami anak jika masuk sekolah terlalu kecil. Misalnya karena anak masih kecil tidak sanggup menghadapi tekanan pelajaran dan guru yang menyebabkan anak stress dan malas sekolah. Bisa juga minder dalam pergaulan karena dianggap masih anak kecil.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Apa keuntungan anak masuk SD usia 7 tahun ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Banyak rumor kalau pemerintah akan memberlakukan peraturan masuk SD minimal berusia 7 tahun. Berikut ini ada kutipan dari http://pusat.jakarta.go.id :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada dasarnya calon murid SDN harus berusia tujuh tahun. Tetapi bila pendaftar yang berusia tujuh tahun semua sudah bisa tertampung maka urutan berikutnya adalah mereka yang berumur enam tahun.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Dan bila usia tujuh tahun dan enam tahun sudah tertampung masih juga ada bangku kosong maka bisa menerima calon murid berumur di bawah enam tahun, tetapi harus dilampirkan surat keterangan dari psikolog pendidikan," kata Sylviana Murni, Kepala Dinas Pendidikan Dasar (Dikdas) DKI, kemarin.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Surat keterangan dari psikolog pendidikan harus menyatakan bahwa calon murid secara mental sudah siap belajar di SD. "Memang kadang ada usia di bawah lima tahun sudah bisa membaca, tapi kalau ternyata rekomendasi dari psikolog pendidikan belum siap sekolah di SD, ya jangan dipaksakan," sambungnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Baca dan Tulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada dasarnya pihak Dikdas tidak pernah mensyaratkan calon murid SDN harus bisa membaca dan menulis. Alasannya, karena saat belajar di TK belum sampai diajarkan seputar membaca dan menulis.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Sekolah TK itu masih sebatas pengenalan huruf dan angka dan belum sampai diajarkan membaca," tegas Sylviana. "Yang jelas bila mau masuk SDN harus berusia tujuh tahun, dan bila masih ada bangku kosong baru mereka yang berusia enam tahun."&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Secara psikologis, anak 7 tahun memang lebih siap, apalagi untuk anak laki-laki. Seorang psikolog Australia bernama Steve biddulph dalam bukunya yang berjudul Raising Boys mengungkapkan kalau menurut hasil penelitian anak laki-laki usia 6-7 tahun masih ingin menggerakan motorik kasarnya saja, sedangkan motorik halusnya ketinggalan jauh dari anak wanita.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kesimpulannya, orang tidak tidak perlu terburu-buru memasukan anaknya ke SD, tunggu sampai kesiapan fisik dan mentalnya memadai. Kalau perlu banyak mencari informasi dari media atau psikolog mengenai kesiapan seorang anak. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Source:childparentingskills.info&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-2806409232066303409?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/2806409232066303409/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/08/usia-berapa-sebaiknya-anak-masuk-sd.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/2806409232066303409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/2806409232066303409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/08/usia-berapa-sebaiknya-anak-masuk-sd.html' title='Usia Berapa Sebaiknya Anak Masuk SD?'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/SqUPtJ3qZrI/AAAAAAAAAjk/y2Fe-WnbZZY/s72-c/sd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-7298449447470190230</id><published>2009-08-29T22:27:00.001-07:00</published><updated>2009-08-29T22:30:18.151-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak &apos;bossy&apos;'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info parenting'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tips parenting'/><title type='text'>Agar Si Kecil Tak 'Bossy'</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/SpoN6pJ2YsI/AAAAAAAAAgk/fXL58hF3vuM/s1600-h/anakbossy.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5375624406350848706" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 111px; CURSOR: hand; HEIGHT: 91px" alt="parenting" src="http://1.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/SpoN6pJ2YsI/AAAAAAAAAgk/fXL58hF3vuM/s200/anakbossy.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Agar si kecil tidak sok jadi raja sampai besar,mulailah mengurangi perilaku bossy-nya sekarang juga.Berikut beberapa saran pakar dari parents guide:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jangan bossy&lt;br /&gt;Kalau tak ingin si kecil ngebos,kita juga jangan ngebos.Mulailah memberantas sikap ini dari diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Beri perhatian&lt;br /&gt;Kadang,tingkah ngebos terkait dengan kebutuhan anak terhadap waktu orangtua.Singkatnya,ia cari perhatian.Maka,beri perhatian secukupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Beri tanggung jawab&lt;br /&gt;Jangan karena tingkahnya bak raja kecil,kita tak mau menyuruhnya melakukan apapun.Beri tugas sederhana yang kira-kira bisa dia kerjakan.Misal,ambil minum sendiri atau mengambilkan sepatu ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Beri penghargaan&lt;br /&gt;Tiap kali si kecil bersedia menolong orang atau melakukan pekerjaan tertentu,misalnya mengambilkan kue untuk kakaknya,pujilah dengan tulus.Ia akan tahu bahwa bekerja atau melayani orang lain itu menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jangan tanggapi kekasarannya&lt;br /&gt;Jangan tersinggung bila si kecil mulai memerintah ini-itu tanpa sopan santun.Tegaskan dan jelaskan bahwa ia harus mengatakan 'tolong','maaf',atau 'terima kasih' dengan sopan kalau ingin minta sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Biarkan membuat keputusan&lt;br /&gt;Memberi kesempatan si kecil membuat keputusan sederhana,misalnya mau makan apa atau mau pakai baju apa,bisa mengurangi hasratnya untuk 'menguasai segalanya'.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-7298449447470190230?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/7298449447470190230/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/08/agar-si-kecil-tak-bossy.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/7298449447470190230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/7298449447470190230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/08/agar-si-kecil-tak-bossy.html' title='Agar Si Kecil Tak &apos;Bossy&apos;'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5-yfjzWBYr8/SpoN6pJ2YsI/AAAAAAAAAgk/fXL58hF3vuM/s72-c/anakbossy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-4744090042464970556</id><published>2009-08-27T14:13:00.000-07:00</published><updated>2009-08-27T15:04:17.914-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info parenting'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak mengamuk'/><title type='text'>12 Cara Meredakan Amukan Anak</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Siapa yang tahan menghadapi anak balita mengamuk?Apalagi jika kita sedang terburu-buru atau berada di tempat umum.Buat si kecil,mengamuk amat menyedot energy,menegangkan syaraf,dan mengguncang emosi.Kadang juga membuat tenggorokannya sakit lantaran menjerit-jerit dan,ini yang tidak diharapkan,beresiko cedera fisik karena meronta-ronta atau berguling-guling.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ibarat letusan gunung berapi,kita semua pasti mengharapkan ledakan kemarahan anak mereda.Lebih cepat,lebih baik.Parents guide akan memaparkan 12 cara meredakan amukan balita yang sudah pernah dibuktikan efektivitasnya:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;1. Tenangkan diri,tenangkan anak&lt;br /&gt;Ketenangan adalah modal awal kita sekaligus modal utama.Bahkan si kecil pun sebenarnya membutuhkan ketenangan kita.Jadi,JANGAN IKUT MARAH!Segera tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan.Lakukan sekitar 3-4 kali.Setelah itu,peluk si kecil dengan lembut (tapi tegas) agar ia tidak mencederai dirinya atau orang lain.Jauhkan ia dari penyebab kemarahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bantu menghilangkan penyebabnya&lt;br /&gt;Anak balita mengamuk karena frustasi.Jika ia frustasi karena tidak bisa memakai kaos kaki dengan rapi,ambil kaos kakinya dan tunjukkan cara termudah melakukannya.Tawarkan,apa mau coba lagi?&lt;br /&gt;Jika penyebabnya adalah keinginan yang tak kesampaian,misalnya ingin main sepeda ke jalan raya tapi dilarang karena berbahaya,maka tunjukkanlah empati,ketegasan,dan sekaligus alternative pemecahan.”Ibu tahu kamu ingin naik sepeda ke jalan raya,tapi itu tidak boleh karena berbahaya.Banyak kendaraan.Lain kali kita pergi ke jalan besar yang sepi,dan kamu boleh main sepeda sepuasnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Melucu,melawak.&lt;br /&gt;Anak balita umumnya mudah tergelitik rasa humornya.Keluarkan koleksi lelucon kita.Ucapkanlah kata-kata atau kalimat konyol – asal tidak jorok atau kasar.Bertingkahlah seperti seekor monyet,gajah,atau kodok.Kalau bisa mengarang lagu konyol dengan cepat,boleh juga.Seperti apa lagu konyol?Ya misalnya seperti ini:Telor-telor,ulat-ulat,kepompong,kupu-kupu,kasihan deh kamuuu……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ceritakan waktu ayah/ibu kecil&lt;br /&gt;Anak balita senang mendengar cerita tentang orang tuanya.Makin lucu atau seru ceritanya,makin baik.Misalnya,”Tahu nggak,waktu kecil ibu pernah marah-marah dan menangis.Tahu-tahu,ibu batuk-batuk.Uhuk,uhuk!Coba tebak kenapa?Ternyata…….ibu menelan seekor nyamuk!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Main plesetan&lt;br /&gt;Kepekaan bahasa anak balita biasanya tinggi.Plesetan akan menggugahnya.Coba plesetkan lagu-lagu yang sudah dikenal si kecil,Naik-Naik Ke Puncak Gunung,misalnya:Naik-naik ke puncak hidung,tinggi,tinggi sekali……(sambil menggerakkan jari tangan dan pipi kita ke atas hidung anak).Tentu saja yang lainnya bisa juga kita plesetkan.”Coba tebak,apa bedanya kucing sama kucring?Mau tahu?Kucing kakinya empat,kalau kucring kakinya emprat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Adakan lomba&lt;br /&gt;Anak balita senang berkompetisi dengan orang dewasa untuk menunjukkan ‘kendali’nya.Coba adakan lomba diam paling lama,lomba tertawa paling lama,lomba senyum paling lama,lomba tidak berkedip paling lama,lomba aduu cepat cuci muka (biar segar!),lomba menghembuskan nafas paling panjang,dan banyak lagi.Kalau anak mengamuksambil melempar-lempar barang,kita bahkan bisa mengadakan lomba mengumpulkan barang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Buat suara-suara aneh&lt;br /&gt;Seperti dalang atau pemain sandiwara boneka,mendongenglah dengan memakai suara yang aneh-aneh,”Hauuummm……(suara singa,sambil menggaruk udara dengan dua tangan).Aku ini singa me-na-kut-kaaaan…….hauuummm!”(melompat,seperti mau menerkam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Gerak dan sajak (atau lagu)&lt;br /&gt;Masih ingat sajak yang berjudul “Dua Ekor Kelinci Berebut Sepotong Roti?”Coba peragakan dengan gerakan:&lt;br /&gt;Dua ekor kelinci berebut sepotong roti/Minta tolong kepada kera/Roti itu dibelah menjadi dua/Ditimbang-timbang,berat yang mana?/Berat yang kiri,digigit.Berat yang kanan,digigit/Lama-lama rotinya habis/Dua ekor kelinci tinggal menangis,huhuhuhu….&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;9. Ingatkan hal-hal menyenangkan&lt;br /&gt;Ini saran klasik dari Julie Andrews dalam film The Sound Of Music,tepatnya dalam lagu ‘My Favourite Things’.Penggalan syairnya seperti ini:When the dog bites,when the bee stings,when I’m feeling sad,I simply remember my favourite things,and then I don’t feel so bad!&lt;br /&gt;Lalu Andrews mengingat-ingat tetesan hujan di atas bunga mawar,kumis anak kucing,bingkisan kado yang diikat pita,dan banyak lagi.Si kecil senang apa – kucingnya?Temannya yang lucu?Saat jalan-jalan dengan ayahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.Bocorkan ‘rahasia’&lt;br /&gt;Anak balita itu curious.Apalagi kalau itu urusan (apalagi rahasia) orang dewasa.”Eh,eh,Ayah punya rahasia penting.Jangan bilang siapa-siapa,ya?Mau tahu?Begini…….Ayah dulu penakut sama kucing,lho!Kalau ketemu kucing,ayah ngumpet.Sekarang juga masih agak-agak geli dikit,sih…..Tapi,psst,jangan bilang siapa-siapa,ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.Katakan hal-hal positif&lt;br /&gt;Si kecil masih mengamuk?Cobalah duduk sedekat mungkin di hadapannya.Pegang bahunya atau genggam kedua tangannya.Kita bisa bicara seperti ini:”Sayang,tiap kamu marah-marah seperti ini,kamu tuh mengeluarkan tenaga besaaar sekali.Jadi,sebenarnya kamu itu tenaganya kuat,lho.Nah,bayangkan kalau tenaga itu disimpan,dan dipakai untuk melawan kuman penyakit yang mau masuk ke badanmu sekarang – kamu tahu,kan,di luar sini banyak kumanyang tidak kelihatan?Pasti kamu tidak gampang sakit.Gimana menurutmu,lebih baik tenaga disimpan atau dibuang-buang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.Main gelitik-gelitikan&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalau semua cara di atas masih gagal juga,cobalah ‘jurus pamungkas’ ini.Cari ‘titik geli’ si kecil.Pinggang?Telapak kaki?Telinga?Atau leher?Masak sih,dia tidak tertawa juga?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-4744090042464970556?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/4744090042464970556/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/08/12-cara-meredakan-amukan-anak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/4744090042464970556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/4744090042464970556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/08/12-cara-meredakan-amukan-anak.html' title='12 Cara Meredakan Amukan Anak'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-6818715864411315518</id><published>2009-08-26T14:16:00.000-07:00</published><updated>2009-08-26T14:20:57.592-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komunikasi pd anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info parenting'/><title type='text'>Bersama Anak,Bukan Di Dekat Anak</title><content type='html'>Banyak orang tua yang belum begitu memahami perbedaan antara ‘bersama’ anak dan ‘di dekat’ anak.Padahal keduanya memiliki makna yang berbeda.Hal ini terutama terjadi pada orang tua yang bekerja sehingga waktu bersama anak menjadi sedikit.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Berikut tips dan trik dari Ihsan Baihaqi (pendiri sekolah orang tua PSPA):&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;1 .Sesibuk apapun,sediakan waktu ‘bersama’ anak.Setengah jam sehari sepertinya tak berat dan tak berlebihan,bukan?Syukur-syukur bisa lebih dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama anak berbeda artinya dengan berada di dekat anak.Ada banyak orang tua yang hadir 24 jam di dekat anak tetapi tak 5 menit pun bersama anak.Bersama anak berarti berbicara DENGAN anak,bukan berbicara KEPADA anak.Kita berusaha mendengarkan perasaan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Jangan pernah MENEBUS DOSA bekerja kita dengan menawarkan banyak hal (permainan,kue,hadiah) pada anak secara berlebihan,lebih dari yang dibutuhkan anak-anak,atau bahkan tak dibutuhkannya sama sekali.Banyak orang tua melakukannya dengan alasan sebagai kompensasi karena telah meninggalkan anak-anak begitu lama.Padahal hal tersebut tidak produktif untuk masa depan mereka.Mereka dapat menjadi pribadi yang instant karena segala keinginannya dipenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sebelum tidur,tatap matanya,cium keningnya,doakan dia dengan penuh kekhusyukan.Jika memungkinkan,biarkan ia mendengar apa yang kita doakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Mulailah setiap pagi dengan penuh kemesraan pada anak.Buatlah saat-saat kebersamaan dengannya penuh dengan tawa dan canda,dalam kondisi kita selelah apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Bekerja sama dengan suami,install nila-nilai positif pada anak melalui cerita.Penanaman nilai-nilai ini adalah bekal jangka panjang untuk anak-anak.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-6818715864411315518?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/6818715864411315518/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/08/bersama-anakbukan-di-dekat-anak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/6818715864411315518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/6818715864411315518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/08/bersama-anakbukan-di-dekat-anak.html' title='Bersama Anak,Bukan Di Dekat Anak'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-7423559306045353612</id><published>2009-08-24T22:12:00.000-07:00</published><updated>2009-08-24T22:21:50.243-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komunikasi pd anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info parenting'/><title type='text'>Bila Si Kecil Banyak Bertanya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pet! Listrik tiba-tiba padam, malam itu. Dengan sigap, abi segera menyalakan lampu minyak. Si kecil Asma’ (3) mengamati lampu minyak itu dengan penuh rasa ingin tahu. Tak lama kemudian, muncullah beberapa pertanyaan dari bibir mungilnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://mitrafm.com/wp-content/uploads/2009/06/bu-irawati-istadi1.jpg"&gt;&lt;/a&gt;“Itu apa Bi?” “Itu lampu minyak, Sayang.” “Kok pakai lampu minyak kenapa Bi?” “Karena listrik mati.” “Listriknya kok mati kenapa toh Bi?” “Ya…mungkin karena tadi ada hujan deras.” “Kok tadi ada hujan deras kenapa Bi?” “Tadi di langit kan ada awan hitam, awan itu sekumpulan air, kalau turun jadi hujan.” Bla…bla…bla….Demikianlah pertanyaan si kecil bagai tak ada habisnya. Abinya pun dengan sabar menjawab pertanyaan putri sulungnya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rasa Ingin Tahu, Jangan Dimatikan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak berusia 2-5 tahun memang seringkali mengajukan banyak pertanyaan kepada orangtua atau pengasuhnya. Pertanyaan mereka biasanya tidak jauh dari apa yang mereka temui, amati atau rasakan. Yang mendorong mereka mengajukan pertanyaan adalah besarnya rasa ingin tahu mereka terhadap segala sesuatu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, kita semua memiliki bekal rasa ingin tahu ini semenjak lahir. Kehebatan rasa ingin tahu inilah yang membuat bayi bisa merangkak, berjalan, dan bicara. Selanjutnya, rasa ingin tahu ini akan menentukan kualitas perkembangan otak mereka. Sayangnya, orangtua banyak melakukan intervensi negatif sehingga naluri penting ini terkubur dalam-dalam.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Seringkali orangtua tak mau menjawab pertanyaan anak-anaknya yang menurut mereka terdengar konyol, lugu, dan seperti dibuat-buat. Seakan tak ada gunanya kalaupun orangtua mau repot-repot menjawabnya. Hal ini menjadikan anak belajar untuk mematikan rasa ingin tahunya. Setelah pertanyaan-pertanyaannya tak pernah dijawab, anak pun jadi malas untuk bertanya lagi, dan jadi tak peduli pada segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Tindakan orangtua yang mematikan rasa ingin tahu anak itu sungguh tidak mendidik dan berpengaruh buruk terhadap perkembangan otak anak.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebagian kecil orangtua memang ada yang sangat mendukung perkembangan intelektual anaknya. Mereka bukan hanya menjawab pertanyaan anak, tetapi juga berusaha melakukan sesuatu untuk semakin menumbuhkan rasa ingin tahu sang anak. Mereka mendorong anak untuk bertanya dan terus bertanya, hingga anak sendiri yang kehabisan pertanyaan. Untuk itu, para orangtua ini menyediakan waktu sebanyak mungkin, karena mereka tahu, sepatah kata jawaban bisa menjadi sangat berarti bagi perkembangan sel saraf otak anak. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perlu Kesabaran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Orangtua yang tidak sabaran, mungkin cuma diam atau menjawab ‘tidak tahu’ saat ditanya sang anak. Kadang, pertanyaan anak malah dijawab dengan bentakan, “Sudah diam! Jangan tanya-tanya terus. Ibu capek.”&lt;br /&gt;Memang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan anak itu diperlukan kesabaran, di samping perhatian dan kepandaian dalam menjawab. Seorang ibu yang sudah disibukkan dengan berbagai pekerjaan rumah, mungkin akan lelah menghadapi seribu satu macam pertanyaan anaknya. Demikian juga dengan sang ayah yang sudah bekerja seharian mencari nafkah. Rasa lelah itu bisa menghilangkan mood untuk sekadar menjawab sang anak. &lt;/div&gt;Bukankah jika kita menyatakan siap punya anak, secara otomatis kita juga harus siap ‘direpoti’?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Adalah salah besar jika hanya karena alasan sibuk atau capek, lalu orangtua mematikan rasa ingin tahu sang anak. Sebisa mungkin, walau sedang sibuk bekerja, kita tetap berusaha memberi perhatian pada anak. Sambil memasak, seorang ibu bisa menjawab pertanyaan anak. Sambil membersihkan rumah pun bisa terus mengobrol dengan mereka.&lt;br /&gt;Sekali lagi, dalam hal ini memang dibutuhkan kesabaran tinggi. Dalam menjawab pun kita harus menunjukkan perhatian, yang bisa ditampakkan lewat mimik muka dan cara menjawab dengan nada bersungguh-sungguh.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jawablah dengan Benar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Orangtua tak perlu memberikan jawaban panjang atau berbelit-belit, sehingga malah sulit dimengerti anak. Cukuplah menjawab pertanyaan anak dengan jawaban pendek dengan bahasa yang disesuaikan dengan pemahaman anak. Jangan pernah menjawab pertanyaan anak dengan sembarangan. Jika menjawab, jawablah dengan benar. Jika orang tua tidak tahu jawaban yang benar, tak usah mencoba berbohong. Lebih baik katakan tidak tahu, dan cobalah menerangkan di lain waktu bila jawabannya sudah didapat. Sebagaimana contoh kasus di awal tulisan ini, Abu Asma’ berusaha menjawab pertanyaan putrinya dengan jawaban-jawaban pendek yang mudah dipahami. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Beruntunglah anak bila orangtuanya selalu berusaha menjawab pertanyaannya dengan benar. Selain bisa memuaskan hatinya, jawaban itu juga akan menambah pengetahuan dan wawasannya. Sayangnya, tak sedikit orangtua yang suka memberikan jawaban tidak benar pada anak. Misalnya saat Hasan (5) bertanya pada ibunya tentang gempa yang menyebabkan genting-genting di rumahnya melorot ke bawah. “Kok terjadi gempa kenapa Bu?” “Karena ada raksasa besar yang mengamuk di dalam laut, jadi bumi bergoncang.” Mungkin jawaban tersebut bisa diterima oleh daya imajinasinya, akan tetapi jawaban itu tidak menambah perbendaharaan pengetahuannya. Jawaban semacam ini sangat tidak bermanfaat, dan harus dijauhi oleh para orangtua. Seharusnya pertanyaan Hasan bisa dijawab, “Gempa itu penyebabnya bisa bermacam-macam. Salah satunya karena ada gunung meletus di daratan atau lautan, jadi bumi bergoncang.” Jika Hasan masih penasaran dengan sebab-sebab gempa lainnya, ibu bisa mencarikan referensi, misalnya buku atau majalah yang membahas tentang gempa, untuk dibacakan atau dibaca sendiri oleh Hasan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kemampuan Otak Balita&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita mengira, anak-anak balita itu selain lugu juga tak tahu apa-apa tentang alam semesta kehidupannya. Tapi adalah kesalahan besar jika kita menganggap mereka bodoh, karena mereka mempunyai daya tangkap dan daya ingat yang jauh lebih hebat dari yang kita pikirkan. Dari sekian banyak pertanyaannya yang dia ajukan dalam sehari, pasti ada yang masuk dan direkam baik-baik dalam otaknya. Ya, balita memang memiliki kemampuan menangkap pengetahuan dengan hebat, karena otak mereka belum dipengaruhi untuk memikirkan hal-hal lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pertanyaan saja, bagi anak ibarat mempelajari sebuah bab pelajaran di sekolah sebagaimana yang dipelajari kakak-kakaknya. Maka jawabannya akan sangat berarti untuk mengasah ketajaman otaknya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu dikhawatirkan justru kalau anak terlalu pendiam, dan tidak ingin tahu banyak tentang segala sesuatu. Ia tidak pernah bertanya, dan tidak tertarik dengan adanya benda baru. Anak seperti ini harus ‘dipancing’ untuk membangkitkan rasa ingin tahunya. Orangtua bisa memulai dengan mengajukan pertanyaan, “Azmi, mengapa kalau siang tampak terang dan malam tampak gelap?” Atau, “Kamu dan ayam sama-sama punya kaki. Mengapa kamu bisa menendang bola, ayam tidak?” Dengan pertanyaan menarik diharapkan anak akan terangsang, kemudian menanyakan segala sesuatu. Makin sering orangtua memancing dengan berbagai pertanyaan menarik, tentu anak akan meniru tindakan orangtua.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengembangkan kemampuan anak bertanya, bimbinglah anak untuk mempraktikkan kunci utama pertanyaan, yaitu 5W+1H. Yang dimaksud 5W+1H adalah what (apa), when (kapan), where (di mana), who (siapa), why (mengapa) dan how (bagaimana)&lt;br /&gt;Selain itu orang tua juga bisa menyediakan buku bacaan atau majalah islami untuk anak-anak. Melihat gambar-gambarnya yang menarik dan berwarna-warni, bisanya anak-anak akan tertarik untuk mempertanyakan apa yang ia lihat. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika anak tetap belum banyak bertanya seperti yang kita harapkan, maka orangtua yang harus aktif menyakan segala sesuatu tentang gambar-gambar atau kisah di buku tersebut. Yang mesti disadari, proses ini membutuhkan waktu dan memerlukan kesabaran. Semoga kita memiliki putra-putri yang shalih dan pintar.(Sumber: Mendidik dengan Cinta)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-7423559306045353612?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/7423559306045353612/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/08/bila-si-kecil-banyak-bertanya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/7423559306045353612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/7423559306045353612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/08/bila-si-kecil-banyak-bertanya.html' title='Bila Si Kecil Banyak Bertanya'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-58783773559410865</id><published>2009-08-23T06:58:00.000-07:00</published><updated>2009-08-23T07:01:26.686-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tips parenting'/><title type='text'>Empat Kiat Menghindari Masalah Dengan Anak</title><content type='html'>1. Jangan sampai anak Anda menjadi terlalu lapar&lt;br /&gt;2. Jangan sampai anak Anda menjadi terlalu lelah&lt;br /&gt;3. Jagalah stress sampai tingkat yang masih bisa diatur&lt;br /&gt;4. Jangan sampai memberikan terlalu banyak kegiatan pada malam hari dan usahakan kegiatan yang diberikan tidak terlalu merangsang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-58783773559410865?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/58783773559410865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/08/empat-kiat-menghindari-masalah-dengan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/58783773559410865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/58783773559410865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/08/empat-kiat-menghindari-masalah-dengan.html' title='Empat Kiat Menghindari Masalah Dengan Anak'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-5484108726406930412</id><published>2009-08-23T06:52:00.000-07:00</published><updated>2009-08-23T06:58:39.620-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tips parenting'/><title type='text'>Tanda-Tanda Bahaya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Jika anak Anda seringkali menunjukkan beberapa tanda berikut ini,carilah pertolongan kepada ahlinya.Tanda-tanda tersebut bisa jadi menunjukkan perilaku tidak normal yang serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Memalak dan mengancam orang&lt;br /&gt;* Kejam terhadap binatang-binatang&lt;br /&gt;* Mencuri&lt;br /&gt;* Bohong berat&lt;br /&gt;* Sering bersikap agresif&lt;br /&gt;* Kejam kepada orang&lt;br /&gt;* Destruktif&lt;br /&gt;* Melakukan pembakaran&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-5484108726406930412?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/5484108726406930412/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/08/tanda-tanda-bahaya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/5484108726406930412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/5484108726406930412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/08/tanda-tanda-bahaya.html' title='Tanda-Tanda Bahaya'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-5740117544452206783</id><published>2009-08-18T03:10:00.001-07:00</published><updated>2009-08-18T03:11:27.400-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komunikasi pd anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info parenting'/><title type='text'>Katakan "Ayah/Ibu Sayang Kamu" Setiap Hari</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Salah satu cara termudah untuk membuka saluran komunikasi adalah menyatakan hal-hal yang jelas.Hampir semua orang tua menyayangi anak-anak mereka,namun sangat jarang mereka mengatakan hal itu kepada anak-anaknya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak tidak perlu dicereweti atau dipuji berlebihan karena hal-hal sederhana yang harusnya dilakukan setiap hari atau disebut genius karena menaruh gelas kotor di tempat cuci piring.Mereka tidak perlu dijadikan pusat beredarnya jagad raya dan terlalu dimanja karena lebih mudah bagi Anda untuk mengikuti mau mereka daripada menghentikan mereka.&lt;br /&gt;Tetapi mereka tetap butuh dorongan.Mereka butuh pelukan dan cium setiap hari.Mereka perlu merasa bahwa dirinya sosok penting bagi Anda.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari,anak-anak butuh mendengar hal-hal berikut:&lt;br /&gt;·       Ayah/ibu sayang kamu&lt;br /&gt;·       Tolong&lt;br /&gt;·       Terima kasih&lt;br /&gt;·       Terima kasih karena kamu jadi anak ayah/ibu&lt;br /&gt;·       Ayah/ibu bangga padamu&lt;br /&gt;·       Ayah/ibu percaya padamu&lt;br /&gt;·       Ayah/ibu yakin padamu&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Anda juga bisa menyelipkan catatan kecil ke dalam kotak makan atau tasnya.Pengakuan kecil dapat sangat membantu aktivitasnya sehari-hari.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-5740117544452206783?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/5740117544452206783/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/08/katakan-ayahibu-sayang-kamu-setiap-hari.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/5740117544452206783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/5740117544452206783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/08/katakan-ayahibu-sayang-kamu-setiap-hari.html' title='Katakan &quot;Ayah/Ibu Sayang Kamu&quot; Setiap Hari'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-5917110241935070559</id><published>2009-08-18T02:58:00.000-07:00</published><updated>2009-08-18T03:12:17.215-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komunikasi pd anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info parenting'/><title type='text'>Teknik Dasar Berbicara Kepada Anak</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ketika kami membantu keluarga dalam acara Nanny 911,orang tua selalu heran karena anak-anak mereka yang lepas kendali langsung terdiam ketika kami tiba,padahal mereka sebelumnya baru saja terlibat dalam pertandingan menjerit.Mengapa mereka mendengarkan kami tetapi tidak pada orang tuanya? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Karena kami mengambil langkah-langkah sederhana untuk membuat anak merasa aman.Dan ketika anak merasa aman,mereka bisa berbicara dengan bebas dan jujur.&lt;br /&gt;Ikuti langkah-langkah yang dijabarkan oleh Nanny Deb dan Stella berikut ini dan gunakan saat menghadapi anak-anak yang sedang kesal: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;1. Turunkan tubuh Anda setinggi anak.&lt;br /&gt;Duduk atau berlutut;pilih yang nyaman untuk Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tatap matanya.&lt;br /&gt;Ini penting sekali.Jika perlu palingkan kepala anak dengan tangan Anda –dengan lembut-supaya dia menatap langsung kepada Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jika si anak sangat marah,usap punggung atau perutnya.&lt;br /&gt;Usapan pengakuan.Anda tidak perlu memeluk atau menarik anak ke dekat Anda ketika Anda sedang berbicara kecuali si anak benar-benar histeris dan perlu ditenangkan.(Kalau itu terjadi,biarkan si anak tenang sebelum memulai percakapan apapun.Suruh mereka menarik nafas dan bantu mereka melakukan itu-ini biasanya sangat membantu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ubah nada suara Anda.&lt;br /&gt;Berkatalah dengan suara yang tegas tetapi lembut.Suara serius adalah suara yang tidak tinggi.Pernah,Nanny Deb berjalan masuk ke sebuah rumah dan seorang bocah berusia tujuh tahun sedang memukuli ibunya yang terduduk diam di atas sofa.Tanpa buang waktu,Nanny Deb memegang tangan si anak dan berkata,”Kamu hentikan ini sekarang juga.Jangan pernah lakukan itu pada ibumu lagi.”Kemudian dia langsung mendapat time out tanpa melirik ke belakang.Nanny Deb tidak berteriak ataupun menjerit.Nada suaranya sudah cukup berkata : kekerasan tidak akan ditoleransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Beri kata-kata kepada anak untuk membantu mengalirnya percakapan.&lt;br /&gt;Lihat contoh berikut:&lt;br /&gt;Untuk anak-anak yang masih kecil,katakana,”Coba ikuti ibu” dan kemudian dorong anak untuk mencoba.Untuk anak-anak yang lebih besar,Anda bisa memulai percakapan dengan mengatakan sesuatu yang jelas,seperti :&lt;br /&gt;“Kamu kelihatannya kesal.”&lt;br /&gt;“Coba kasih tahu ibu/ayah apa yang membuatmu kesal.”&lt;br /&gt;“Apa yang membuat kamu kesal?”&lt;br /&gt;“Kamu marah karena apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Ulangi apa yang dikatakan oleh si anak&lt;br /&gt;Ini menunjukkan kepada mereka kalau Anda benar-benar mendengarkan.Hal ini juga memberi Anda waktu untuk mengatur ulang pikiran Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Jangan menyela&lt;br /&gt;Biarkan anak mengatakan apa yang ada di benaknya.Katakan kalau Anda mengerti.Kemudian,ketika giliran Anda tiba,mereka akan berhenti bicara (karena mereka bilang begitu) dan mendengarkan Anda.Kalau mereka menyela ketika Anda sedang bicara,katakan ,”Ayah/ibu mengerti,tetapi biarkan ayah/ibu selesai dulu,kemudian baru kamu bisa bicara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.Tetap tenang.&lt;br /&gt;Betapapun bergejolaknya hati Anda!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-5917110241935070559?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/5917110241935070559/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/08/teknik-dasar-berbicara-kepada-anak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/5917110241935070559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/5917110241935070559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/08/teknik-dasar-berbicara-kepada-anak.html' title='Teknik Dasar Berbicara Kepada Anak'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-8716420033665058154</id><published>2009-08-06T11:45:00.000-07:00</published><updated>2009-08-06T11:51:50.250-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatanku'/><title type='text'>Masterpiece</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kutahan keluhku sambil memasukkan baju-baju yang barusan kucuci ke mesin pengering.Setengah hari lewat sudah,tapi aku belum juga selesai membereskan rumahku.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Keempat anakku bergantian keluar masuk rumah,meninggalkan noda apapun yang berada di telapak kaki mereka,membentuk noktah warna-warni di atas lantai yang sejurus lalu masih tampak mengkilat setelah kubersihkan dengan susah payah.Remah-remah biskuit dan noda susu menghiasi karpet ruang tengah yang beberapa hari lalu baru saja kuambil dari laundry.Buku-buku berserakan,bahkan beberapa diantaranya sudah robek tak karuan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan ,lihatlah!Tumpukan piring dan gelas kotor kembali menggunung.Dalam hitungan menit sudah tak terhitung berapa puluh kali para liliput itu bergantian minta sirup,susu,atau sepotong pudding dan kemudian meninggalkan wadahnya begitu saja.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kini mataku tertuju ke jendela kaca yang beberapa jam lalu selesai kubersihkan. Tampak bekas tapak-tapak tangan dan mulut kecil menghiasinya. Noda-noda coklat juga terlihat disana-sini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hampir menangis,aku menghempaskan diri di kursi tamu.Meratapi ‘kemalanganku’ membesarkan empat anak yang tak pernah berhenti merepotkanku.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dering handphone menjerit-jerit dari kamarku.Tanpa gairah aku meraihnya,“Halo….?!”&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Suara wanita paruh baya yang sangat akrab di telingaku menyambut sapaanku dengan suka cita.“Kau baik-baik saja,sayang?!”Ups…….rupanya ibu mampu membaca nada suaraku yang setengah hati.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lalu mengalirlah semua kekesalanku tanpa bisa kubendung lagi.Tentang repotnya menyelesaikan pekerjaan rumah seorang diri.Juga masalah anak-anak yang tak henti membuat kotor rumahku.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Hmm….”ibuku berdehem pelan.Biasanya ini adalah awal yang akan digunakannya untuk menguliahiku.Tapi kali ini aku sangat membutuhkan bimbingannya.Jadi aku mulai memasang telingaku dengan seksama.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Kau tahu apa yang ibu rasakan saat ini?”&lt;/div&gt;Aku menggeleng pelan walau ibuku mungkin tak bisa melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Aku sangat merindukan masa-masa membesarkan kalian dulu.Aku terkadang membayangkan kau bermain lompat tali di beranda depan bersama kakak-kakakmu.”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Aku kadang juga masih mendengar bagaimana kalian saling berteriak memperebutkan mainan,dan salah satu dari kalian menangis lalu berlari memeluk ibu…..”&lt;/div&gt; Sampai disini kudengar suara wanita tercintaku itu mulai bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Juga ketika kau sedang belajar menulis dan mencoreti semua tempat yang bisa kautulisi.”Aku tersenyum kecil,membayangkan lemari,dinding,meja,kursi,bahkan baju kesayangan ibuku yang penuh dengan hasil karyaku. Dan ibu tak pernah menghapusnya sampai sekarang!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Kau tahu,sayang……ibu tak pernah sanggup menghapus bekas-bekas masa kecilmu itu…karena ibu ingin ia jadi pengingat kala ibu merindukanmu.Seperti saat ini….”&lt;/div&gt;Tangis ibuku akhirnya pecah juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jarak yang memisahkan kami terlalu jauh sehingga aku tak bisa sering-sering mengunjunginya.Dan ibu merasakan kehadiranku melalui jejak-jejak masa kecilku itu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tanpa mendengar kata-kata selanjutnya,aku sudah bisa menangkap maksud ibuku.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;Kuedarkan tatapanku ke sekeliling ruangan&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;.Hai….tiba-tiba saja rumah yang tadi kulihat begitu berantakan terlihat lebih indah sekarang. Dengan beragam masterpiece yang dibuat oleh anak-anakku.Beragam coretan di dinding,buku-buku yang berserakan,bekas-bekas tapak tangan dan mulut kecil di kaca jendela.Tempelan-tempelan origami hasil karya anak-anakku.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku menarik sudut mulutku ke atas dan kemudian tertawa lebar.Karena aku punya banyak pengingat saat merindukan anak-anakku kelak!!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-8716420033665058154?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/8716420033665058154/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/08/masterpiece.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/8716420033665058154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/8716420033665058154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/08/masterpiece.html' title='Masterpiece'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-1853928690748170025</id><published>2009-07-31T12:45:00.000-07:00</published><updated>2009-07-31T12:49:32.507-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info parenting'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pornografi'/><title type='text'>Pengaruh Pornografi Pada Otak Anak</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;“Aduh, Mbak !!! Teman anak saya yang besar (kelas 6 SD, perempuan-pen) bawa video porno di HPnya.” cerita seorang teman suatu hari.Saya terkejut sekaligus miris. Pornografi sudah jadi konsumsi anak SD ! Bahkan kelas 1 SD !“Jadi bagaimana, Mbak?” tanya saya.“Yah mau bagaimana lagi? Sudah telanjur” Jawab teman saya pasrah. Gubrak!!! Masya Allah!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pornografi pada anak usia sekolah dasar sebenarnya bukanlah berita baru. Sebelumnya di tahun 2008 Yayasan Kita dan Buah Hati sudah melakukan survey pada 1.625 siswa kelas 4-6 sekolah dasar wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi. Pada survey ini terungkap bahwa 66 % dari mereka telah menyaksikan materi pornografi lewat berbagai media. Sebanyak 24 % di antaranya lewat komik, 18 % melalui games, 16 % lewat situs porno, 14 % melalui film, dan sisanya melalui VCD dan DVD, telepon seluler, majalah dan koran.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mereka umumnya menyaksikan materi pornografi itu karena iseng (27%), terbawa teman (10%), takut dibilang kuper (4%). Ternyata anak-anak itu melihat materi pornografi di rumah atau kamar pribadi (36%), rumah teman (12%), warung internet (18%), rental (3%).Hasil survey ini sanggup membuat saya merinding.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya seberapa besar pengaruh pornografi terhadap otak anak?&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hari Jum’at lalu (10/04) di TVRI dalam acara Untukmu Ibu Indonesia, Dr Adre Mayza Sp.S(K) dan Ibu Elly Risman menjelaskan bahwa akibat dari pornografi pada otak anak adalah:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;1.  Bagian depan otak yang mengatur gerak dan perilaku akan menyusut. Bisa berpengaruh pada  berkurangnya rasa tanggung jawab. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;2. Neuron transmitter, yakni bagian otak yang mengontrol pada kesenangan, bekerja berlebihan. Pada saat dewasa mereka akan berperilaku hanya berdasarkan kesenangan saja, sehingga tidak dapat mengontrol dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;3. Ketidakmampuan mengontrol batasan perilaku, akibatnya kecendrungan untuk mudah depresi lebih besar. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;4. Saat dewasa anak-anak yang biasa menyaksikan pornografi hanya memandang wanita sebagai objek seksual saja. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;5. Ada kemungkinan melakukan kekerasan seksual dan phedophilia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya Bu Elly Risman mengatakan bahwa jika narkoba menyebabkan 3 syaraf otak rusak, maka pornografi menyebabkan 5 syaraf otak yang rusak!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Source : &lt;a href="http://www.sheilabanun.blogspot.com/"&gt;sheilabanun&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-1853928690748170025?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/1853928690748170025/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/pengaruh-pornografi-pada-otak-anak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/1853928690748170025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/1853928690748170025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/pengaruh-pornografi-pada-otak-anak.html' title='Pengaruh Pornografi Pada Otak Anak'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-6712819096017201331</id><published>2009-07-31T12:14:00.000-07:00</published><updated>2009-07-31T12:21:35.307-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komunikasi pd anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info parenting'/><title type='text'>STOP! Komunikasi Dengan Kekerasan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Anak menangkap pesan kekerasan melalui komunikasi yang dibangun lingkungannya setiap hari. Perlahan tapi pasti, komunikasi dengan kekerasan akan merusak fitrah anak yang penuh dengan kelembutan. Mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang sulit diatur, pembangkang, dan keras hati.&lt;br /&gt; &lt;a id="more-386"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Kamu ini kok sama sekali tidak pernah bersyukur sih!" Ibu Dewi memelototi Firman (5 tahun) yang tidak mau membuka mulutnya untuk memakan sayur sop. "Ayo makan sop ini, kalau tidak Mama pukul!" Namun, Firman tak juga menurut. Ia malah lari ke kamar dan membanting pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perekat keluarga&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ery Soekresno, Psi, Pengelola Sekolah Kebon Maen, Cilangkap-Cimanggis-Depok, komunikasi adalah hal yang sangat penting dalam keluarga. Menurutnya, komunikasi berfungsi sebagai perekat keluarga. Ery mencontohkan, berdasarkan hasil penelitian pada tahun 1996, faktor penyebab tingginya angka perceraian di Amerika ternyata bukan disebabkan kehadiran orang ketiga. Karena di mata masyarakat Amerika umumnya, perzinahan sudah dianggap halal. Namun, penyebab yang tertinggi adalah faktor terhambatnya komunikasi suami istri. Komunikasi yang tidak lancar antara suami istri akan berdampak pula terhadap kelancaran komunikasi pada anak.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Komunikasi antara orang tua dan anak adalah sebuah proses pengiriman pesan dimana pesan yang diterima sama dengan pesan yang dikirim. Komunikasi dengan kekerasan, menurut Ery adalah, penyampaian pesan yang dilakukan secara negatif. Termasuk dalam komunikasi secara negatif adalah saat orangtua menggunakan bahasa yang tidak indah. "Bahasa yang jelek tidak menyenangkan anak, akibatnya anak tidak mau mendengarkan orangtua," tutur psikolog yang aktif menyerukan kampanye komunikasi tanpa kekerasan ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi dengan kekerasan tidak melulu berarti disampaikan dengan bahasa-bahasa yang tidak baik, seperti penggunaan kata yang berasal dari ‘kebun binatang’ atau kata hinaan lainnya. Penggunaan kata seperti yang diungkapkan Ibu Dewi, "Kamu ini kok sama sekali tidak pernah bersyukur sih!" juga bermasalah. Coba ditimbang secara jujur, betulkah ungkapan itu? Selain menggunakan kata ‘samasekali’, ditambah pula kata ‘tidakpernah’. Artinya: tidak pernah sama sekali! Padahal, sang anak toh hanya kadang-kadang saja berbuat seperti itu. Bahasa bernuansa ‘kekerasan’ ini juga diperkuat dengan bahasa non verbalnya, yaitu nada bicara yang tinggi, mata melotot, dengan tangan yang sudah terangkat untuk memukul.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Verbal dan non verbal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua bentuk komunikasi, yaitu verbal (bahasa) dan non-verbal (bahasa tubuh). Artinya, saat orangtua berbicara kepada anak, bukan hanya kata-katanya saja yang ditangkap oleh anak. Menurut Ery, di bawah usia satu tahun, mungkin mereka hanya menangkap 10% kata yang diucapkan ibu. Sisanya lebih kepada bahasa non-verbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ery mencontohkan, saat bayi berbicara dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas. Misalnya bah, bah, bah. Kebetulan ibu ini membahasakan bapaknya itu abah. Ibu memberikan respon sambil menunjuk pada suaminya atau menunjukkan fotonya, "Oh Abah ya, Abah. Ya, itu Abah."Artinya, anak itu memahami sebuah kata itu kan dari bahasa non verbal karena setiap kali dia ngomong bah, bah, bah kok yang ditunjuk orang itu. Akhirnya kata itu memiliki arti bagi dirinya. Meskipun saat itu anak belum mengerti betul tentang siapa sebenarnya Abah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menurut Ery, orangtua perlu terus menyadari bahwa bahasa non-verbal yang dipakainya sangat penting bagi anak. Meski bahasa yang digunakan orangtua positif, namun bila komunikasi non-verbalnya negatif, maka pesan yang diterima anak adalah seperti yang ia lihat. Misalnya, seorang ibu mengatakan pada anaknya, "Ibu tuh sebenarnya sayang sama kamu,” tapi intonasinya yang tinggi atau dilakukan sambil mencubit anak. Tak salah bila anak akan berpikir, "Oh sayang itu artinya sama dengan mencubit ya." &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Akhirnya, saat bertemu dengan sepupu, adik atau temannya atau dia dengan adiknya dia menyampaikan sayangnya dengan mencubit. "Padahal seharusnya menyampaikan rasa sayang harus diiringi dengan pelukan dan suara yang lembut agar anak mampu menangkap pesan yang disampaikan dengan benar," jelas istri dari Irwan Rinaldi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dampak komunikasi dengan kekerasan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dampak dari komunikasi dengan kekerasan terhadap anak-anak adalah hilangnya fitrah kelembutan. Berdasarkan pengalamannya, anak yang terbiasa dengan kekerasan, sejak kecil sudah terlihat. Karena terbiasa dengan kekerasan, ia pun akan membutuhkannya setiap kali akan melakukan sesuatu. Hal itu terjadi karena fitrah kelembutannya sudah melemah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Komunikasi dengan kekerasan juga akan membuat anak tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan pendapatnya. Ery mencontohkan adegan yang terjadi pada sebuah keluarga saat mereka menanti datangnya waktu maghrib untuk berbuka puasa. Di hari pertama, ibu menyediakan menu lengkap, ada kue, es kelapa, gorengan, disamping menu utama hari itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; Di hari kedua, sang ibu tidak menyediakan gorengan dalam deretan menu berbuka. Namun, ia menggantikannya dengan makanan kesukaan anak-anak yang lain, yaitu puding karamel. Anaknya yang berusia 5 tahun berkomentar, "Mi, kok hari ini nggak ada gorengan?" Sang Ibu, yang kebetulan masih sibuk dengan urusan dapur langsung bereaksi dengan melakukan interpretasi dan evaluasi. " Kamu ini kok nggak bersyukur banget sih?" Anak yang semula hanya sekedar berkomentar tentu menjadi takut untuk menyampaikan komentar pada kesepatan lain. Apalagi bila hal seperti itu terjadi berulang kali.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lebih berbahaya lagi, menurut Ery, bila anak menjadi terbiasa melakukan pekerjaan secara sembunyi-sembunyi. Bila orangtua tidak segera mengubah cara berkomunikasinya, maka dampak itu akan terpelihara sampai anak tumbuh dewasa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dampak lainnya adalah menjadi terbiasa berpikir negatif. Artinya, ketika ada orang bermaksud baik terhadap anak, dia tidak menganggap itu sebagai sesuatu yang baik. Sebaliknya, anak akan berpikir, "Apa sih maksudnya kamu berbuat baik sama aku?" Menurut Ery, hal itu terjadi karena orangtua terbiasa berpikir negatif terhadap dirinya yang terwujud dengan komunikasi yang negatif. Akhirnya, yang terbangun dalam benak anak adalah apa pun yang dilakukannya tidak ada yang benar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Misalnya, saat seorang anak sedang duduk-duduk di dalam rumah sementara ibunya sedang menyapu lantai. Sang Ibu mengatakan "Aduh Kakak, tidur-tiduran aja, enggak mau membantu ibu nyapu," Sebaliknya, saat sang anak sedang menyapu lantai, Ibu berkomentar, "Wah tumben nih anak ibu nyapu." Komentar seperti itu akan membuat anak menjadi tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan karena menjadi serba salah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Komunikasi yang baik saat ibu sedang menyapu sementara anaknya sedang tidur-tiduran adalah "Ibu seneng deh kalau kakak mau membantu Ibu nyapu. Kalau kakak membantu Ibu pekerjaan rumah ibu cepat selesai. Habis itu kita bisa bermain dan cerita-cerita". Pesan akan sampai tanpa perlu menyakiti perasaan anak. Anak pun menjadi lebih mudah diajak bekerjasama. Saat anak sedang menyapu, seharusnya Ibu menyampaikan penghargaannya dengan pesan yang positif, tanpa perlu menyindir anak.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menurut Ery, faktor pembentuk utama dan pertama adalah keluarga. Bila rumah sudah berfungsi sebagai tempat yang memberikan kesejukan untuk anak-anak, maka ke mana pun anak pergi, rumah tetap menjadi referensi utama bagi anak. Kesejukan itulah yang perlu dibangun oleh orangtua melalui komunikasi tanpa kekerasan. Saat anak memiliki masalah, mereka tahu kemana harus berbicara. Saat yang paling berpengaruh bagi anak adalah sebelum anak mencapai usia balighnya karena pada masa itu anak masih mudah untuk berubah. Namun, perubahan yang paling utama dan pertama harus berawal dari para orangtua. Wallahu’alam&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Source : &lt;a href="http://beranda.blogsome.com/"&gt;beranda&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-6712819096017201331?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/6712819096017201331/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/stop-komunikasi-dengan-kekerasan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/6712819096017201331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/6712819096017201331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/stop-komunikasi-dengan-kekerasan.html' title='STOP! Komunikasi Dengan Kekerasan'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-1527393332445371474</id><published>2009-07-31T12:00:00.001-07:00</published><updated>2009-07-31T12:08:14.947-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komunikasi pd anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info parenting'/><title type='text'>Gaya Komunikasi Menyimpang (GKM)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Dalam sebuah seminar parenting yang diselenggarakan kharisma di Berlin pada tanggal 9 Juni 2007 , seorang psikolog ternama ibu Elly Risman, Psi., menyampaikan sebuah makalah yang sangat bermanfaat bagi setiap orang tua dan yang akan menjadi orang tua. Silahkan simak penuturan beliau dalam makalahnya tsb.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada 12 gaya komuniksi yang populer dilakukan orang tua. Walau disebut populer tapi belum tentu gaya komunikasi tersebut benar. Istilahnya yaitu GKM alias gaya komunikasi menyimpang. Contoh kasus, seorang ibu yang melarang anaknya bermain di ruang tamu karena baru membeli guci yang harganya “selangit”.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Coba ya, Kakak sama Adik jangan main di situ. Tahu enggak, guci mama itu baru. Harganya mahal banget. Nanti kalau kesenggol kan bisa pecah. Sana, mainnnya di tempat lain.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun, namanya anak-anak, maklum saja kalau mereka tetap bermain di situ. Sampai tiba-tiba si Kakak terdengar menangis keras. Si ibu pun berlari tergopoh-gopoh. Ia menghela napas lega kala gucinya masih aman-aman saja di tempatnya. Namun, ia terperanjat saat kaki anaknya terluka karena terjatuh. Lalu mulailah sang ibu mengeluarkan 12 GKM tadi, yaitu:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Tuh, kan tadi Mama bilang juga apa. Enggak denger, sih!” (&lt;strong&gt;Menyalahkan&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;“Sudah, diam, jangan nangis!” (&lt;strong&gt;Memerintah&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;“Katanya jagoan, tapi kok nangis?” (&lt;strong&gt;Mengeritik&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;“Benar, kan. Ini akibat kamu eggak mendengarkan mama. Lain kali kalo Mama bilang, nurut ya.” (&lt;strong&gt;Menasehati&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;“Nakal, sih, enggak bisa diam.” (&lt;strong&gt;Melabel/mencap&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;“Coba sini Mama lihat lukanya. Ah, kayak begini aja masak sakit.” (&lt;strong&gt;Meremehkan&lt;/strong&gt;).&lt;br /&gt;“Adik aja waktu lukanya menganga enggak sampai menangis begitu.” (&lt;strong&gt;Membandingkan&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;“Ya, sudah, besok pasti sembuh.” (&lt;strong&gt;Membohongi&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;“Sudahlah, jangan dirasa-rasai. Nonton TV atau baca buku sajalah sana.” (&lt;strong&gt;Menghibur&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;“Awas ya, kalau lain kali Mama bilang ngga nurut.” (&lt;strong&gt;Mengancam&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;“Coba pikir, kenapa sampai terjatuh? Kan kamu enggak dengerin Mama? Kamu dorong-dorongan sama Adik?” (&lt;strong&gt;Menganalisa&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;“Lain kali main dorong-dorongan lagi saja. Kan enak…!” (&lt;strong&gt;Menyindir&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAMPAK GKM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Padahal jika 12 GKM tadi terus-menerus dilakukan, tak sedikit dampak yang diakibatkan. Diantaranya kepercayaan diri anak bisa hilang, anak merasa tidak punya harga diri, perasaan anak selalu tertekan, emosinya tak tersalurkan, serta komunikasi antara anak dan orang tua sesungguhnya takpernah berjalan. Jelas saja akhirnya anak akhirnya frustasi terhadap orang tua. Bahkan beberapa kasus salah komunikasi seperti itu, bisa berakibat fatal karena anak memutuskan menghabisi dirinya sendiri, seperti yang kini banyak terjadi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;12 GKM tak hanya berampak pada sisi kejiwaan anak, tapi juga akan mempengaruhi perkembangan otaknya. Menurutnya, komunikasi-komunikasi menyimpang tadi ang berlangsung terus- akan mengganggu sirkuit otak anak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pasalnya, anak yang selalu dalam keadaan terancam tidak akan pernah bisa berpikir panjang apalagi belajar memecahkan masalah yang dihadapinya. Ini berkaitan dengan otak bagian korteks yang merupakan pusat logika. Berarti di korteks inilah pusat kemampuan berpikir, kemampuan menganalisa, kemampuan memecahkan masalah hingga kemampuan mengambil keputusan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun, korteks hanya bisa “dijalankan” kalau emosi anak dalam keadaan tenang. Bila tidak, atau saat anak dalam keadaan tertekan karena kerap dimarahi, tidak disayang, merasa tidak dibutuhkan, maka segala stimulus yang masuk hanya sampai di batang otak saja. Kalau sudah begitu, cara berpiki anak tak berbeda dengan cara berpikir binatang yang hanya menggunakan instink. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ya, seperti dikatakan tadi, anak jadi tidak bisa berpikir panjang. Tak heran kalau ada anak yang tidak dibelikan duren oleh orang tuanya lantas bunuh diri karena dia tidak bisa berpikir panjang.&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Oleh arena itu, dalam berkomunikasi dengan anak, orang tua harus memperhatikan pula cara sirkuit otak bekerja. apa pun kondisi orang tua, apakah sedang capek, letih, lesu, sakit, tetaplah berusaha menjaga komunikasi yang tidak menyimpang dengan anak.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan contoh kasus tadi, saat orang tua tahu anaknya terjatuh padahal sudah dilarang bermain di tempat itu, yang pertama mesti dilakukan adalah kendalikan diri jangan langsung bereaksi. Ini juga berlaku pada semua kasus.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika orang tua bisa mengendalikan diri berarti dia juga bisa mengendalikan emosinya sehingga otaknya memiliki waktu untuk berpikir, apakah perkataan yang dikeluarkan akan menyakitkan anak atau tidak. Dengan emosi yang terkendali sangat mungkin orang tua akan berkata, “Jatuh ya sayang. Sini Mama obatin. Lain kali enggak usah main dorong-dorongan lagi ya!”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Source : &lt;a href="http://www.family.al-habib.info/"&gt;al-habib&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-1527393332445371474?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/1527393332445371474/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/gaya-komunikasi-menyimpang-gkm.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/1527393332445371474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/1527393332445371474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/gaya-komunikasi-menyimpang-gkm.html' title='Gaya Komunikasi Menyimpang (GKM)'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-732018088141686338</id><published>2009-07-31T11:37:00.000-07:00</published><updated>2009-07-31T11:46:06.930-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info parenting'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengaruh TV'/><title type='text'>Selamatkan Generasi Kita</title><content type='html'>Masalah kenakalan remaja merupakan masalah yang kompleks terjadi di berbagai kota di Indonesia. Sejalan dengan arus modernisasi dan teknologi yang semakin berkembang, maka arus hubungan antar kota-kota besar dan daerah semakin dekat, lancar, cepat dan mudah, seolah tiada batas. Dunia teknologi yang semakin canggih, disamping memudahkan dalam mengetahui berbagai informasi di berbagai media, disisi lain juga membawa suatu dampak negatif yang cukup meluas diberbagai lapisan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengaruh Televisi yang Tidak Mendidik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatnya kenakalan remaja saat ini merupakan salah satu dampak dari media informasi yaitu program siaran televisi yang dinilai kurang memberikan nilai edukatif bagi remaja ketimbang nilai amoralnya. Hal ini disebabkan karena industri perfilman kurang memberikan pesan-pesan moral terhadap siaran yang ditampilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat diperhatikan dalam berbagai program televisi seperti pada sinetron-sinetron maupun reality show yang banyak menayangkan tentang pergaulan bebas remaja bersifat pornografis, kekerasan, hedonisme dan sebagainya untuk selalu ditampilkan dilayar kaca. Oleh karena program tersebut banyak diminati publik, khususnya remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berbagai acara yang menayangkan tentang pergaulan bebas remaja di kota besar yang sarat akan dunia gemerlap (dugem). Seperti tayangan remaja dalam mengonsumsi obat-obatan terlarang, cara berpakaian yang terlalu minim alias kurang bahan / sexy, kisah percintaan remaja hingga menimbulkan seks bebas, ucapan-ucapan kasar dengan memaki-maki atau menghina dan sebagainya. Inilah yang seringkali menjadi contoh tidak baik yang sering mempengaruhi remaja-remaja yang berada di kota maupun di daerah untuk mengikuti perilaku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tayangan – tayangan tersebut ada remaja yang hanya sekedar menyaksikan, tapi tidak terpengaruh mengikutinya. Dan ada juga remaja yang memang gemar menyaksikan dan terpengaruh untuk mengikuti hal tersebut guna mencari sensasi di lingkungan pergaulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;juga program yang menayangkan adegan kekerasan sehingga remaja yang pola pikirnya masih labil dan emosional cenderung untuk melakukan perilaku yang kasar dan tidak sopan baik kepada teman sendiri, maupun kepada guru bahkan orang tua sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Diantara remaja-remaja, pastinya juga ada yang mengambil sisi positif dari acara yang diberikan. Kenakalan remaja akibat dari program televisi menyimpang dapat terjadi apabila didukung pula oleh lingkungan yang memberikan kesempatan buruk terhadap pergaulan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kondisi Labil Remaja&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ketahui bahwa usia remaja merupakan masa labil pada seseorang. Dimana saat itu timbul rasa ingin menunjukkan diri ”ini aku”. Oleh karena itu sikap meniru pada kalangan remaja merupakan suatu bentuk dari masa pubertas yang dialami oleh keadaan jiwa yang masih labil. Artinya dampak yang timbul antara lain pada kenakalan remaja seperti pencurian, cabul, perkosaan, pemerasan, narkoba kebut-kebutan dijalan atau tauran antar sekolah dalam ajang menunjukkan kejagoannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Faktor Kenakalan Remaja&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan perkembangan zaman saat ini adapun yang menjadi faktor-faktor penyebab kenakalan remaja saat ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Faktor intern: Keinginan meniru terhadap yang mereka saksikan dilakukan hanya sekedar rasa iseng untuk mencari sensasi dalam lingkungan pergaulan dimana mereka bergaul tanpa batas dan norma agar dipandang oleh teman-temannya dan masyarakat sebagai remaja yang gaul dan tidak ketinggalan zaman. Timbulnya minat atau kesenangan remaja yang memang gemar menonton acara televisi tersebut dikarenakan kondisi remaja yang masih dalam tahap pubertas. Sehingga rasa ingin tahu untuk mencontoh berbagai tayangan tersebut yang dinilai kurang memberikan nilai moral bagi perkembangan remaja membuat mereka tertarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Faktor ekstern: Faktor ini dapat disebut sebagai faktor lingkungan yang memberikan contoh atau teladan negatif serta didukung pula oleh lingkungan yang memberikan kesempatan. Hal ini disebabkan karena pengaruh trend media televisi yang telah banyak teradopsi oleh nilai-nilai budaya luar yang kurang dapat mereka seleksi mana yang layak dan yang tidak layak untuk ditiru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Peran Orang Tua Sangat Dominan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Kurangnya perhatian dari orang tua dan lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurangnya perhatian orang tua dan lingkungan yang buruk, bagi para remaja, sehingga remaja mencari perhatian diluar. Mereka cenderung melakukan atau mencari kesenangan di lingkungan pergaulannya. Dengan alasan Ikut-ikutan hingga tak lagi dapat membedakan yang mana baik dan buruk. Rasa takut hilang karena menganggap banyak temannya yang melakukan hal keliru tersebut. Hingga akhirnya ketergantungan dan mereka terus melakukannya berulang kali seperti halnya biasa dan membentuk sebuah budaya yang tak bisa lepas dari hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Keutuhan Keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara keutuhan keluarga dengan tingkat kenakalan remaja sangatlah berpengaruh terhadap perkembangan yang akan berdampak pada kenakalan remaja. Artinya banyak terdapat anak-anak remaja yang nakal datang dari keluarga yang tidak utuh, baik dilihat dari struktur keluarga maupun dalam interaksinya di keluarga. Namun demikian ketidakutuhan sebuah keluarga bukanlah faktor yang dominan karena ada juga mereka yang berasal dari keluarga utuh terjerumus pula pada kenakalan remaja. Begitupun dengan tingkat interaksi keluarga mempengaruhi kenakalan remaja, bagi keluarga yang interaksinya baik maka pengaruhnya baik, begitupun sebaliknya. Jadi ketidak berfungsian keluarga untuk menciptakan keserasian dalam interaksi mempunyai kecenderungan anak remajanya melakukan kenakalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kehidupan Beragama Keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan beragama kelurga juga dijadikan salah satu ukuran untuk melihat keberfungsian sosial keluarga. Sebab dalam konsep keberfungsian juga dilihat dari segi rohani. Sebab keluarga yang menjalankan kewajiban agama secara baik, berarti mereka akan menanamkan nilai-nilai dan norma yang baik. Artinya secara teoritis bagi keluarga yang menjalankan kewajiban agamanya secara baik, maka anak-anaknyapun akan melakukan hal-hal yang baik sesuai dengan norma agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, menciptakan generasi yang unggul, tentunya bukan hal mudah, tetapi merupakan pekerjaan rumah yang mesti kita selesaikan. Generasi muda adalah cerminan dari bangsa kita kedepan. Mari kita jaga generasi muda saat ini………….. Save Our Generation, Now !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source : &lt;a href="http://www.percikaniman.org/"&gt;percikan iman&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-732018088141686338?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/732018088141686338/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/selamatkan-generasi-kita.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/732018088141686338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/732018088141686338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/selamatkan-generasi-kita.html' title='Selamatkan Generasi Kita'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-8271672136239175072</id><published>2009-07-29T10:10:00.000-07:00</published><updated>2009-09-07T09:19:11.869-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak hiperaktif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info parenting'/><title type='text'>Mungkinkah ADHD?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Jika anak-anak sulit menyimak perkataannya, banyak orang tua merasa khawatir anak-anak mereka mengidap &lt;em&gt;attention deficit hyperactivity disorder&lt;/em&gt;(ADHD). Kenyataannya, ADHD sulit dideteksi,bahkan sering tidak terdiagnosis pada anak usia 4 - 5 tahun. Karena gejala ADHD sperti kurang perhatian,hiperaktif,impulsif(berlebihan ketika berbicara,mengganggu,atau memukul) adalah perilaku umum anak-anak usia itu kata Dr.Stwart Mostofsky.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;"ADHD biasanya dideteksi belakangan,ketika anak sudah menghadapi berbagai tuntutan di sekolah."&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Meskipun begitu,konsultasikan anak ke dokter jika si kecil sulit berkonsentrasi,terlalu aktif,atauu lebih impulsif dibandingkan anak-anak seusianya,atau jika perilakunya tampak berlebihan dan mengganggu performa di sekolah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Source : &lt;a href="http://parentsguide.co.id/"&gt;Parents Guide &lt;/a&gt;edisi April 2007 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-8271672136239175072?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/8271672136239175072/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/mungkinkah-adhd.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/8271672136239175072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/8271672136239175072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/mungkinkah-adhd.html' title='Mungkinkah ADHD?'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-213189657881431865</id><published>2009-07-25T09:19:00.000-07:00</published><updated>2009-07-25T09:21:50.735-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info parenting'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pornografi'/><title type='text'>Anak-Anak - Pasar Empuk Pembuat Produk Pornografi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;JAKARTA, KOMPAS.com — Anak-anak di bawah umur 10 tahun belum dapat menggunakan logika berpikir secara maksimal. Apa yang mereka lihat akan langsung dipraktikan tanpa menganalisis benar atau salah. Setelah mereka melakukan tindakan itu dan merasa mendapatkan kenikmatan, mereka akan mengulangi tindakan tersebut lagi dan lagi. Dengan demikian, tak mengherankan jika anak-anak adalah target utama para pembuat dan pemasar tayangan pornografi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Elly Risman, Ketua Yayasan Kita dan Buah Hati, menerangkan, sebelum membuat tayangan pornografi, para ahli berkumpul untuk merancang "strategi". "Ada ahli dari ahli syaraf, psikolog, dan yang pasti ahli-ahli dari pembuat teknologi yang membuat tayangan tersebut menarik. Kemudian, pasar yang dibidik adalah anak laki-laki yang belum baliq," ujarnya setelah pembahasan Uji Materi UU Anti Pornografi, di Kantor KPAI Jakarta, Selasa (5/5).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ia menerangkan, pada anak laki-laki yang belum mengalami masa puber sekitar umur 9 tahun, mereka mempunyai rasa penasaran yang tinggi terhadap tayangan pornografi. "Anak-anak dilarang menonton tayangan itu oleh orangtuanya dengan alasan masih kecil, dan itu membuat rasa penasaran mereka bertambah," kata dia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saat orangtua lengah, ia melanjutkan, anak akan mencuri-curi untuk menonton tayangan pornografi itu. Setelah menonton tayangan tersebut, apa yang dilihat akan tersimpan terus di dalam sistem limbik. "Tak jarang saat menonton, anak mengalami orgasme. Pada saat itu mereka memang merasa berdosa. Namun, karena merasa ada sesuatu yang menyenangkan, mereka akan mengulanginya lagi," ungkapnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Dan setelah mengalami 33-36 kali pengalaman orgasme, seumur hidup anak akan kecanduan pada tayangan pornografi itu," imbuhnya.&lt;br /&gt;Menurutnya, jika pada umur 9 tahun saja anak sudah kecanduan dengan tayangan pornografi, pada usia 14 tahun anak itu berpotensi melakukan hal-hal yang lebih berbahaya lagi karena setiap hari kadar adiksi dan tingkah laku anak terus berkembang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Untuk mencegah anak-anak kecanduan pada tayangan pornografi, orangtua juga harus mengawasi kegiatan anak. Kalau mau memberikan mainan untuk anak, sebaiknya dilihat dulu, kalau tidak mengerti tanya pada pihak lain," kata dia.&lt;br /&gt;"Hilangkan budaya tidak peduli antara anak dan orangtua. Walaupun sibuk, tetap berikan perhatian kepada anak. Selain itu, pemerintah juga harus menegakkan peraturan dengan tegas. Anak-anak harus dilindungi," tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-213189657881431865?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/213189657881431865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/anak-anak-pasar-empuk-pembuat-produk.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/213189657881431865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/213189657881431865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/anak-anak-pasar-empuk-pembuat-produk.html' title='Anak-Anak - Pasar Empuk Pembuat Produk Pornografi'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-284738067816290789</id><published>2009-07-25T09:06:00.000-07:00</published><updated>2009-07-25T09:12:12.393-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info parenting'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengaruh TV'/><title type='text'>Waspadai Pengaruh TV Pada Anak</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Hari Minggu seharian si kecil nongkrongin televisi. Bagus-bagus acaranya. Mulai Doraemon, PMan, hingga Dragonball. Masih juga dilengkapi dengan kehadiran gadis kecil berambut pendek bertas ransel yang populer disebut Dora. Sebegitu menariknyakah kehadiran kotak ajaib yang kini menjadi barang wajib dalam setiap rumah itu? Haruskah kita membiarkan si kecil berada di depannya tanpa ada kita di hadapannya? Artikel berikut ini bisa jadi bahan panduan Anda. Selamat membaca!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sayangnya banyak tayangan TV yang sama sekali tak baik bagi perkembangan anak.&lt;br /&gt;Anda mau bukti konkret? Teruslah membaca artikel ini ya. Sebuah penelitian regional yang melibatkan anak-anak Kanada, Australia, Amerika dan Indonesia dalam hal menonton televisi mendapatkan hasil menarik. Mau tahu? Anak Indonesia adalah penonton TV terlama, disusul Amerika, Australia dan paling rendah Kanada.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tak lepas dari perubahan gaya hidup masa kini yang dianut sebagain besar orang tua di Indonesia: Sibuk bekerja, pengasuhan anak diserahkan kepada pengasuh serta berbagai faktor lain yang mengiringi.&lt;br /&gt;Menonton televisi tampaknya membawa dampak negatif pada perkembangan anak dibanding dampak positif. Dari televisi anak-anak dapat menyaksikan semua tayangan, bahkan termasuk yang belum layak mereka tonton, mulai kekerasan dan kehidupan seks.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dr. Endang Darmoutomo, MS, SpGK, dalam seminar yang diselenggarakan 'Dancow Parenting Center' beberapa waktu lalu mengungkapkan kecenderungan menonton tv terlalu lama akan meningkatkan angka obesitas pada anak-anak. Satu jam nonton tv misalnya, akan meningkatkan obesitas sebesar 2%. Pasalnya selama menonton TV, lanjut Dr. Endang, anak lebih banyak ngemil dan tak melakukan aktivitas olah tubuh.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama berlaku bagi anak yang lebih suka bermain games atau komputer dibanding anak yang bermain-main di luar bersama teman-teman. "Saat nonton tv atau main game, terjadi ketidakseimbangan energi yang masuk dan yang digunakan," ujar Dr. Endang. Saat anak nonton tv, kalori yang dibakar hanya 36 kkal/jam, padahal apa yang dia konsumsi jauh melebihi kalori yang digunakan. "Anak perlu aktif untuk bertumbuh," tandas Dr. Endang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Obesitas tak hanya berdampak buruk bagi kesehatan karena mengundang berbagai penyakit seperti hipertensi, diabetes, gangguan sendi, penyakit jantung koroner hingga stroke saat anak dewasa, namun juga dapat mengganggu psikologis anak. Ingat, obesitas akan terbawa saat anak dewasa jika tak ditangani secara baik. Mungkin ia akan merasa malu, rendah diri, bahkan merasa tak berharga karena memiliki tubuh 'berbeda' dibanding teman-teman di lingkungannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apa lagi dampak negatif menonton televisi pada anak selain obesitas? Ternyata menonton tv terkait erat dengan kecerdasan. Menurut Dr. Hardiono D. Pusponegoro, SpA (K) mengutip hasil penelitian Hancox RJ. Association of Television Viewing During Childhood with Poor Educational Achievement.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Arch Pediatr Adolesc Med 2005, bahwa menonton tv saat masa anak dan remaja berdampak jangka panjang terhadap kegagalan akademis umur 26 tahun.&lt;br /&gt;Sedangkan penelitian lain mengenai pengaruh tv terhadap IQ anak mendapati hasil bahwa anak di bawah 3 tahun yang rajin menonton televisi setiap jamnya ternyata hasil uji membaca turun, uji membaca komprehensif turun, juga memori. Yang positif hanyalah kemampuan mengenal dengan membaca naik. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari situ disimpulkan bahwa menonton tv pada anak di bawah 3 tahun hanya membawa lebih banyak dampak buruk dibanding efek baiknya.Anak yang sering menonton tv juga mengalami masalah pada pola tidurnya, seperti terlambat tidur, kurang tidur bahkan tak bisa tidur, cemas tanpa sebab, terbangun malam dan mengantuk pada siang hari.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dr Hardiono menjelaskan, otak berfungsi merencanakan, mengorganisasi dan mengurutkan perilaku untuk kontrol diri sendiri, konsentrasi atau atensi dan menentukan baik atau tidak. "Pusat di otak yang mengatur hal ini adalah korteks prefrontal yang berkembang selama masa anak dan remaja," papar Dr. Hardiono. Televisi dan game video yang mindless (tak membutuhkan otak untuk berpikir) akan menghambat perkembangan bagian otak ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Dr. Hardiono memaparkan, hanya dari menonton televisi saja otak kehilangan kesempatan mendapat stimulasi dari kesempatan berpartisipasi aktif dalam hubungan sosial dengan orang lain, bermain kreatif dan memecahkan masalah. Selain itu tv bersifat satu arah, sehingga anak kehilangan kesempatan mengekplorasi dunia tiga dimensi serta kehilangan peluang tahapan perkembangan yang baik.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Nah masih tega membiarkan anak tercinta kita sendirian di depan televisi? Tentu lebih bijak rasanya kalau kita menemaninya sembari memberikan pengertian mengenai acara yang berlangsung. Siapa sih yang ingin anaknya memiliki pengetahuan luas? Tetapi siapa juga yang ingin anaknya terjerembab dalam dunia lain, mimpi layaknya suguhan televisi? &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Oke, selamat menjadi orang tua yang bisa menjelma menjadi sahabat anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diadaptasi dari&lt;a href="http://www.hanyawanita.com/"&gt; hanya wanita&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-284738067816290789?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/284738067816290789/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/waspadai-pengaruh-tv-pada-anak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/284738067816290789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/284738067816290789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/waspadai-pengaruh-tv-pada-anak.html' title='Waspadai Pengaruh TV Pada Anak'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-7929515412305037916</id><published>2009-07-24T09:29:00.000-07:00</published><updated>2009-07-25T09:15:17.075-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info parenting'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pornografi'/><title type='text'>Tragis, Bocah 7 Tahun Ketagihan Tontonan Porno</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;detikcom - Jakarta, Jika Anda menonton tayangan "miring", waspadaianak-anak Anda. Jangan sampai dia bernasib apes seperti seorang bocahTaiwan berumur 7 tahun yang ketagihan tontonan porno karena ulah sembrono pengasuhnya. Bocah malang ini saat ini tengah mendapat bantuan ahli untuk menanggulangi adiksinya pada tontonan porno tersebut.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa seorang bocah menderita "penyakit" itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ceritanya, dia mulai menonton tayangan haram itu saat dia tengah belajar berjalan tertatih-tatih. Itu terjadi ketika kakek yang menjaganya, keranjingan menonton VCD dalam kategori X itu.Sedang ibu si bocah yang hanya diidentifikasikan sebagai Nyonya Liu,menyatakan bahwa bapaknya berpikir bahwa cucunya itu tidak mengerti apayang sedang ditontonnya, demikian lapor United Daily News.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; Namun,perkiraan itu keliru besar.Ketika sang anak yang baru belajar berjalan itu belajar bagaimanamenyetel televisi, dia lebih suka mencari tontonan yang mengandung unsurpornografi ketimbang film-film kartun yang lazimnya disukai anak-anakseusianya.Tragisnya, ketika umur si bocah mencapai 3 tahun, ibunya memergoki bocahitu sedang memanjakan penisnya ketika sebuah film porno ditayangkan ditelevisi. Buru-buru Ny.Liu pun pindah dari rumah ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; Selama inidia memang tinggal di situ karena suaminya yang berprofesi sebagai tentarajarang pulang ke rumah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ny.Liu lantas memonitor perilaku anaknya dan memperhatikan bahwa anaknyasuka dipeluk di antara payudara wanita dan akan meraba payudara parawanita dengan tidak malu-malu.Ketika dia masuk TK pun, bocah itu suka mengangkat rok guru-guru merekadan menggambar wanita telanjang ketimbang tokoh-tokoh kartun. Dia jugamengintip rumah tetangga yang dihuni seorang wanita yang punya kebiasaantidur telanjang tanpa menutup jendela. Bocah itu juga mencuri pakaiandalam tetangga itu dan hal itu terus berlanjut meski ibunya seringmengomelidan memukulnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ny.Liu akhirnya menyadari bahwa anaknya membutuhkan bantuan ahli setelahanaknya itu mulai merabanya ketika dia sedang terlelap. Dokter-dokterdi RS psikiatrik di Kaohsiung mengatakan pada si ibu bahwa perilaku anaknyaitu adalah hasil dari eksposure yang cukup panjang dari film-filmpornografi.Para dokter mengatakan, para orang dewasa keliru bila mereka berpikiranak-anak yang masih muda tidak terpengaruh oleh materi semacam itu.Jadi, waspadai tontonan anak-anak Anda! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-7929515412305037916?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/7929515412305037916/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/tragis-bocah-7-tahun-ketagihan-tontonan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/7929515412305037916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/7929515412305037916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/tragis-bocah-7-tahun-ketagihan-tontonan.html' title='Tragis, Bocah 7 Tahun Ketagihan Tontonan Porno'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-4192162564714049672</id><published>2009-07-24T09:24:00.000-07:00</published><updated>2009-07-25T09:12:38.893-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kekerasan fisik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info parenting'/><title type='text'>Hindari Kekerasan Fisik Pada Anak</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Tema mengenai reward and punishment untuk anak sudah kerap dibicarakan, melalui berbagai media massa maupun lewat seminar dan diskusi. Namun, dalam kenyataan masih banyak orangtua yang menerapkan kekerasan fisik kepada anak-anaknya, dengan berbagai alasan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagi psikolog pendidikan dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Lucia RM Royanto, mendidik anak itu pada dasarnya adalah membuat mental anak sehat. Jadi, perasaan anak harus dijaga sebaik-baiknya. Anak rewel, nakal, ngambek, tidak menurut adalah hal yang biasa. Orangtua sebaiknya tidak memberikan hukuman dengan kekerasan fisik (corporal punishment) sama sekali. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Lucia, hukuman fisik bisa berdampak serius. Salah satunya adalah membuat anak imun. "Awalnya, diceples sudah mempan. Lama-lama dipukuli pun tidak mempan lagi. Anak makin beradaptasi dengan rasa sakit, dan ini bisa menimbulkan agresivitas," katanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dampak lain, kekerasan pada anak mengakibatkan efek modeling atau meniru. Anak yang kerap dipukuli orangtua biasanya akan memukuli teman-temannya. Jika ia tidak belajar dan bersikap terbuka saat dewasa, perlakuan ini pun bisa ditularkan kepada anaknya. Ia akan memukuli anaknya seperti dia dipukuli orangtuanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kekerasan juga traumatis dan akan terbawa sampai anak menjadi dewasa. Memang, tidak semua anak demikian, tergantung bagaimana pula lingkungan membentuknya. Bagi orangtua yang mau belajar dan bersikap terbuka, kekerasan yang pernah diterimanya sewaktu kecil tidak akan ditularkan kepada anaknya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Secara pribadi, Lucia tidak mengharamkan pukulan sama sekali. "Hanya ada satu alasan mengapa anak harus kita pukul, yaitu ketika pengaruh perilaku anak itu membahayakan dia dan orang lain. Misalnya menyeberang jalan seenak perut. Boleh dipukul di paha agak keras, supaya tahu kalau itu tidak boleh," paparnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun, untuk perilaku seperti tidak akur dengan adik, makan tidak baik dan berceceran, hal itu justru bisa menjadi ajang bagi orangtua untuk berdiskusi dengan anak. "Resolusi konflik itu dengan diskusi. Tunjukan jika orangtua itu marah bukan pada orangnya tetapi pada perilakunya," tutur Lucia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Masa anak-anak adalah masa bermain, jadi jangan racuni mental anak dengan kekerasan, baik kekerasan fisik maupun psikis. "Sewaktu kecil tidak boleh dikerasi, apalagi kalau sudah besar dan bisa menimbang-nimbang sendiri," katanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa tips buat orangtua ketika marah kepada anak:&lt;br /&gt;- Minta orang lain (suami kalau istri yang marah/istri kalau suami yang marah) untuk menasehati anak&lt;br /&gt;- Diam dan menghitung angka paling tidak satu sampai sepuluh.&lt;br /&gt;- Minum air putih banyak-banyak.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Kompas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-4192162564714049672?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/4192162564714049672/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/hindari-kekerasan-fisik-pada-anak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/4192162564714049672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/4192162564714049672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/hindari-kekerasan-fisik-pada-anak.html' title='Hindari Kekerasan Fisik Pada Anak'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-1539894563017439873</id><published>2009-07-24T08:10:00.001-07:00</published><updated>2009-08-06T11:52:20.659-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hobiku'/><title type='text'>Taman Bacaanku</title><content type='html'>Akhirnya......Tercapai juga cita-cita kecilku (coz cita-cita besarku:masuk surga!) bikin taman bacaan di rumah.Walau baru punya buku 500-an biji.Semoga bisa menjadi penambah wawasan buat aku,keluargaku,dan masyarakat di sekitarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi bukuku a.l tentang psikologi anak,kesehatan,wirausaha,pendidikan,keuangan,sastra,dan agama Islam tentu saja. Buat teman-teman yang punya info tentang pengelolaan taman bacaan,boleh dong bagi-bagi ilmunya.....!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih menggembirakanku,anak-anakku sekarang terbiasa pegang buku.Mo berangkat sekolah baca buku,pulangnya ambil buku lagi,eh...mau tidur (lag-lagi) minta dibacain cerita dari buku.So,aku nggak perlu maksa-maksa mereka belajar lagi.Semoga kelak mereka semua jadi 'manusia pembelajar' just like their mommy he...he....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enak lho jadi manusia pembelajar tuh....Dunia kayaknya 'asyik' banget buat dibaca.Lagi suntuk baca buku,marah sama suami (ups sorry...abi, just sometimes kok!) baca buku pula,anak-anak rewel dibawa santai aja sambil baca buku.Pokoknya, I got everything from the book deh!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-1539894563017439873?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/1539894563017439873/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/taman-bacaanku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/1539894563017439873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/1539894563017439873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/taman-bacaanku.html' title='Taman Bacaanku'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-8164650914785317807</id><published>2009-07-24T08:03:00.000-07:00</published><updated>2009-08-06T11:52:39.985-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatanku'/><title type='text'>Career Woman Blues</title><content type='html'>Lagi-lagi rasa itu datang lagi.Menyergap rutinitas hari-hariku dan meninggalkan goresan luka.Ups,berapa jam lagi waktu yang akan 'kucuri' dari anak-anakku?Pertanyaan yang sama dan terus berulang-ulang dari hari ke hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irinya aku melihat ibu-ibu yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menimang,memeluk,dan mencium buah hatinya.Sesuka mereka.Tanpa terikat waktu kerja yang membelenggu.Tanpa terbebani tugas-tugas kantor yang selalu menumpuk.Tak jua harus terburu-buru menyambut pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu-ibu yang dengan bangga menceritakan kata pertama sang buah hati,memandang dengan takjub saat pertama kali si kecil mulai bisa berdiri,atau ketika kecupan-kecupan kecil membalas segala jerihnya.Sementara aku hanya bisa mendengarnya dari si mbak pengasuh anak-anakku.Bahkan anakku begitu kebingungan ketika tak menemukan pengasuhnya suatu hari,hal yang tak dilakukannya bila kutinggal pergi bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakah kuhentikan laku 'si pencuri waktu' anak-anakku?Dengan konsekuensi aku harus mengetatkan ikat pinggang semakin kencang karena tiba-tiba saja semua harga kini membubung tinggi.Dan mengecewakan kedua orang tuaku yang menyekolahkan aku hingga tinggi agar jadi pegawai negeri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah....mungkin suatu hari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-8164650914785317807?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/8164650914785317807/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/career-woman-blues.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/8164650914785317807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/8164650914785317807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/career-woman-blues.html' title='Career Woman Blues'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-5779168488541709359</id><published>2009-07-24T07:55:00.001-07:00</published><updated>2009-08-06T11:52:56.720-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatanku'/><title type='text'>Rasanya Jadi Bunda....</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ups......ternyata jadi bunda ndak mudah ya.Apalagi ketika satu per satu baby mungilku lahir ke dunia.Capek,jenuh,dongkol,marah,etc....yg pernah ngerasain jadi ibu tau sendiri deh rasanya...Tapi semua rasa itu hilang seketika dengan slip pembayaran yang luar biasa : kecupan tiba-tiba yg kudapat menjelang tidur,ucapan cedal si kecil,"Aku cayang ummi.....emmuahh!",senyum sumringah mereka saat menyambutku pulang dari kantor,atau sekedar pelukan erat yang menghangatkan jiwa.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dulu pernah terbersit olehku,betapa nyamannya 'terlepas' dari rutinitasku mengasuh mereka.Tak perlu repot bikinin minum,nyebokin,nyuapin,melerai mereka ketika berkelahi,membereskan perabotan yang selalu jungkir balik tak karuan,atau tak perlu mendengar teriakan mereka yang memekakkan gendang telingaku.Ingin sebentar saja memanjakan diri dengan tidur-tiduran sambil ndengerin musik yg lembut atau baca-baca novel kesukaanku.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi ternyata aku salah.....Ketika kemarin aku melahirkan si 'princess' Muthia,aku memang bisa terlepas dari kerubutan tiga jagoan kecilku itu.Aku sudah menyiapkan buku-buku parenting untuk menemaniku kala kesepian di RS,buku tulis untuk mencatat,en cemilan ringan untuk ngemil.Eh,bukannya bisa menikmati 'kesendirianku' dengan nyaman,malah tiga wajah usil 'three muskeeters' itu yang bermunculan di benakku.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yeee......ternyata seheboh apapun mereka,aku tak mampu terpisah walau sejenak.Merekalah sumber inspirasiku yang sesungguhnya.Yang menyemangati hari-hariku untuk terus produktif.Thank's my babies.....you're my really inspiration!! &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-5779168488541709359?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/5779168488541709359/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/rasanya-jadi-bunda.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/5779168488541709359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/5779168488541709359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/rasanya-jadi-bunda.html' title='Rasanya Jadi Bunda....'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-7037814657234560784</id><published>2009-07-24T07:48:00.000-07:00</published><updated>2009-08-06T11:53:15.186-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatanku'/><title type='text'>Saat Aku Lelah....</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Putus asa, kupandangi wajah penuh air mata yang tersedu-sedu di pojok kamarku. Sudah setengah jam lebih, dan ia tak jua berhenti menangis. Rupanya teriakanku barusan membuatnya kecewa dan sakit hati hingga ia menangis berkepanjangan. Dan kejadian serupa sudah berulang-ulang terjadi akhir-akhir ini. Hampir seminggu lebih.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mengapa akhir-akhir ini aku begitu mudah 'bertanduk'?Gampang emosi hanya karena anak-anakku tak henti membuat gaduh dan memporakporandakan rumahku?Pun mulutku begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata kasar bila mereka tak mau menuruti nasehatku, bahkan sesekali tanganku menyakiti tubuh-tubuh mungil itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Padahal setumpuk buku-buku parenting habis kubaca. Mendidik Dengan Cinta-nya Irawati, Mendidik Anak Cerdas-nya Edwards,Kitchen Table Melody-nya Agnes,Chicken Soup For The Parent's Soul,en seabreg buku lain yang kulahap agar aku bisa mendidik anakku dengan bijak. Mengapa semua yang kubaca tak lagi memberi inspirasi berarti?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Masalah-masalah yang diakibatkan oleh ulah anak-anak,ternyata hanya menjadi masalah bagi ibu ketika hati ibu sedang emosi. Manakala sedang tak dikejar weaktu, kondisi badan tak capai, dan saat hati ibu sedang senang, maka kerewelan anak akan mudah dihadapi dengan sabar," papar Irawati Istadi dalam salah satu buku parentingnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Mengendalikan emosi. Apakah itu kuncinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lalu, mengapa akhir-akhir ini aku sulit mengendalikan emosiku? Kucoba telusuri hari demi hari yang telah kulewati. Bangun di pagi hari dengan tergesa-gesa. Tak sempat (atau tak menyempatkan diri?) berasyik masyuk dengan-Nya dalam nikmatnya tahajjud, takut anak-anak keburu bangun dan merecoki aktivitas pagiku. Ba'da Shubuh (lagi-lagi) tak menyisihkan sedikit waktu untuk sekedar melantunkan dzikir Ma'tsurat atau selembar mush'af. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tiba di kantor, disibukkan banyaknya pasien yang antri untuk ditangani, hingga alpa sholat Dhuha. Ketika malam menjelang, kesibukan berkurang, pun anak-anak sudah asyik dalam dunia mimpinya,aku pun ikut terhanyut dalam pelukan malam. Tak ada waktu khusus untuk bermuhasabah atas aktivitasku hari itu, atau sekedar membaca buku, atau bermuraja'ah mengulang hafalan Qur'anku.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ternyata......Stabilitas emosiku berbanding lurus dengan kejernihan nuraniku. Manakala aku lalai memperbaiki diri dengan ibadah harianku, maka aku tak lagi menikmati manisnya 'bermujahadah' mengasuh amanah-Nya. Yang ada hanya rasa lelah, jenuh, bahkan frustasi karena mereka tak jua berhenti berulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="8176364880944786698"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i291.photobucket.com/albums/ll296/indahtammy/100_7694.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-7037814657234560784?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/7037814657234560784/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/saat-aku-lelah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/7037814657234560784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/7037814657234560784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/saat-aku-lelah.html' title='Saat Aku Lelah....'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-8036221533529563719</id><published>2009-07-24T07:44:00.000-07:00</published><updated>2009-08-06T11:53:36.588-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatanku'/><title type='text'>Ultimatum....</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;“Pulangnya jangan sampai sore lho,Mi…..,” sulungku menyatakan ‘warning’nya kala aku sedang bersiap pergi ke kantor pagi itu. Kuhitung, ini sudah peringatan yang kesekian diarahkannya padaku akhir-akhir ini. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku urung menstarter motorku, coba merenungi kata-katanya barusan. Pulang sore? Sebenarnya jam berapa sih akhir jam kerjaku? Tak sampai sore sebenarnya. Bila aku tak mampir-mampir, jam dua siang aku sudah bisa bercengkerama dengan anak-anakku di rumah. Aku punya sedikit waktu untuk tidur siang sebelum kembali disibukkan dengan aneka tugas domestikku, menyuapi dan memandikan anak-anak terutama.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lalu, mengapa Zuhdi mengeluarkan ultimatum seperti itu padaku? Pasti ada sesuatu yang salah dengan jadwal harianku. Pulang kerja, mampir ke warung belanja sayuran untuk besok pagi, kadang sekalian ke warnet yang kebetulan letaknya berdampingan dengan tukang sayur langgananku. Awalnya cuma ‘having fun’ aja,refreshing setelah seharian lelah bekerja. Tak terasa satu jam, kadang dua jam berlalu tanpa terasa. Belum lagi kalau musim pameran buku tiba. Aku bisa betah sampai malam muter-muter cari buku buat nambah koleksi taman bacaanku.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Akhirnya.....aku pun sampai di rumah dalam keadaan capai. Tak sempat memejamkan mata walau sekejap karena keempat ’permata’ku sudah antri ingin dimanja. Tak ada lagi acara baca buku bersama karena tenagaku seolah habis tak bersisa. Yang ada hanya kantuk yang makin menggelayut di mata. Celotehan mereka pun hanya kutanggapi sekedarnya. Tak jarang si sulung asyik main dengan teman-temannya hingga Maghrib tiba dan ketika pulang membawa berjuta kata ajaib yang tak sepantasnya diucapkan anak seusianya. Adiknya pun tak kalah asyiknya dengan game-game baru di komputernya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Betapa tak adilnya diriku. Pantas saja anakku protes bila jadwal kepulanganku molor dari waktu yang semestinya. Ia bisa membaca kualitas kebersamaanku yang ’hambar’ bila aku pulang telat. Berbeda bila aku pulang lebih awal, aku punya waktu istirahat untuk memulihkan staminaku, dan berinteraksi bersama buah hatiku dengan asupan tenaga baru.Terimakasih Mas Zuhdi atas ’sentilan’ tanda cintanya.......a great love for you!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-8036221533529563719?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/8036221533529563719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/ultimatum.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/8036221533529563719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/8036221533529563719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/ultimatum.html' title='Ultimatum....'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-741515865296103408.post-2593965944545144869</id><published>2009-07-24T07:39:00.000-07:00</published><updated>2009-08-06T11:53:53.843-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatanku'/><title type='text'>Berkualitaskah kebersamaan itu?</title><content type='html'>Tadi pagi,pas aku lagi sarapan,samar-samar kudengar syair lagu anak-anak dari TV. Kurang lebih begini bunyinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……Ayah dan ibu tak tahu apa sebenarnya yang kuinginkan………&lt;br /&gt;……Mereka memberiku mainan yang banyak……..…&lt;br /&gt;…. .Juga baju-baju yang bagus…….…&lt;br /&gt;…...Tapi bukan itu sebenarnya yang kuinginkan…..…&lt;br /&gt;…...Aku ingin mereka bermain bersamaku………&lt;br /&gt;…...Hingga aku tidak merasa kesepian…….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sejenak, kuhentikan makan pagiku. Mencoba mencerna kalimat-kalimat yang barusan kudengar. Ouw…aku merasa tersentil. Karena selama ini aku selalu berusaha memenuhi kebutuhan fisik anak-anakku. Selengkap mungkin. Mainan beraneka macam. Baju-baju bagus. Buku-buku pengetahuan. Plus vitamin serta obat-obatan komplit saat mereka sakit. Semua untuk memenuhi kebutuhan fisik mereka semata.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Coba kutelusuri lagi. Apa yang telah kuberikan untuk memenuhi kebutuhan psikis mereka.Waktu bersama?Hmm…pulang kerja,aku memang bersama anak-anakku. Tapi berkualitaskah kebersamaan itu?Aku kadang asyik membaca, sementara mereka pun asyik memelototi acara TV. Kali lain,aku sibuk membereskan rumah ketika mereka pun riuh bermain game computer. Atau aku ngobrol kesana kemari dengan tetangga,sedang anak-anakku kebut-kebutan dengan sepeda kecilnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tidak ada komunikasi dua arah antara aku dan anak-anakku. Kami memang bersama secara fisik, tapi aktivitas kami berlainan. Olala….sungguh selama ini aku keliru memaknai arti kebersamaan itu. Seharusnya aku mengajak mereka bicara atau berdiskusi tentang kegiatan mereka seharian tadi. Atau membacakan cerita-cerita berhikmah. Atau bermain bersama mereka. Atau apalah….yang pasti ada interaksi antara aku dan anak-anakku.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Baiklah….aku akan berusaha lebih bijak lagi menjalani kebersamaanku bersama keempat buah hatiku. I’ll try!! &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/741515865296103408-2593965944545144869?l=bundaindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bundaindah.blogspot.com/feeds/2593965944545144869/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/berkualitaskah-kebersamaan-itu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/2593965944545144869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/741515865296103408/posts/default/2593965944545144869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bundaindah.blogspot.com/2009/07/berkualitaskah-kebersamaan-itu.html' title='Berkualitaskah kebersamaan itu?'/><author><name>ithoxs &amp;amp; uut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05538533005490382043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
